akidah corona
akidah corona

Apa Akidahnya Corona? : Mencari Pijakan Teologis atas Bencana

Covid-19 atau virus corona menantang pandangan dan pemikiran kalangan agamawan, khususnya agama Islam. Kemunculan bencana wabah ini telah menimbulkan ragam sikap umat Islam dalam merespon dari sudut pandang keagaman yang berbeda-beda.

Sebagian berkata “saya tidak takut corona, tapi takut hanya pada Allah. Bahwa kematian sudah diatur oleh Allah”. Kelompok ini dinamakan pengikut teologi jabariyah, semuanya terserah pada Allah. Mereka meyakini kalau belum ditakdirkan mati, tanpa masker, tanpa cuci tangan ya tidak akan mati.

Akibat cara pandang teologis tersebut, protokal dari pemerintah pun tidak dipatuhi. Mudik ke kampung, tidak melakukan social distancing, tidak menjaga jarak dan hidup seperti biasa dengan meyakini kematian sudah diatur oleh Allah SWT. 

Kelompok lain mengatakan “Apa yang menurut akal dari pihak kesehatan, dokter, ilmuwan itu diikuti dan itu bukan karena takdir (ketentuan) Allah. Kelompok ini dinamakan aliran teologi Mu’tazilah (mengedepankan akal). Mu’tazilah adalah kelompok yang memisahkan diri dari orang lain.

Awal mula kelompok ini yakni pemisahan seorang tokoh Mu’tazilah bernama washil bin Atha, dari majelis Hasan Al Basri. Sering pula kelompok ini dijuluki dengan kelompok Qodariyah dan Adliyyah. Akidah ini bertolak belakang dengan jabariyah.

Hal ini berbeda dengan kaum ahlus sunah wal jamaah (aswaja) yang dalam bidang teologi atau akidah mengikuti Abu Hasan Al Asy’ari (paham Asy’ariyah) dan Abu Mansur Al Maturidy dikenal dengan pengikut Maturidiyah. Paham ini mengedepankan sikap moderat, mengambil jalan tengah.

Sehingga dalam kasus covid-19, manusia harus melakukan ikhtiar menghindari virus, menjaga kebersihan dan bertawakal (pasrah diri) kepada Allah. Sehingga apapun yang diperintah oleh pemerintah dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiyar.

Dalam akidah aswaja juga dikenal sifat wajib, mustahil dan jaiz Allah. Sifat jaiz Allah hanya satu yakni mumkin (bisa mengadakan virus corona dan tidak mengadakan virus corona) semua tergantung hak preogatif Allah.

Baca Juga:  Penolakan Jenazah Korban Corona: Kewaspadaan atau Kepanikan yang Tak Islami?

Dalam akidah ini, ada turunan bidang fikihnya sebuah kaidah dar ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbi masholih (menghindari kerusakan lebih baik dari pada mencari kemaslahatan). Sehingga kelompok ini menerima ketika ada wabah, shalat jumat diganti dengan shalat dhuhur di rumah masing-masing.  

Dari beragam akidah di atas, sehingga banyak menemukan kasus orang-orang yang beragama datang ke masjid mencaci maki takmir masjid bahkan mencaci pemerintah karena telah menutup masjid untuk shalat Jum’at. Bahkan ada kasus dengan memaksakan shalat Jumat. Akibatnya, 3 orang positif yang menyebabkan seluruh jamaah masjid Kelurahan Maphar, Kecamatan Tamansari Jakarta Barat dikarantina karena masuk kategori ODP (Orang dalam Pengawasan).  

Mencairkan Kekauan Beragama

Kepercayaan kalau sudah melekat dalam hati dan pikiran, sulit untuk dijelaskan kembali dengan ajaran di luar mereka. Fanatisme dalam berakidah itu sah, namun ketika fanatisme membutakan diri terhadap fenomena, sampai-sampai menafikan kebenaran di luar mereka itu yang salah. Fanatisme bagi Mohammed Arkoun, pemikir Islam kontemporer kelahiran Al-Jazair, merupakan penyakit kekakuan mental beragama yang disebabkan oleh doktrin dogmatis. 

Beragam perspektif masyarakat dengan adanya covid-19 setidaknya dibutuhkan pikiran yang tenang, ilmu yang luas, dan wawasan yang memadai. Maka dalam hal ini patutlah kiranya mengikuti kepada orang yang paling paham akan hal ini. Bukankah dalam agama diajarkan fasalu ahla dzikri in kuntum la ta’lamun (bertanyalah pada ahlinya jika kalian tidak mengerti). Ketika menghadapi sebuah perbedaan maka ikutilah pemerintah.

Kita memang harus menghindari-meminjam istilah Prof. Masdar Hilmy dengan-anakronisme perspektif. Yaitu, orang yang menggunakan cara pandang yang kurang tepat dalam menyikapi dan merespon penyebaran virus covid-19. Melakukan shalat berjamaah di masjid karena mendapat pahala berlipat, namun ketika berkumpul dengan orang banyak dan berpotensi untuk menyebarkan virus yang mematikan maka harus dijauhi dan beribadah di rumah.

Baca Juga:  Ragam Makna dan Bentuk Kata Khalifah dan Khilafah

Meski ada multi tafsir cara beragama dalam wabah pandemic covid-19, sebaiknya mengedepankan inklusivitas (keterbukaan) dan kemaslahatan bersama. Tashoruful imam ‘ala ro’iyatihi manutun bil maslahah (Kebijakan sebuah pemimpin itu mengedepankan kemaslahatan umat).

Sungguh tidak mungkin sekaliber tokoh yang duduk MUI, tokoh yang duduk di kementerian agama, para Kyai NU dan Muhammadiyah, Syekh Al Azhar Mesir dalam berfatwa yang menjerumuskan umatnya. Tetap waspada, ikhtiyar dan tawakkal dalam menghadapi cobaan.    

Bagikan Artikel ini:

About Yoyok Amirudin

Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang

Check Also

damai di tengah perbedaan

Damai di Tengah Perbedaan

“Tuhan menciptakan kalian laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku supaya kalian saling mengenal…” (Q.S. Al Hujurat: …

self management

Self Management: Cara Islami Menghadapi Masalah

Cobalah anda melihat bagaimana teman anda membahagiakan dirinya ketika dalam kesusahan. Ada yang pergi ke …