bayan nikah
bayan nikah

Fikih Nusantara (21): Kitab Al Silah Fi Bayan al Nikah Karya Syeikh Muhammad Khalil bin Abdul Latif al Bangkalani

Setelah sekian episode menelusuri kitab-kitab fikih di semenanjung Melayu, disana ditemukan jejak intelektual fikih atau hukum Islam begitu kuat. Ada banyak ulama Nusantara keturunan Melayu yang ahli fikih atau al Faqih.

Dimulai dari pulau Sumatera, di Aceh ada Tengku Syiah Kuala alias Abdurrauf al Sinkili pemilik Mir’at al Thullab dan Syaikh Nuruddin al Raniri penulis Shirath al Mustaqim. Di Jambi ada Syaikh Usman Sa’id Tungkal dengan karya fikihnya Sullam al Raja. Bergeser sedikit ke Riau ada Raja Ali Haji dengan kitab Syair Hukum Nikahnya. Dan, di Padang ada Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al Fadani dengan karyanya al Fawaid Al Janiyyah.

Kemudian menyebrang ke Pulau Borneo Kalimantan. Di Banjar, Martapura, Kalimantan Selatan ada Syaikh Arsyad al Banjari pengarang Sabil al Muhtadin. Dan di Kalimantan Barat kita membaca Tuhfatu al Raghibin dan Risalah Bab al Jum’ah karya Syaikh Husain bin Sulaiman al Funtiani.

Sekarang kita berlayar ke pulau Madura. Di pulau kecil ini ada seorang ulama kenamaan yang banyak menelorkan ulama-ulama. Mayoritas ulama-ulama yang ada di Nusantara berguru kepadanya. Siapa lagi kalau bukan Kiai Kholil Bangkalan.

Telah lalu ada satu karya beliau yang sudah diperkenalkan, yaitu kitab Matnu al Syarif. Dan sekarang satu lagi karya beliau yang akan dihadirkan untuk menambah catatan-catatan karya intelektual ulama-ulama Nusantara bidang fikih. Yakni, kitab Al Silah Fi Bayan Al Nikah.

Disimak dari judul, kitab ini berarti senjata untuk menerangkan hukum nikah. Tebalnya 96 halaman. Ditulis dengan bahasa Arab dan diberi arti bahasa Madura dengan aksara Arab Pegon. Arti dibuat model berjenggot layaknya santri-santri pesantren ketika memaknai kitab.

Baca Juga:  Kitab Tafsirnya Menjadi Rujukan Utama, Siapa Sebenarnya Ibnu Katsir?

Karakter penulisan dibuat dengan model tanya jawab. Sehingga ketika membaca kitab ini pembaca seolah-olah sedang berdialog dengan pengarangnya. Setiap materi dimulai dengan kalimat tanya kemudian jawabannya.

Diawali pujian kepada Allah dan bershalawat kepada Rasulullah, pengarang langsung masuk pada bahasan makna nikah. Apa makna nikah? Lalu diuraikan jawabannya secara singkat tapi tetap menjaga kesyamilan hukum fikihnya. Yang dibahas berikutnya adalah hukum nikah, serta tujuan menikah yang sesuai dengan ajaran Islam.

Pembahasan dilanjutkan dengan rukun nikah, syarat seorang suami, syarat-syarat seorang istri, syarat wali, siapa saja yang disebut wali nikah, syarat-syarat saksi, redaksi ijab dan qabul, syarat-syarat ijab, syarat-syarat qabul, syarat-syarat sah nikah dan pembatal nikah.

Kemudian membahas kewajiban suami terhadap istri, kewajiban istri kepada suami, makna khutbah nikah dan hukumnya, siapa yang harus membaca khutbah nikah, ditulis juga khutbah nikah yang dinukil dari al ‘Allamah Syaikh Hasan al ‘Aththar. Kemudian membahas pengertian thalak, rukun, hukum dan yang berkaitan dengannya. Dan yang terakhir adalah pembahasan ruju’.

Inilah satu diantara karya intelektual ulama Nusantara yang abadi sampai saat ini dan dipakai masyarakat Madura sebagai rujukan untuk memahami seluk beluk hukum tentang nikah. Satu karya yang sangat bermanfaat bagi umat Islam.

Pencarian warisan intelektual seperti ini perlu diteruskan agar kita bisa melihat posisi ulama-ulama Nusantara dalam kancah intelektual muslim secara global, melihat hubungan mereka dengan ulama-ulama Makkah dan Madinah sebagai patron tipikal Islam rahmatan lil’alamin seperti diajarkan Nabi, hubungan mereka dengan ulama-ulama Timur Tengah dan negeri Islam yang lain.

Untuk apa? Supaya generasi Islam saat ini mampu mewarisi tradisi intelektual ulama-ulama serta menjadikan karya intelektual mereka sebagai pijakan dasar praktek beragama. Meniru mereka yang telah sukses melakukan Islamisasi di Nusantara tanpa memaksa apalagi mengalirkan darah. Kearifan lokal masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam dirawat dan dilestarikan.

Baca Juga:  Inilah Seni Mengkritik dalam Islam [1]: Prinsip-prinsip Mengkritik

Sehingga kita tak terkejut apabila ada paham baru yang ngaku-ngaku sebagai Islam yang paling benar, mengaku merujuk langsung kepada al Qur’an dan hadis dan selalu menyalahkan praktek dan amalan yang telah diwariskan oleh para ulama-ulama kita dulu.

Kita akan segera tau bahwa paham yang hobi menyalahkan, memurtadkan, membid’ahkan, dan mengkafirkan adalah jauh dari ajaran para ulama salaf yang diterjemahkan oleh para ulama-ulama Nusantara. Kita akan segera tau paham seperti itu tidak berpijak pada pondasi intelektual ajaran Islam yang kokoh.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

kitab wishah al ifrah

Fikih Nusantara (32): Kitab Wisyah al Ifrah Wa Isbah al Falah Karya Muhammad bin Isma’il Daud al Fathani

Kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan aksara Jawi ini sekali lagi membuktikan semangat ulama-ulama Melayu …

kitab al nadlhah al hasaniyah

Fikih Nusantara (31): Kitab Al Nadhah al Hasaniyah Karya Sayyid Muhsin Ali al Musawa al Falimbani

Semakin kita membuka dan membaca karya-karya ulama Nusantara, semakin kita paham bahwa mereka telah berusaha …