ibnu hajar al asqalani
ibnu hajar al asqalani

Mengenal Ibnu Hajar Al-Asqalani : Ulama yang Menulis Syarah Shahih Bukhari

Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah seorang ahli hadis bermadzhab syafi’I yang terkemuka nama asli beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Hajar, tetapi lebih dikenal dengan Ibnu Hajar AlAsqalani. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Fathul Baari yang merupakan penjelasan dari kitab Shahih Bukhari. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam mensyarh hadis tentu ada ketentuanketentuan yang harus dilakukan baik hadis qawli maupun fi’li. Di dalam mensyarah hadis Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menggunakan metode yaitu Metode Tahlily

Biografi Riwayat Hidup Ibn Hajar al-Asqalani

Nama beliau yang sebenarnya adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Hajar. Selain daripada nama sebenarnya ini beliau juga dikenali sebagai Ibnu Hajar, al-Kinani dan al-Asqalani. Asqalani atau Asqalan mempunyai pengertian tertentu. Menurut Ya’qut dari sudut bahasa Asqalan termasuk bagian tertinggi pada kepala. Selain itu Asqalan juga merupakan satu kawasan tinggi yang terletak di tepi pantai diantara Gaza dan Beit Librin, kawasan yang dahulunya terletak di bagian tertinggi di wilayah Palestin. Ini menunjukkan bahwa keturunan Ibnu Hajar berasal dari Asqalan di Palestin. Walaupun tidak dapat dipastikan bilakah keturunan keluarga Ibnu Hajar ini berpindah dari Arab ke Asqalan dan kemudian berpindah pula dari [ada Asqalan ke Mesir.

Ibnu Hajar dilahirkan di Qaderah pada tanggal 12 Sya’ban 773 H. Beliau dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang alim akan ilmu Islam khususnya di bidang Hadits dan Fiqh. Hal ini dapat dibuktikan dari nasabnya. Datuk dari sebelah ayah Ibnu Hajar bernama Utsman bin Muhammad yang bermadzhab Syafi’I pernah menjadi ketua mufti di Iskanddariyyah. Ayahnya pun yang bernama Nur al-Din Ali merupakan seorang sarjana di bidang fiqh, bahasa dan kesusastraan. Beliau juga seorang penyajak yang disanjungi dan mempunyai beberapa antologi yang termasyhur seperti Diwan al-Haram yang mengisahkan pujian terhadap Nabi dan kota Mekkah.

Ibnu Hajar memiliki seorang kakak perempuan bernama Umm Muhammad Sitt al-Rakb. Tiga tahun setelah Umm dilahirkan, Tujjar, ibu Ibnu Hajar melahirkan beliau. Setelah Tujar melahirkan Ibnu Hajar, Tujjar meninggal dunia. Kematian Tujjar disusul oleh Ali, ayah Ibnu Hajar pada tahun 777 H/1375M. Setelah kematian kedua orang tuanya, Ibnu Hajar diasuh oleh kakaknya, yang dianggap sebagai ibu setelah kepergian ibu kandungnya. Di samping itu, melalui wasiat bapaknya Ibnu Hajar dan kakaknya telah dipelihara dengan baik dan penuh kasih sayang oleh kerabatnya, yaitu Khuwaja Abu Bakar bin Ali al-Kharubi yang merupakan seorang saudagar besar di Mesir. Selain itu, mereka dijaga pula oleh Sham al-Din Ali bin al-Qattan al-Misri, yang merupakan seorang ulama terkenal dan sahabat karib ayahnya.

Baca Juga:  TGH Shaleh Hambali : Sang Guru Dari Tanah Sasak dalam Menyebarkan Islam Ahlus Sunnah Waljama'ah

Aktivitas keilmuwan Ibnu Hajar Al-Asqalani

Ibn Hajar al-Atsqalani memulai pendidikanya ketika beliau berumur 5 tahun di bawah bimbingan ayahnya sendiri. Pada umur 9 tahun, beliau sudah menghafal al-Qur’an di bawah bimbingan Sadr al-Din al-Sufti. Ketika Ibn Hajar al-Atsqalani berumur 12 tahun, beliau pergi ke Mekkah dengan al-Kharrubi untuk mengerjakan haji pada tahun 784 H/1382 M dan menetap di Mekkah selama 2 tahun, di Mekkah beliau sempat berguru kepada Sheikh Afif al-Din al-Naisabyry yang mengajarinya kitab Shahih al-Bukhari.

