Paganisme Arab
Paganisme Arab

Paganisme Arab dan Cara Rasulullah Mengembalikan Khittah Teologis Arab

Paganisme Arab telah tumbuh menutupi millah Ibrahim sekian lama. Hingga datanglah Muhammad yang merevolusi keyakinan dan mengembalikan khittah teologis bangsa Arab


Timur Tengah dan Jazirah Arab dikenal sebagai tempat lahirnya agama yang dipeluk sebagian besar rakyat dunia hingga hari ini. Tiga agama monoteis dari Rahim sejarah yang sama lahir di jazirah yang tandus ini. Sejarah itu dimulai dari kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail ketika membangun Ka’bah sebagai rumah Tuhan dan menjadi kiblat umat muslim hingga saat ini.

Dengan perjuangan yang keras, agama atau ajaran (millah) Ibrahim mampu membawa manusia mengenal Sang Pencipta yang sesungguhnya. Nabi Ibrahim berhasil mengubah sesembahan masyarakat pada masanya dan mengajak kaumnnya untuk menyembah Allah dan mengembalikan fitrah spiritual umat manusia.

Namun, perjuangan Ibrahim dalam menegakkan panji tauhid tidak berlangsung lama. Makkah dan Ka’bah yang telah dibangun sebagai rumah pemujaan Allah berubah menjadi kawasan pagan dan politeis. Datanglah seorang bernama Amr bin Luhay. Dia adalah salah seorang pimpinan bani Khuza’ah yang juga bertempat tinggal di Tanah Hijaz. Amr adalah orang yang pertama kali membawa dan mengenalkan masyarakat arab kepada berhala.

Amr bin Luhay terkenal dengan kepribadiannya yang baik, gemar berbuat kebaikan, tidak pernah berbuat ingkar dan rajin bersedekah. Karena kepribadiannya itulah, Amr menjadi orang yang disukai dan dipercaya banyak orang. Dahulu Amr juga merupakan umat yang tunduk kepada ajaran yang di bawa oleh Nabi Ibrahim.

Sejarah Paganisme Arab

Konon, keyakinan Amr didapatkan dari tanah Syam. ketika Amr melakukan perjalanannya menuju negeri Syam di mana masyarakat disana sebagian besar penyembah berhala. Amr bertanya kepada orang-orang Syam apa yang mereka lakukan di depan patung-patung tersebut. Warga syam memberi tahu Amr mereka sedang melakukan persembahan kepada Tuhan mereka.

Baca Juga:  Empat Hewan yang Meski disembelih dalam Diri setiap Manusia Menurut Maulana Jalaluddin Rumi

Alasannya karena ketika mereka membutuhkan air maka berhala tersebut mengabulkan doa mereka dengan memberikan hujan bagi kebun dan hewan peliharaan mereka. Karena pengetahuan yang tak berdasar itulah, Amr meminta ijin pada mereka untuk membawa salah satu patung yang dinamai “Hubal” untuk dibawa dan dikenalkan pada masyarakat Arab. 

Karena minimnya wawasan tentang keagamaan, masyarakat Arab mempercayai apa yang di sampaikan Amr tentang patung tersebut. Tak hanya orang Makkah, orang Hijaz pun pada akhirnya banyak yang mengikuti apa yang diajarkan Amr bin Luhai pada penduduk Makkah.

Selain itu Amr bin Luhay juga membuat dua berhala lainnya bernama Asaf dan Nailah dikultuskan kepada orang yang sedang thawaf di Kabah. Dua patung inilah yang dibawa oleh Amr bin Luhay ke samping Ka’bah. Orang-orang yang sedang thawaf di Ka’bah pada saat itu mengusap kedua berhala tersebut, di mulai dari Asaf dan diakhiri dengan Nailah.

Amr membuat banyak berhala untuk di bagikan kepada kabilah-kabilah seusai mereka melaksanakan ibadah haji. Maka merekapun membawa berhala-berhala dari Amr ke rumah mereka masing-masing.

Di situlah awal mula penyebaran berhala secara besar-besaran dimulai. Di setiap rumah dan kabilah pasti terdapat berhala didalamnya. Dan seiring berjalannya waktu masyarakat Arab mulai memajang berhala dan patung di Masjidil Haram. Millah Ibrahim pun terkubur di tengah maraknya penyembahan berhala di kota Makkah.

