berdoa bersama ketika wabah
berdoa bersama ketika wabah

Bukankah Lebih Baik Berkerumun dan Berdoa Bersama Ketika Wabah?

Ada hal menarik dari rangkain wabah covid-19 yang tidak kunjung selesai ini. Frustasi, panik dan kebosanan mungkin menghinggapi sebagian kecil masyarakat. Aktifitas seolah dibatasi bahkan ibadah seperti dilarang. Bukankah lebih baik memberikan kesempatan berdoa bersama ketika wabah di berbagai daerah untuk memohon agar Allah mengangkat penyakit ini?

Demikian kira-kira keinginan masyarakat untuk segera menyelesaikan wabah yang menakutkan dan menjemukan itu. Dari pada melarang beribadah, kenapa tidak diberikan kesempatan untuk melakukan doa bersama ketika wabah untuk memohon kepada Allah. Doa adalah senjata umat Islam. Dan doa bersama dipandang cukup makbul di tengah kesusahan umat Islam.

Keinginan sebagian kecil masyarakat ini penting mendapatkan jawaban. Apakah memang lebih baik umat keluar rumah, memasuki masjid atau pergi ke lapangan untuk berdoa bersama ketika wabah?

Tentu saja kita belajar dari sejarah dan bagaimana ulama memetic hikmah dari sirah nabawiyah. Ibnu Hajar Al-Asqolani pernah menulis sebuah kitab yang mengulas cukup menarik tentang bagaimana umat Islam menghadapi wabah. Kitab tersebut berjudul “Badzlul Ma’un Fi Fadhlith Tha’un” (Pemberian pertolongan kepada para penderita penyakit epidemik).

Kitab ini sebenarnya menarik untuk menjadi panduan. Ditulis pada tahun 819 Hijriyah, artinya sudah 622 tahun silam ketika beliau kehilangan tiga putri kesayangannya yakni Fathimah, Zeinah dan Ghaliyah karena wabah. Atas permintaan umat Islam kala itu, beliau menyusun pedoman yang mudah dipahami. Tak heran jika kitab ini agak tipis jika dibandingkan karya-karya beliau seperti master piece-nya, Fathul Bari.

Apa yang menarik sehingga saya mencoba mengulas kembali kitab oleh Syeikh yang telah menulis setidaknya 282 kitab ini? Ternyata fenomena masyarakat yang justru menilai perlunya berdoa bersama ketika wabah tidak hanya terjadi pada saat corona ini. Ternyata masyarakat yang kurang cerdas dalam memahami agama dan wabah ini tidak hanya terjadi saat ini.

Baca Juga:  Prediksi Puncak Covid-19, Inilah Pendapat Ibnu Hadjar Al-Asqalani tentang Berakhirnya Wabah

Di dalam kitab ini diceritakan berbagai wabah mudah menular dan mematikan baik di Syam, Mesir dan Andalusia. Kesalahan fatal yang hampir semua terjadi umat Islam justru keluar berbondong-bondong untuk berdoa bersama ketika wabah dan percaya bahwa dengan kegiatan itu Allah akan mengangkat musibah ini. Justru setelah doa bersama, umat Islam keluar rumah berbondong-bondong korban jatuh semakin banyak.

Berkerumun Ketika Wabah adalah Bid’ah

Atas dasar berbagai kejadian itulah, Syekh Ibu Hajar menegaskan fatwa melalui kitabnya dengan berdasarkan hujjah yang kuat tentang larangan keluar, berkumpul dan doa bersama ketika wabah untuk menjaga keselamatan jiwa. Bahkan berkumpul di lapangan saat terjadi wabah dengan doa seperti shalat istisqa’ adalah sebuah bid’ah yang tercela.

Menegaskan pentingnya doa bersama ketika wabah dengan menimbulkan kerumunan adalah perilaku yang menyalahi sunnah. Bahkan ketika iklim cuaca yang buruk pun Rasulullah menganjurkan umat Islam tidak keluar rumah dan shalat di rumah masing-masing.

Wabah yang memaksa sementara masjid ditutup bukan hanya saat ini saja. Jangan pernah ditafsirkan menjaga nyawa dengan cara menutup masjid sementara sebagai cara yang menjauhkan umat Islam dari rumah Allah. Inilah cara sunnah umat Islam dalam menghadapi wabah.  Mesir, Andalusia dan Cordoba dalam sejarah Islam pernah mengalami wabah yang hanya meninggalkan masjid-masjid ditutup.

Jika sebagian kecil umat Islam ada yang mengusulkan untuk berkumpul sehari saja untuk berdoa bersama dan berkerumun di lapangan atau tempat ibadah, sebenarnya bukan hal yang mengagetkan. Cara berpikir ini sudah ada sejak dulu sebelum Syekh Ibnu Hajar menulis panduan yang cukup jelas bagaimana umat Islam seharusnya bersikap dalam menghadapi wabah.

Karena itulah, Syeikh Ibnu Hajar mengajak kita bersama untuk beragama dengan berakal sehat. Memaksakan ibadah secara berkerumun atau berdoa bersama ketika wabah bukan tindakan yang sesuai sunnah, tetapi sama halnya dengan bunuh diri.

Baca Juga:  Hati-hati Memilih Calon Pemimpin yang Terlalu Ambisi

Janganlah umat Islam ngotot paling taat beribadah sementara mereka tidak paham cara beribadah yang sesuai dengan sunnah. Janganlah umat Islam merasa paling takut sama Allah dari pada corona, sementara syariat Allah untuk melindungi jiwa saja tidak dipatuhi. Beragamalah dengan akal yang sehat agar tidak jatuh dalam kebinasaan yang sia-sia.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About Farhah Salihah

Avatar of Farhah Salihah

Check Also

maulid nabi

Memperingati Maulid Nabi Salah Satu Bekal Terbaik Menjemput Akhirat

“Seseorang bersama yang ia cintai dan engkau bersama orang yang kau cintai,” (HR at-Tirmidzi No.2307). …

Haji di tengah pandemi

Batal Haji Salah Siapa? Butuhkah Solusi Khilafah?

Suatu kebijakan pemerintah tentu mempertimbangkan mashlahah dan mudharat bukan sekedar didasarkan pada kepentingan yang lain. …