lakum dinukum wa liyadin
ayat

Ayat-ayat toleransi (2): Surat Al-Baqarah Ayat 256, Pendidikan Toleransi dalam Islam

Para antropolog mengatakan bahwa masalah intoleransi di Indonesia bisa diredam dengan beberapa pendekatan. Pertama, dengan pendekatan pendidikan. Antropolog berharap penanaman nilai-nilai toleransi mesti diterapkan dari mulai PAUD sampai perguruan tinggi. Kedua, masalah ekonomi yang disinyalir menjadi pelecut sikap intoleransi masyarakat mesti menjadi perhatian pemerintah. Ketiga, masalah hukum yang dinilai belum meimplementasikan keberagaman mesti juga menjadi perhatian pemerintah.

Apa yang disampaikan antropolog di atas memang patut ditindaklanjuti oleh pemerintah. Namun sebenarnya yang paling mendasar dari segala bentuk permasalahan intoleransi adalah mindset manusia itu sendiri. Intoleransi adalah gejala yang disebabkan oleh akumulasi “penyakit” psikologis manusia. Sombong misalnya, merasa diri lebih hebat dibanding dengan yang lain. Iri hati, hasud, dan dengki juga termasuk bagian dari penyakit hati yang tidak bisa ditolerir oleh semua suku, ras, dan agama. Sehingga perlu dicermati bagaimana penanganan sikap tersebut dimulai dari diri sendiri, kelompok dan agamanya.

Secara fitrah, manusia adalah makhluk beragama. Percaya kepada sesuatu yang ghaib adalah nalurinya. Maka pondasi awal manusia dalam berkepribadian adalah agamanya. Interpretasi tentang ajaran agama pun mesti menjadi objek kajian. Jangan sampai karena ada perbedaan interpretasi malah memicu tindakan intoleransi yang lain. Maka perihal tersebut, hendaknya umat yang belum masuk dalam kategori “faqih” mesti banyak bertanya kepada ahli (QS. An-Nahl: 43) supaya ajaran yang mestinya benar tidak menjadi keliru.

Islam adalah agama yang telah berkontribusi besar terhadap peradaban dunia telah lebih dahulu mewarisi wajah toleransi ke muka bumi. Adam sebagai ciptaan manusia pertama telah meletakan pondasi awal bagaimana menjadi manusia yang adil dan bijaksana. Dilanjutkan dengan nabi-nabi penerusnya, mereka menampilkan wajah Islam yang penuh dengan cinta dan damai. Sampai kepada nabi Muhammad SAW pun wajah cinta damai masih terus menggelora dan semakin identik dengan Islam.

Spirit ajaran Islam yang kemudian memberikan inspirasi terhadap jutaan umat manusia tidak lepas dari substansi ajaran yang egaliter. Banyak ayat dalam al-Qur’an yang memberikan penegasan tentang itu, diantaranya ada di surat al-Kafirun, surat Yunus 40-41, al-Baqarah ayat 256 dan lain-lain. Islam mengajarkan tidak ada paksaan dalam agama (QS al-Baqarah ayat 256) ini yang akan jadi pembahasan dalam tulisan ini. Islam sebagai rahmatan lil alamin memberikan pencerahan kepada umatnya akan hakikat dan prinsip dalam berkeyakinan. Tidak ada paksaan dalam agama, begitu al-Qur’an menyatakan.

Asbabun Nuzul dan Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 256

Allah SWT berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Terkait dengan ayat ini, Wahbah Zuhaili mengatakan bahwa ayat ini terun berkaitan dengan seorang sahabat Anshar yang memaksa dua anaknya utntuk masuk Islam. Ibnu Abbas berkata, “ayat ini turun berkenaan dengan seseorang sahabat anshar bernama Hushain yang memaksa dua anaknya yang beragama nasrani untuk masuk islam. Namun, mereka menolak”.

Dalam riwayat lain, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Sa’id atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas berkata, “Tidak ada paksaan dalam memasuki agama Islam” ayat ini turun pada seorang laki-laki dari kaum Anshar dari bani Salim bin Auf yang biasa dipanggil Hushain, ia mempunyai anak yang beragama Nashrani, akan tetapi ia sendiri beragama Islam, maka ia berkata kepada Nabi Saw, “apakah aku harus memaksa mereka untuk masuk dalam agama Islam, sesungguhnya mereka menolak agama kecuali Nashrani. Maka Allah menurunkan ayat ini.

Adapun tafsir kata “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),” Maksudnya, janganlah kalian memaksa seseorang memeluk agama Islam. Karena sesungguhnya dalil-dalil dan bukti-bukti sudah sedemikian jelas dan gamblang, sehingga tidak perlu ada pemaksaan terhadap seseorang untuk memeluknya. Dan barang siapa yang dibutakan hatinya oleh Allah Ta’ala, dikunci mati pendengaran dan pandangannya, maka tidak akan ada manfaat baginya paksaan dan tekanan untuk memeluk agama Islam.

Subtansi Pendidikan Toleransi

Substansi dari toleransi adalah keikhlasan. Ikhlas dalam beragama tanpa ada paksaan dan campur tangan dari yang lain. Senada dengan apa yang dikatakan Quraisy Shihab bahwa “Tidak ada paksaan dalam menganut suatu kepercayaan, Allah menghendaki agar setiap orang merasakan kedamaian. Mengapa ada paksaan, padahal telah jelas jalan yang benar dan mana jalan yang sesat. Tidak ada paksaan dalam menganut agama karena telah jelas mana jalan yang lurus”.

Umar Hasyim memberikan ruang lingkup tentang bagaimana pendidikan toleransi bisa diterapkan dalam kehidupan. Penerapannya bisa diimplementasikan dengan mengacu kepada hal-hal sebagai berikut:

Pertama, Mengikuti hak-hak setiap orang, yakni setiap orang tentunya mempunyai kepentingan yang berbeda dalam kehidupan. Mengakui hak setiap orang merupakan sikap mental yang mengakui bahwa setiap manusia berhak menentukan sikap dan nasibnya masing-masing.

Kedua, Menghormati keyakinan orang lain, yakni menghormati keyakinan orang lain atau tidak memaksakan keyakinan seseorang dengan kekerasan yang akan mengakibatkan orang lain bersikap hipokrit munafik. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa hidup bermasyarakat harus bisa saling menghormati.

Ketiga, Setuju dalam perbedaan, yakni perbedaan tidak harus menimbukan pertentangan karena di dunia ini selalu ada perbedaan yang terdapat dalam setiap pikiran dan hati manusia.

Keempat, Saling mengerti, yakni tidak akan terjadi saling menghormati antar sesama orang lain bila tidak saling pengertian. Maka akibatnya akan saling membenci antara satu dengan yang lain.

Kelima, Kesadaran dan kejujuran, yakni, sikap toleransi menyangkut kesadaran dan batin seseorang, dan kesadaran jiwa menimbulkan kejujuran dan kepolosan dalam sikap dan perilaku.

Bagikan Artikel ini:

About Ainun Helty

Avatar of Ainun Helty
Alumni Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif hidayatullah.

Check Also

hari guru

Selamat Hari Guru Nasional : Kedudukan dan Sifat yang dimiliki Guru Menurut Ajaran Islam

Pada hari ini, tanggal 25 november 2022, diperingati sebagai hari guru nasional yang mana kita …

hari pahlawan

Momentum Hari Pahlawan: Makna Pahlawan dalam Islam

Pada hari ini, tanggal 10 November di peringati sebagai Hari Pahlawan. Namun persoalan gelar pahlawan …