Memelihara Anjing
Memelihara Anjing

Menyayangi Anjing sebagai Sunnah Nabi

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 13 Februari 2021 di Youtube. Seorang Ustadz bernama Yahya Waloni mengakui dengan sengaja menabrak anjing karena dianggapnya hewan najis. Hal ini membuat viral jagat dunia maya media sosial. Lantas bagaimanakah yang sebenarnya bersikap kepada hewan yang dianggap najis.

Apakah memang seperti yang dicontohkah Ustadz Yahya sikap Islam terhadap anjing? Apakah sehina itukah anjing, sampai-sampai ditabrak dengan alasan hewan yang najis? Andaikata anjing bisa bicara, tentu ia ingin diciptakan seperti burung yang bebas terbang di langit Allah. 

Dalam ajaran agama Islam, tugas manusia dalam surah Al Baqarah ayat 30 adalah manusia menjadi khalifah (pengganti) pemimpin di bumi. Sehingga perannya di bumi luar biasa, manusia dituntut untuk mampu menjadi pengendali segala yang ada dibumi. Kedamaian antar sesama manusia, kelestarian lingkungan, dan keberlangsungan kehidupan hewan ini menjadi tupoksi manusia di dunia. 

Manusia juga harus memiliki prinsip dalam berkehidupan. Setidaknya tiga hal: Pertama, Hablu minallah (hubungan manusia dengan Allah). kedua, Hablu min an naas (hubungan manusia dengan  manusia yang lain), dan yang ketiga hablu ma’a alam (hubungan manusia dengan alam sekkitar). Hablu ma’a al alam ini membicarakan tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan alam sekitar. Baik bersikap dengan hewan, tumbuh-tumbuhan, gunung, laut, daratan dan makhluk lainnya. Dalam Al Quran ayat 44, Allah SWT berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Artinya: “langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tidak bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Baca Juga:  Dusta Mimpi Bertemu Rasulullah Itu Berat dan Keji serta Ancamannya Neraka, Maka Hati-hatilah!

Habib Quraiys Shihab mufasir terkini, menulis dalam kitab tafsirnya Al Azhar Jilid 7 menjelaskan tentang ayat yang bunyinya “tidak ada suatu makhluk pun yang tidak bertasbih dengan memuji-Nya”. Bahwa Al Biqa’i merujuk pada hadits yang diriwatkan Bukhori tentang mukjizat Nabi Muhammad SAW ketika air keluar dari celah jari-jarinya beliau sebagaimana disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud yang menyatakan “Kami mendengarkan tasbihnya makanan ketika dimakan”, dan tentang hadits yang di riwayatkan Al Bazzar tentang Tasbihnya batu-batu”. Al Biqa’i berpendapat bahwa hanya orang-orang khusus dapat mendengarkan tasbihnya makhluk hidup dan benda ciptaan Allah SWT. Tentu, makanan dan batu saja bertasbih apalagi hewan anjing yang makhluk hidup.

Dikisahkah dalam kitab Subul Al Huda wa Rasyad Juz 5 karya Syekh Sholihi Asy Syami, di saat Nabi Muhammad SAW sampai di Arab ketika Nabi menuju Makkah. Nabi melihat seekor anjing betina sedang menyusui anak-anaknya. Kemudian Nabi Muhammad memerintahkan Jamil bin Suraqah untuk berdiri menjaga anjing betina dan anak-anaknya agar tidak diganggu oleh pasukan. Ini yang dinamakan dengan hadits atau Sunnah Nabi. Sunnah qauliyah (Sunnah yang diucapkan oleh Nabi). Nabi menunjukkan kecintaannya kepada anjing dengan menyuruh sahabatnya untuk menjaga anjing, agar tidak diganggu oleh orang.

Nabi tidak hanya mencintai kepada manusia saja, namun kepada makhluk Allah sekalipun berupa anjing, Nabi tetap menyayangi. Begitu juga Nabi sayang kepada hewan yang lain, hal ini dibuktikkan dengan sayangnya Nabi Muhammad SAW kepada binatang semut. Suatu ketika Nabi melihat semut yang dibakar oleh sahabat. Nabi bertanya: “Siapa yang membakar ini?”. Kami menjawab: “ Kami” Nabi bersabda: “tidak boleh menyiksa dengan api, kecuali (Allah) yang menciptakan Api” (HR. Abu Dawud).

Baca Juga:  Jika Salah Tafsir Al-Maidah Ayat 44

Jika ada yang mengaku Ulama’ atau Ustadz namun perilakunya jauh dari yang dicontohkan Nabi maka Ulama dan Ustadz tersebut harus banyak belajar lagi, dengan mengaji kepada orang yang lebih alim, dengan membaca kitab bagaimana Nabi menyayangi hewan dan baca juga sirah Ashabul Kahfi tentang anjing bernama Qitmir yang menemani tujuh pemuda bersembunyi di dalam gua dijanjikan Allah masuk surga. Cerita ini tercatat dalam al Quran surah Al Kahfi ayat 22.

Bahkan kita harus belajar dari sikap anjing, hal ini dijelaskan Dalam kitab Kasyifatu Saja syarah Safinatu An Naja bahwa di dalam anjing terdapat perilaku yang harus kita tiru, seperti: saat malam hari anjing tidurnya sedikit, ini merupakan sifat orang-orang suka tahajud. Anjing rela ditempatkan pada posisi yang rendah, ini merupakan tanda orang-orang yang ridho. Jika anjing di usir seribu kali, maka ia senantiasa berada di depan pintu rumah tuannya, ini menandakan sikap orang-orang yang jujur.

Lantas, masihkah kita akan menyiksa hewan ciptaan Allah, walaupun hewan anjing. Penulis yang tinggal di Taiwan yang sedang belajar melihat anjing setiap hari di jalan. Apakah akan saya tabrak anjing tersebut? Itu sangat jauh dari ajaran agama Islam.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Yoyok Amirudin

Yoyok Amirudin
Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang