damai di tengah perbedaan
Ilustrasi kerukunan umat beragama

Damai di Tengah Perbedaan

“Tuhan menciptakan kalian laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku supaya kalian saling mengenal…” (Q.S. Al Hujurat: 13)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita tentang arti pentingnya kolaborasi dan sinergi. Tidak ada ceritanya manusia hidup sendiri tanpa butuh bantuan orang lain. Baju yang kita pakai dijahit oleh penjahit. Handphone yang kita punya adalah produksi luar negeri. Genteng untuk menutupi matahari di atas rumah kita, sehingga tidur disiang hari menjadi nyenyak dibuat oleh orang lain. Makanan yang kita makan sehari-hari juga di tanam oleh orang lain. Dan kebutuhan primer sekunder manusia lainnya, yang melibatkan manusia.

Dengan alasan itu, sangat jelas antar manusia satu dengan yang lain saling terkoneksi, simbiosis mutualisme. Allah menjadikan manusia makhluk sosial, dengan kata lain satu sama lain saling membutuhkan. Ini membuktikan, manusia adalah makhluk sosial. Setelah mengenal dunia luar, membuka wawasan, membuat pikiran terbuka dan endingnya akan menerima sebuah perbedaan. Oleh karenanya, satu hal yang kurang dari kita adalah menerima sebuah perbedaan di luar kita. Baik berbeda agama, berbeda pemikiran, berbeda budaya atau bahkan berbeda aliran dalam satu agama.

Nabi Muhammad SAW di dalam haditsnya di katakan al ikhtilafu umati rohmatun (perbedaan dalam umatku adalah rahmat). Perbedaan yang terjadi di lingkungan kita, bukan untuk dijadikan sebuah pemicu terjadinya peperangan, kekerasan, dan intoleran. Justru dijadikan kekuatan untuk membangun sebuah peradaban. Pelangi akan indah berwarna-warni, apa jadinya jika pelangi hanya satu warna. Begitupula kehidupan di dunia ini, dengan bermacam budaya, agama, suku dan Bahasa menjadikan dunia menjadi indah dan damai.

Perbedaan juga bukan penghalang untuk saling mengenal satu sama lain. Kata “li ta’arofu” menekankan pada kita untuk membuka diri dari pandangan sempit dan berfikir hanya diri kita yang maha benar. Ketika menganggap dunia itu hanya lingkungan kita, suku kita, agama kita, betapa sempitnya hidup ini. Dengan keanugerahan Allah SWT melalui ciptaanNya yang bermacam-macam ini, memiliki hikmah untuk senantiasa bersikap inklusif. Inklusif bermakna keterbukaan, dengan menerima segala perbedaan dari dirinya. Lawan kata dari inklusif adalah eksklusif. Sikap eksklusifitas inilah yang menyebabkan seseorang tertutup dengan dunia luar. Apapun yang berbeda, tidak mau menerimanya.

Baca Juga:  Menyoal Status Haram Meniru Pemerintahan Nabi ?

Lihatlah bagaimana Nabi Muhammad SAW mampu menciptakan kedamaian di tengah perbedaan pada lingkungannya di Madinah. Sebelum kedatangan Nabi, di Madinah terdapat suku yang selalu berperang yaitu suku Aus dan Kasraj. Disana juga terdapat beberapa agama, nabi Muhammad SAW mengajarkan arti penting bekerjasama dan kolaborasi untuk mencapai sebuah ketenangan dan kesejahteraan. Perbedaan bagi Nabi Muhammad SAW mampu dikomunikasikan, bukan sebagai pemicu untuk kekerasan.

Dari sini kita mengerti arti penting dari sebuah kolaborasi dan komunikasi di tengah perbedaan. Lihat juga bagaimana para funding father (dari   tokoh Islam) Indonesia di saat memutuskan menghapus 7 kata sila pertama Pancasila dari piagam Jakarta. Sikap ini mengajarkan tentang menurunkan sikap egoisme kita untuk sebuah kemaslahatan bersama.  Perdamaian yang disepakati para pendiri bangsa ini adalah bentuk dari meramu dan membingkai sebuah perbedaan demi keutuhan bangsa Indonesia.

Inilah yang harus dipahami generasi saat ini. Tidak hanya bermodalkan serban, baju putih ataupun label ustadz, habib pada dirinya, namun akhlaknya jauh dari Nabi Muhammad SAW. Rumah Indonesia tidak kecil, sangat besar dan multikultur. Kehidupan yang serba berwarna-warni sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui piagam madinahnya. Perbedaan di masyarakat Indonesia juga sudah dicontohkan para pendiri bangsa ini melalui piagam Jakarta. Sehingga generasi sekarang merasakan indahnya berbangsa dan bermasyarakat tanpa ada rasa ketakutan dan kecemasan.

Fenomena yang terjadi di sekitar kita adalah bagian dari kesepatakan masyarakat. Bisa juga bagi anda baik,  bagi di luar komunitas anda kurang baik, begitu juga sebaliknya. Meminjam teorinya Peter L. Berger tentang social construction (konstruksi sosial) menyatakan bahwa apapun yang terjadi ini adalah bentukan dan ketetapan dari komunitas masyarakat sosial. Dibutuhkan sikap kedewasaan untuk memahami arti dari perbedaan.

Baca Juga:  Logika Balas Dendam Tidak Ada dalam Semangat Jihad

Ini pun juga terjadi perbedaan yang dalam agama Islam. Baik perbedaan aliran atau pun madzhab. Dalam perbedaan ini Ibnu Hajar al Haitami mengingatkan kepada kita tentang kaidah ro’yuna showabun yahtamil al khotho’ wa ro’yu ghorina khotoun yahtamilu ash showab (Pedapat kami benar, mungkin bisa menjadi salah. Pendapat orang lain salah, bisa juga membawa kebenaran.) Betapa inklusifnya dulu para sahabat dan tabi’in dalam memahami sebuah perbedaan. Inilah budaya yang harus dilestarikan, tidak ada di dunia yang tidak sepakat akan sebuah perbedaan. Berbeda dalam pemikiran, tapi satu dalam masalah kebangsaan.

Bagikan Artikel ini:

About Yoyok Amirudin

Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang

Check Also

self management

Self Management: Cara Islami Menghadapi Masalah

Cobalah anda melihat bagaimana teman anda membahagiakan dirinya ketika dalam kesusahan. Ada yang pergi ke …

memelihara anjing

Menyayangi Anjing sebagai Sunnah Nabi

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 13 Februari 2021 di Youtube. Seorang Ustadz bernama …