kitab mathla nurain
kitab mathla nurain

Fikih Nusantara (27): Kitab Mathla’ al Nurain Karya Syeikh Zakaria bin Haji Ahmad

Kitab Mathla’ al Nurain adalah syarah kitab Mathla’al Badrain wa Majma’ al Bahrain karya Syaikh Muhammad bin Ismail Daudy al Fathani. Hal ini sebagaimana tercantum pada halaman sampul judul, “Mathla’ al Nurain untuk menguraikan ‘ibarat Mathla’ al Badrain karangan al ‘Alim al ‘Allamah al Marhum Syeikh Muhammad bin Ismail bin Daud al Fathani.

Telah maklum, kitab syarah ditulis sebagai uraian untuk menjelaskan lebih terperinci dan lebih luas penjelasan yang ada di kitab matan (kitab yang disyarahi). Kitab Mathla’ al Nurain juga begitu, hadir untuk mengurai penjelasan  yang dianggap sulit untuk dipahami oleh generasi saat ini. Beberapa ibarat yang sulit dijelaskan dengan diksi kata yang lebih mudah dan dengan penjelasan yang lebih panjang lebar.

Penulis yang merupakan lulusan Universitas al Azhar Mesir ini dengan sangat piawai memberikan penjelasan yang disesuaikan dengan pemahaman generasi masa kini. Tentu saja dengan tidak melenceng sedikitpun dari substansi kitab Mathla’al Badrain wa Majma’ al Bahrain sebagai kitab yang disyarahi.

Kitab yang dicetak dalam tiga juz oleh Percetakan Pustaka Darussalam, Kedah, merupakan kitab rujukan tidak saja di Malaysia, namun juga di Brunei Darussalam. Bahkan di Kedah Darul Aman sendiri kitab ini menjadi acuan kurikulum pembelajaran hukum Islam.

Materi kitab Mathla’ al Nurain dimulai dengan membahas keutamaan ilmu, rukun Islam dan rukun iman, hukum-hukum bersuci (Thaharah), pembagian air, benda-benda yang najis dan benda yang bisa suci dengan disamak, bejana atau wadah yang dilarang untuk digunakan, hukum siwak, fardhu wudhu’ dan sunnah-sunnahnya, hukum istinja’ dan adab menunaikan hajat, hal-hal yang membatalkan wudhu’, sebab-sebab yang mewajibkan mandi, fadhu-fardhu mandi, sunnah-sunnah mandi, mandi-mandi sunnah, hukum mengusap khuf (sepatu), hukum tayammum, tayammum sebagai ganti anggota yang tidak bisa dibasuh dengan air, cara berwudhu’ anggota badan yang diperban, dan seterusnya.

Baca Juga:  Nuzulul Qur’an (2) : Tiga Belas Adab Membaca Al-Qur’an

Dalam kitab ini juga ditulis contoh khutbah shalat gerhana matahari dan gerhana bulan dan khutbah shalat istisqa (shalat memohon hujan). Dan diakhiri dengan pembahasan mayat orang kafir.

Inilah satu maha karya yang sampai saat ini masih lestari. Kitab Jawi berbahasa Melayu yang menjadi tanda bahwa kaum Melayu sedari dulu telah menganut fikih madhab Syafi’i dan dalam aqidah berpedoman pada al Asy’ariyah dan al Maturidiyah sebagaimana hari ini dianut oleh umat Islam terutama pengikut Nahdlatul Ulama.

Semua karya-karya ulama Nusantara berdarah Melayu cukup menjadi dasar bagaimana keterlibatan mereka dalam upaya menyebarkan Ahlussunah wal Jama’ah di Nusantara khususnya di semenanjung Melayu. Dengan demikian, tidak ada bedanya mereka dengan ulama-ulama Nusantara yang lain. Sebab memang mereka berada dalam satu ikatan aliansi ulama-ulama Nusantara yang memiliki kesamaan misi untuk menyampaikan Islam yang Ahlussunah wal Jama’ah.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

sullam al munajah

Fikih Nusantara (29): Kitab Sullam al Munajah Karya Sywikh Nawawi al Bantani

Pada bagian terdahulu telah dimuat satu karya Imam Nawawi al Bantani yang memiliki nama lengkap …

tafsir 10 dzulhijjah

Tafsir Surat Al Fajr Ayat 1-2 : Kemuliaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Seperti bulan Hijriah yang lain, bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan sendiri. Satu keistimewaan bulan kedua belas …