Ibn Hajar dan al-Kharrubi meninggalkan Mekkah dan pulang ke Mesir pada tahun 786 H. Setahun kemudian al-Kharrubi meninggal dunia dan kematianya menyebabkan Ibn Hajar tidak meneruskan pengajianya selama tiga tahun. Lalu, pada tahun 790 H Ibn Hajar menyambung pengajianya dengan Muhammad al-Qattan al-Misri. Bersama Muhammad al-Qattan al-Misri, Ibn Hajar mempelajari asas-asas ilmu Ushul Fiqh, ilmu bahasa dan matematik. Ketika berumur 19 tahun, Ibn Hajarmeminati ilmu kesusasteraan dan telah menghasilkan satu antologi yang berjilidjilid yang dikenali sebagai Diwan Ibn hajar.

Ketika berumur 23 tahun, Ibn Hajar telah menjadi sarjana di dalam ilmu Fiqih, mantiq, falsafah, kesusasteraan, retorik, dan bahasa. Pada tahun 796 H, Ibn Hajar memulai era baru dalam kehidupanya sebagai seorang penuntut ilmu Hadits dengan berguru kepada Zain al-Din al-Iraqi yang terkenal sebagai seorang muhaddits pada masa itu. Selama 10 tahun Ibn Hajar berguru dengan al-Iraqi di bidang hadits yang akhirnya menjadikan beliau sebagai seorang tokoh ilmuwan di bidang ini.

Setelah menyelesaikan studinya Ibn Hajar dalam usianya yang relatif muda telah diberi otoritas untuk mengajar ilmu hadits, ilmu tafsir, dan ilmu fiqih. Kuliahnya tentang ilmu hadits dimulai pada bulan Syawal 808H/1406 M di Syaikhuniyah. Ia juga memberi kuliah di madrasah Jamaliah dan juga di Madrasah Mankutimuriyah.

Sebagai seorang ilmuwan Islam di zamanya, Ibn hajar memegang jabatan-jabatan penting pada masa pemerintahan Kerajaan Mamluk. Di antara jabatan penting yang pernah dipegang oleh Ibn Hajar ialah Pengurus Majlis Ilmu Hadits, pensyarah, ahli fatwa, qadi, khatib dan imam. Pada tahun 808H sampai beliau wafat pada tahun 852H, beliau menyandang jabatan sebagai pengurus Majlis Ilmu Hadits, majlis ini telah diadakan lebih dari seribu kali. Anggotanya terdiri 150 ulama, di antaranya yaitu al-Shahab al-Busayri, al-Kamal Ibn al-Tamimi dan al-Shams al-Qamar.

Baca Juga:  Konsep Amalan Harian dan Zaman Huru Hara dalam Sastra Jawa

Sumbangan Ibn Hajar di dalam mengajar ilmu Hadits telah bermula pada tahun 808 H, pada tahun ini beliau dilantik sebagai pakar rujuk Hadits di Madrasah Shaykhuniyyah. Tiga tahun mengajar di madrasah ini Ibn Hajar telah menghasilkan beberapa kitab, di antara kitab yang termasyhur di bidang ilmu Rijal al-Hadits ialah al-Isabah fi tamyiz as-Shahabah. Sebagai pensyarah, beliau telah dilantik pada tahun 813H/1410M di Khanqah al-Babrasiyya yang merupakan sebuah institut pengajian ilmu yang didirikan oleh Sultan Baybars al-Jashankiri.

Pada tahun 811H/1408M Ibn Hajar telah dilantik sebagai ahli fatwa di Dar al- ‘Adl dan beliau memegang jabatan ini sampai meninggal dunia. Di antara tugastugas Ibn Hajar sebagai ahli fatwa ialah menulis fatwa fatwa yang berkenaan dengan masalah yang timbul di masyarakat.

Sebagai seorang yang alim dan berilmu di zamanya Ibn Hajar menjadi Imam dan Khatib di masjid al-Azhar pada tahun 819 H. Beliau juga pernah menjadimeminati ilmu kesusasteraan dan telah menghasilkan satu antologi yang berjilidjilid yang dikenali sebagai Diwan Ibn hajar. Ketika berumur 23 tahun, Ibn Hajar telah menjadi sarjana di dalam ilmu Fiqih, mantiq, falsafah, kesusasteraan, retorik, dan bahasa. Pada tahun 796 H, Ibn Hajar memulai era baru dalam kehidupanya sebagai seorang penuntut ilmu Hadits dengan berguru kepada Zain al-Din al-Iraqi yang terkenal sebagai seorang muhaddits pada masa itu. Selama 10 tahun Ibn Hajar berguru dengan al-Iraqi di bidang hadits yang akhirnya menjadikan beliau sebagai seorang tokoh ilmuwan di bidang ini.

