ulama mencari solusi
ulama salaf

Ketika Wabah Melanda, Ulama Dulu Sibuk Mencari Solusi, Kita Sibuk Mencari Konspirasi

Apa yang sudah kita usahakan di saat Covid-19 berlangsung cukup lama bahkan sampai bermutasi dengan bentuk varian-varian baru yang lebih ganas? Apa sumbangsih yang telah kita berikan? Apakah kita juga sudah mencari solusi pandemi atau justru provokasi?

Fakta nyata, umat Islam di Indonesia masih ada yang tidak percaya terhadap Pandemi ini meskipun jutaan manusia telah menjadi korban. Lebih dari itu, malah sampai menuding wabah Corona tak lebih hanya konspirasi pemerintah yang didesain untuk tujuan tertentu, bisnis dan lainnya. Bahkan aturan yang membatasi ibadah berkerumun dianggap melarang ibadah dan menjauhkan diri dari Tuhan.

Entahlah, hiruk-pikuk keberagamaan kita di Nusantara selalu diwarnai dengan suara-suara sumbang yang jauh dari tujuan beragama yang semestinya. Kalau sedikit saja kita meluangkan waktu untuk membaca sejarah, akan segera menemukan bahwa wabah atau pandemi bukan terjadi hanya saat ini.

Dari dulu sejarah telah mencatatkan tinta hitam beberapa kali bencana wabah telah menimpa dunia, bahkan skalanya lebih hebat dari pandemi saat ini. Ketika wabah melanda ulama menghabiskan waktu untuk menulis karya mencari solusi pandemi.

Wabah-wabah penyakit pembunuh massal telah terjadi sejak zaman Yunani Kuno. Wabah Pandemi adalah sejarah hitam yang berulang. Pandemi pertama adalah wabah Justinian pada tahun 541-542 M yang mewabah di wilayah Kekaisaran Romawi Timur.

Setelah itu, di masa Nabi muncul wabah Shirawaih, wabah pertama setelah Islam turun melalui Nabi Muhammad. Kemudian terjadi wabah Amwas, wabah al Jarif, wabah al Fatayat, wabah al Asyraf, wabah Maut Hitam, wabah Bombay, flu Spanyol dan lain-lain.

Ini fakta sejarah tak terbantahkan. Namun ada perbedaan dalam menyikapi wabah yang terjadi. Sebelum Covid-19 umat Islam tidak terbelah pada wacana percaya atau tidak. Semua percaya. Bahkan para ulama berada di garis paling depan melakukan upaya-upaya konkrit untuk mengatasinya. Dan, bahkan banyak sekali dari kalangan para ulama atau keluarga mereka yang menjadi korban.

Baca Juga:  Hubungan Etika dan Agama

Namun, tidak sedikit dari kita justru sibuk mencari konspirasi dan menebar provokasi. Jika memang tidak mampu membantu memberikan solusi, setidaknya tidak melakukan provokasi.

Karya Ulama untuk Mencari Solusi Pandemi

Di tengah duka lara karena wabah-wabah tersebut, para ulama berusaha mengkajinya, menafsirkannya untuk mencari penyebabnya dengan pendekatan medis dan teologis secara bersamaan. Artinya ulama sangat concern untuk mencari solusi pandemi.

Tidak hanya menafsirkannya secara teologis yang sepenuhnya murni creator Tuhan dan kita pasrah menerima kematian. Tapi juga kajian medis untuk upaya mencari penyebab dan obatnya. Termasuk juga langkah-langkah preventif seperti isolasi mandiri seperti dikupas oleh Ibnu al Khatib dalam karyanya yang khusus membicarakan wabah, Muqni’at al Sail’an al Marad al Hail.

Ada sederet ulama-ulama beken yang tetap menghasilkan karya di tengah-tengah Pandemi yang sedang mengganas pada masa hidup mereka masing-masing. Di antaranya ada Ibnu Al Wardi walaupun sayang karyanya ini tidak ditemukan, namun beruntung sempat disunting dalam bentuk puisi oleh filologi asal Palestina. Berikutnya tercatat nama Ibnu Hajalah, menulis Daf’u al Niqmah saat terjadi wabah Maut Hitam. Ibnu Hajar al ‘Asqalani juga demikian, tidak diam saja ketika wabah melanda. Ulama yang kehilangan tiga putrinya karena wabah ini menulis Badzlu al Ma’un fi Fadhli al Tha’un.

Karya-karya mereka ini yang kemudian menginspirasi generasi berikutnya merumuskan dan mengembangkan ilmu kedokteran untuk mencari obat penyembuhnya. Disamping itu juga mereka menuturkan langkah-langkah preventif untuk memutus rantai penyebaran. Disamping berdoa, menurut mereka yang ditulis dalam karya-karya tersebut adalah menenangkan jiwa dan tidak panik, menjaga imunitas supaya tetap sehat, dan isolasi mandiri.

Inilah tradisi generasi umat Islam sebelum kita, bukan hanya sekadar percaya terhadap wabah yang sedang melanda, tapi juga melakukan upaya-upaya. Berbeda jauh dengan sebagian umat Islam saat ini di masa Pandemi yang sedang terjadi yang menganggap hanya ilusi dan konspirasi.

Baca Juga:  Cinta Tanah Air Bukan Ashabiyah

Tidak sedikit kemudian memprovokasi seolah aturan adalah pelarangan. Seolah pembatasan merupakan bentuk permusuhan. Ironis sekali. Dalil agama dikeluarkan bukan untuk menguatkan imunitas, tetapi justru mengabaikan upaya dan aturan yang ada.

Kalau begitu kita telah mengalami langkah mundur jauh kebelakang? Benar. Yang semestinya melanjutkan tradisi ilmiah ulama-ulama tempo dulu justeru mengabaikan. Sebelum terlambat, sebaiknya kita semua secepatnya berbenah diri, sebab, mengutip perkataan Dr. KH. Afifuddin Muhajir wakil pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukurejo, “Seandainya setiap orang memiliki kesadaran sendiri untuk mematuhi peokes, tentu tidak diperlukan aturan ribet seperti peniadaan shalat Jum’at dan Jama’ah”.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

kiamat

5 Pertanyaan Allah Kepada Manusia di Hari Kiamat

Mati itu pasti. Setiap orang, setiap yang bernyawa pasti mati. Selain Allah, semua pasti mati. …

Toa masjid

Apakah Perintah Mengeraskan Suara Adzan Harus Memakai TOA?

Sejak pertama kali ditemukannya teknologi mutakhir dengan Branding TOA, hingga saat ini ia menjadi branding …