wabah dan ujian iman
wabah dan ujian iman

Wabah Itu Menguji Keimanan dan Kemanusiaan Kita

Adanya wabah pandemi covid-19 tidak hanya mengguncang kesehatan kita, tetapi dalam banyak hal juga menguji keimanan dan rasa kemanusiaan kita.


Ketika Jenazah itu Ditolak

Kasus penolakan jenazah korban Covid-19 terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Tentu kita masih ingat, ketika jenazah seorang perawat RSUP dr Kariadi Semarang yang meninggal dunia karena positif terinfeksi virus corona ditolak oleh sejumlah warga ketika hendak kebumikan di Tempat Pemakanman Umum (TPU) Sewakul di RT 06, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang pada Kamis 9 Paril 2020.

Sebelumnya, penolakan jenazah pasien positif Corona juga terjadi pada Selasa 31 Maret 2020 tepatnya di Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Berbagai peristiwa tersebut tentu sangat memprihatinkan.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sampai angkat bicara mengungkapkan rasa keprihatinannya dan mengajak masyarakat untuk ngrogoh roso kamanungsan (menggunakan hati nurani dan rasa kemanusiaan). Beliau berpesan, “Para perawat, dokter dan tenaga medis tidak pernah menolak pasien, kenapa kita tega menolak jenazah mereka? (11 April 2020).

Bukan hanya Gubernur Jateng yang merasa prihatin. Sikap penolakan jenazah tersebut juga mengundang kemarahan masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Menurut analisis Drone Empit, setidaknya ada 20.750 percakapan nitizen di Twiter terkait penolakan jenazah yang dimulai pada tanggal 30 Maret 2020 hingga 10 April 2020 (CNN Indonesia 13/4/2020).

Studi Drone Empit juga menunjukkan bahwa ada 2.028 artikel yang menebitkan isu penolakan jenazah pasien corona. Najwa Shihab melalui akun Instagramnya sampai membuat video yang berjudul “Melawan Stigma Corona”. Video tersebut mendapatkan like lebih dari 2 juta.

Dalam video tersebut Najwa atau yang akrab dipanggil Nana mengatakan “..upaya menjaga jarak ini jangan kebablasan. Jaga jarak bukan berarti kita bebas mengusir orang artau menolak jenazah. Inilah saatnya untuk memperkuat solidaritas. Jarak fisik memang harus direnggangkan, tapi ikatan sosial justru harus dirapatkan”.

Peristiwa ini kemudian melahirkan fatwa MUI tentang hukum menolak jenazah. Fatwa ini juga diikuti oleh sejumlah negara, termasuk Mesir. Lalu, bagaimanakah sebenarnya etika Islam dalam memperlakukan jenazah?

Rasulpun Sampai Berdiri Menghormati Jenazah Non Muslim

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Jabir bin Abd Allah mengatakan, “Suatu hari kami melihat keranda jenazah lewat. Nabi kemudian berdiri. Kami pun ikut berdiri bersamanya. Lalu kami mengatakan, “Wahai Nabi, itu jenazah orang Yahudi”. Beliau mengatakan, “Kematian itu membuat kesedihan yang mendalam. Bila kalian melihat jenazah, berdirilah.” (HR: Muslim).

Baca Juga:  MUI Dukung Kebijakan Walkot Depok Soal ASN Khatam Alquran Dimasa Pandemi

Selain Imam Muslim, Imam Bukhari juga meriwayatkan hadis ini dengan matan hadis yang sedikit berbeda. Namun intinya tetap sama, yaitu pentingnya menghormati jenazah sekalipun non-Muslim. Jika suatu hadis telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim maka derajat keshahihannya tidak diragukan lagi.

Melalui hadis di atas kita bisa melihat betapa Rasulullah mengajarkan kepada kita pentingnya menghormati jenazah, sekalipun jenazah tersebut non-Muslim. Dalam hadis tersebut digambarkan bahwa ketika Rasul dan para sahabat yang sedang duduk, tiba-tiba ada iring-iringan pengantar jenazah yang lewat. Melihat iring-iringan pengantar jenazah tersebut, seketika itu Rasul berdiri untuk memberikan salam penghormatan.

Melihat Rasul berdiri para shahabat yang lain ikut serta berdiri. Padahal ada shahabat nabi yang memberi tahu bahwa jenazah tersebut adalah non Muslim (Yahudi). Namun tampaknya Rasul tidak bergeming dan tetap berdiri. Kemudian Rasul dalam akhir hadisnya menjawab “Kematian itu membuat kesedihan yang mendalam. Bila kalian melihat jenazah, berdirilah.”

Dalam matan hadis tersebut Rasul bersabda menggunakan kata فَقُومُوا/faqumu yang berarti berdirilah. Kata فَقُومُوا dalam Bahasa Arab adalah fi’il ‘amar yang mengandung arti perintah. Hati-hati, ini perintah Rasul. Bukan sembarang perintah.

Ketika Rasul memerintahkan sesuatu itu artinya perintah itu mengandung sesuatu yang sangat penting untuk dilaksanakan. Dengan demikian kita wajib mengerjakannya. Jangan membantahnya. Perintah Rasul harus kita dengar dan laksanakan. Melawan atau mengindahkan perintah Rasul sama saja menentang ajaran Rasul. 

Sikap Rasul dalam menghormati jenazah yang tergambar dalam hadis di atas memberikan pelajaran penting dan sangat berharga untuk kita. Betapa menghormati jenazah adalah kewajiban setiap manusia, apapun agamanya. Sekalipun jenazah tersebut beda keyakinan.