Metode Ibnu Hajar dalam Penginterpretasian kitab Syarah Hadits Fath al-Baari

Penulisan kitab ini menghabiskan waktu seperempat abad. Dimulai tahun 817 H dan selesai tahun 842 H. Maka tidak mengherankan bila kitab itu paling bagus, teliti dan sempurna. Selain itu, penulisannya dilakukan oleh penyusunnya dengan penuh keikhlasan. Kitab syarah ini terdiri dari 13 jilid ditambah satu jilid muqadimah. Kitab itu sudah berulangkali dicetak di India dan di Mesir. Cetakan yang terbaik di terbitkan oleh Bulaq. Demikian keterangan menurut Dr. Abu Syuhbah.

Baca Juga:  Shalahuddin al-Ayyubi: Sultan Sekaligus Ilmuan

Kitab ini selalu mendapatkan sambutan hangat dari para ulama, baik pada masa dulu maupun sekarang, dan selalu menjadi kitab rujukan. Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Ali as-San’ani asy-Syaukani, wafat tahun 1255 H, penulis kitab Nailul Authar, ketika diminta menulis kitab Syarah Shahih Bukhari, beliau mengagumi Ibnu Hajar. Beliau mengutip sebuah hadits “La hijrah ba’dal fathi’. Beliau meminjam istilah dari hadits itu sebagai ungkapan bahwa tidak ada kitab syarah shahih Bukhari yang melebihi Fathul Bari.

Perlu pula kiranya diketahui bahwa Shahih Bukhari terdiri dari beberapa kitab. Dimulai dengan bab permulaan wahyu, yang menjadi dasar utama bagisyariat Islam. Kemudian disusul dengan kitab Iman, Kitab Ilmi, Kitab Thaharah, Kitab Shalat, kitab Zakat dan seterusnya. Dalam kitab ini juga dimuat mengenai para penguasa dan para hakim. Kemudian kitab I.tisam bil kitab was sunnah dan yang terakhir adalah kitab Tauhid, sebagai penutup kitab shahihnya yang terdiri dari 97 kitab dan 3.450 bab.

Langkah-langkah Ibnu Hajar dalam mensyarah Kitab Hadits Shohih Bukhori

Pertama, Mengumpulkan hadits-hadits dalam bab-bab dan Menyebutkan hubungan munasabat diantara keduanya meskipun samar.

Kedua, Menjelaskan keshohihan hadits baik dari segi matan maupun sanad. Menjelaskan tadlis dengan mendengar dan mengikuti orang yang mendengar dari syaikh yang bercampur sebelumnya. Dengan meninjau kepada kitab-kitab musnad, jawami’, mustakhrijat, ajza’, dan fawaid dengan memenuhi syarat keshohihan atau hasan dari apa yang didapatnya.

Ketiga, Menyambung sanad-sanad yang terputus dan Menjelaskan makna lafadh-lafadh yang sulit dipahami dan Menjelaskan hasil-hasil istinbath para imam dari hadits baik berupa hukum-hukum fikih, mauidhoh zuhud, adab yang terjaga, seraya hanya mengambil pendapat yang rojih.

Adapun metode tehknik interpretasi kitab Syarah Fathul Baari memakai metode tahlily. Yaitu menjelaskan hadis-hadis Nabi dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam hadis tersebut serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan kecendrungan dan keahlian pensyarah. Model pensyarahan hadis dengan metode Tahlili, seorang pensyarah hadis mengkuti sistematika hadis sesuai dengan urutan hadis yang terdapat dalam sebuah kitab hadis yang dikenal dari al-Kutub al-Sittah termasuk Ibnu Hajar yang mengikuti al-Bukhori dalam al-jami’ as-Shohihnya.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

penyakit hati

Lawanlah 3 Penyakit Hati Ini, Agar Kau Tidak Sengsara!

Permasalahan perkara hati merupakan perkara yang besar, sehingga Allah menurunkan kitab suci-Nya untuk memperbaiki hati …

nabi yusuf

Meneladani Kisah Nabi Yusuf As: Sukses dalam Menjaga Amanat Dan Jabatan

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an memiliki sisi urgensi yang sangat besar.  Ia adalah unsur terpenting dari proses pendidikan dan …