Entah apa yang membuat masyarakat Arab sangat mempercayai tindakan Amr bin Luhay sebagai kepercayaan yang benar. Padahal esensi yang ditawarkan Amr bin Luhay sama sekali tidak berhubungan dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim mengajarkan tauhid dan iman kepada Allah. Amr membagi-bagikan berhala dengan nama yang berbeda – beda. Padahal dahulu Nabi Ibrahim banyak menghancurkan patung berhala yang ada di sekitarnya.

Baca Juga:  Pemikiran Keislaman Fazlur Rahman

Revolusi Teologis dan Cara Islam Membangun Masyarakat

Bangsa Arab banyak dikenal sebagai bangsa besar yang memiliki hubungan darah secara langsung dengan Nabi Ibrahim. Namun, saat itu mereka mengalami masa krisis peradaban, krisis pengetahuan, krisis tauladan, dan krisis moral di bawah pengaruh Amr bin Luhay. 

Bahkan secara terang-terangan Rasulullah pernah bercerita kepada sahabatnya soal Amr bin Luhay ini. Seperti yang pernah diriwayatkan Sahabat Abi Hurairah :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ عَامِرٍ الخُزَاعِيَّ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ، كَانَ أَوَّلَ مَنْ سَيَّبَ السَّوَائِبَ»

Artinya : “Rasulullah bersabda : Aku melihat ‘Amr bin Amir Al-Khuza’i menyeret ususnya di neraka, ia adalah orang pertama yang membuat aturan unta Sa’ib” (H.R Abu Hurairah).

Kehidupan pagan dan kesesatan teologis yang dialami bangsa Arab telah mendorong Rasulullah untuk memohon hidayah dan jalan kepada Allah. Muhammad banyak menghabiskan waktu untuk berefleksi diri di gua Hira’ untuk menjauhi tradisi ini. Tentu tidak semua masyarakat Arab jatuh dalam paganisme dan politeisme. Ada sebagian kecil mereka yang masih mempertahankan agama hanif atau millah Ibrahim.

Ketika pengangkatan Muhammad sebagai Rasul dideklarasikan, ajaran pertama yang menghujam masyarakat Arab adalah persoalan teologis. Tauhid yang pernah diajarkan Ibrahim kembali menggelegar di kota Makkah. Rasulullah mengembalikkan khittah beragama bangsa Arab yang sesungguhnya dari berhalaisme ke tauhid. Karena itulah bisa dibaca bahwa ciri ayat-ayat makiyah yang turun di Makkah di awal kenabian adalah menyeru pada keimanan dan tauhid.

Tentu misi ini tidak mudah. Rasulullah harus berhadapan dengan berbagai kepentingan. Politik dan agama telah bercampur baur dalam struktur masyarakat Arab dan kepentingan politik ekonomi penguasaan kota Makkah. Rasulullah menghadapi berbagai macam tantangan, hambatan, siksaan dan derita baik diri maupun pengikutnya. Apakah Rasulullah berhasil kala itu?

Baca Juga:  Ulama yang Sejati menurut Imam Syafi'i

Tetapi Rasulullah bukan Kalah. Rasul mengalah demi tidak terjadi pertumpahan darah. Hijrah adalah pilihan strategis dan perintah Tuhan yang harus dijalani oleh Rasul dan pengikutnya. Tidak cukup kekuatan Rasul untuk mengajak kaum yang buta mata hatinya seketika itu. Perjuangan baru dimulai dari Madinah.

Hingga pada masanya Makkah ditaklukkan. Penaklukan itu bukan hanya menandai kemenangan yang kaffah bagi umat Islam, tetapi juga kemenangan Rasulullah untuk mengembalikan khittah keagamaan masyarakat Arab di kota Makkah. Berhala pun dihancurkan di sekeliling Ka’bah. Tetapi masyarakat yang pernah membenci dan menentang Rasul tidak diusir dan dihancurkan. Mereka dimaafkan dan dilindungi dalam naungan Islam. Itulah Islam dan cara Rasulullah menaklukkan hati umat.

Apakah semua tradisi masa lalu dihancurkan. Tidak. Ibadah haji dan ritual lainnya yang tidak bertentangan dengan tauhid terus dilestarikan bahkan menjadi bagian dari ritual Islam. Hingga saat ini pun haji, thawaf, dan kurban menjadi bagian dari ibadah. Islam bukan ingin membuang sejarah masa lalu, tetapi Islam menginternalisasi tauhid masuk sebagai akar dari sejarah dan tradisi Arab.

Bagikan Artikel

About Dodik Triyanto

Avatar