Sikap Rasul ini menggambarkan bahwa menghormati jenazah adalah akhlak mulia yang harus dimiliki oleh setiap pribadi. Menghormati jenazah berarti kita ikut empati terhadap keluarganya yang sedang berduka.

Baca Juga:  Klaster Tarawih Muncul di Sragen, Imam Masjid dan 12 Orang Positif Covid-19

Sebagaiamana kata rasul dalam hadis tersebut “…kematian itu membuat kesedihan yang mendalam”. Rasul saja sampai berdiri ketika ada iring-iringan pengantar jenazah yang lewat. Jika Rasul saja sampai berdiri, bagaimana dengan kita? Sikap Rasul ini menggambarkan betapa pentingnya sikap empati kepada sesama manusia. Jika kita tidak bisa membuat orang lain bahagia, maka setidaknya kita jangan membuat mereka tambah berduka.

Karena pentingnya sikap menghormati jenazah, sampai-sampai ada hadis yang menjelaskan tentang betapa besarnya pahala menghormati jenazah. Dalam sebuah hadis yang diriwayat sahihain Rasulullah SAW bersabda:

 “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW:siapa yang menyaksikan jenazah (dari rumahnya) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala sampai disalatkan maka ia mendapat pahala satu qirath, dan siapa yang mengiring jenazah (dari rumahnya) sampai mayit dikuburkan maka baginya dua qirath, kemudian ditanya “seperti apa dua qirath itu? Yaitu sebesar dua gunung yang besar” (HR: Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan betapa besarnya keutamaan menghormati jenazah. Sampai-sampai Rasul mengibaratkan orang yang mau mengantarkan jenazah sampai ke liang lahat ia akan mendapatkan pahala sebesar dua gunung yang besar. Subhanallah! Inilah keutamaan menghormati jenazah.

Jika mengantarkan jenazah sampai dikuburkan mendaptkan pahala yang besar, bagaiaman jika ada orang yang berani menghalang-halangi prosesi pemakaman seorang jenazah? Jawabannya telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), yaitu orang yang menolak atau menghalang-halangi pemakaman jenazah, khususnya jenazah pasien Covid-19, hukumnya adalah Haram. Masihkah ada yang berani menolak jenazah?

Menjawab Ujian Wabah dengan Ta’awun

Dalam rangka untuk memutus penyebaran Covid-19, social dan physical distancing memang harus dijalankan. Namun sayangnya upaya menjaga jarak ini ada yang sampai kelewat batas. Sebagian oknum masyarakat sampai ada yang tega mengusir orang semaunya. Bahkan ada sekelompok oknum masyarakat yang tega menghalang-halangi pemakaman jenazah pasien positif Corona. Apa lagi jenazah tersebut adalah dokter, perawat dan atau tenaga kesehatan. Padahal mereka adalah pahlawan kemanusiaan yang harus kita hormati. Mereka telah berani bertaruh nyawa dengan berada di garda terdepan.

Baca Juga:  Heboh Aisha Wedding, Pandangan Fikih tentang Pernikahan di Bawah Umur

Nabi kita telah berpesan, bahwa orang mukmin dengan orang mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan? Ujian kemanusiaan ini harus membuat mata hati dan pikiran kita semakin peka dan terbuka untuk saling tolong-menolong (ta’awun) antar sesama.

Bahkan arang yang meninggal karena wabah termasuk syahid/syahidah. Banyak hadis nabi yang menjelaskan bahwa orang yang meninggal karena suatu wabah termasuk syahid. Salah satunya dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim berikut:

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bertanya (kepada sahabatnya), ‘Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?’ Mereka menjawab, ‘Orang yang gugur di medan perang itulah syahid ya Rasulullah.’ Rasulullah SAW merespons, ‘Kalau begitu, sedikit sekali umatku yang mati syahid.’ Para sahabat bertanya ‘Mereka itu siapa ya Rasul?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah (bukan karena perang) juga syahid, orang yang tertimpa tha‘un (wabah) pun syahid, orang yang mati karena sakit perut juga syahid, dan orang yang tenggelam adalah syahid,’” (HR Muslim).

MUI sendiri telah mengeluarkan fatwa bahwa korban meninggal dunia akibat wabah virus corona atau COVID-19 termasuk dalam kategori syahid. Orang yang meninggal karena berjuang di jalan Allah (syahid) mendapatkan jaminan pahala yang besar dari Allah (Q.S. An-Nisa [4]:74). 

Saat ini fisik kita memang harus berjauhan, namun hati dan pikiran kita harus tetap saling bertautan. Bukankah Nabi kita telah berpesan, bahwa orang mukmin dengan orang mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan?

Ujian kemanusiaan ini harus membuat mata hati dan pikiran kita semakin peka dan terbuka untuk saling tolong-menolong (ta’awun) antar sesama.  Saat-saat seperti ini, sisi kemanusiaan kita benar-benar sedang diuji. Ini cara Allah untuk mengetahui hambaNya yang paling mulia dan terpuji (Q.S. Al-Mulk [67]: 2).

Bagikan Artikel ini:

About Dr. M. Nurdin Zuhdi

Dosen Universitas Aisyiah Yogyakarta (UNISA)

Check Also

WhatsApp Image 2020 05 20 at 07.20.09 1

Selamat Tinggal Ramadhan, Sampai Jumpa Kembali…

“Salam bagimu wahai Ramadhan, shahabat yang datang membawa kebahagian dan kepergiannya meninggalkan kepedihan. Salam bagimu …

hanya mendapat haus dan lapar

Mendeteksi Puasa Agar Tidak Hanya Sekedar Mendapatkan Lapar Dan Dahaga

Memastikan Sepertiga Terakhir yang Berkualitas Cepat atau lambat 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini akan …