Ibrahim seorang muslim
Ibrahim seorang muslim

Islam adalah sebuah institusi agama besar, tetapi belum tentu memiliki umat yang memiliki karakter “muslim”. Apakah umat Islam sudah layak disebut seorang “muslim” yang dengan kepasrahan total hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada sesamanya.


Idul Adha merupakan salah satu bentuk praktek yang konkret dari Rasulullah untuk mengikuti millah Ibrahim. Perintah mengikuti millah Ibrahim sebagaimana tercantum dalam “ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus.” (Qs. Ali ‘Imran: 95).

Idul Ahda dari rangkaian haji dan kurban merupakan napak tilas dari perjalanan spiritual agung Nabi Ibrahim. Sosok Nabi ini memiliki posisi istimewa sebagai kekasih Allah yang menjadi teladan dan panutan Nabi setelahnya.

Setelah Ibrahim hadirlah Nabi dan Rasul pilihan Allah untuk menyebarkan agama di muka bumi. Dari Rahim teologi Ibrahim muncul agama Yahudi, Nasrani dan terakhir Islam. Tiga agama ini menjadi agama yang sampai saat ini dipeluk dan mendominasi dari belahan Timur hingga Barat.

Lalu, seperti apakah millah Ibrahim? Al-Qur’an pun menegaskan dengan cukup tegas dan lugas. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Qs. Ali ‘Imran: 67).

Millah Ibrahim ternyata bukan suatu institusi agama. Ibrahim bukanlah seorang Yahudi. Pun pula bukan Nashrani. Ibrahim bukan pula ditegaskan sebagai beragama Islam. Tetapi Ibrahim adalah muslim. Ibrahim adalah sosok hamba yang berserah diri dengan totalitas ketulusan, keikhlasan dan keteguhan memegang tauhid. Ibrahim bukan sekali-kali kelompok orang musyrik.

Pertanyaan berikutnya, seperti apa laku millah Ibrahim. Al-Qur’an memberikan penjelasan tentang karakteristik millah Ibrahim ini : “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (Qs. al-Nisaa’: 125)

Dari penjelasan tersebut setidaknya ada dua kata kunci untuk mengurai karakteristik millah Ibrahim yang hanif. Pertama, orang yang ikhlas dan total menyerahkan diri kepada Allah. Hamba yang hanya menghadapkan wajahnya kepada Allah. Tidak ada penghambaan lain selain Allah. Tidak ada kebanggaan lain kecuali menghamba kepada Allah.

Kedua, berbuat kebaikan. Tidak ada orang yang pasrah dan totalitas kepada Allah lalu dia berbuat kemungkaran di muka bumi. Tidak ada orang beragama yang akan bermuka garang. Tidak orang yang taat memiliki sikap pelaknat. Tidak ada kaum beriman yang suka mencaci teman. Beragama yang baik adalah menebar kebaikan.

Dua karakteristik inilah yang disebut sebagai muslim. Menjadi muslim adalah perintah Allah dan karakteristik hamba yang diidamkan Allah. Bukankah Nabi Yunus juga diperintahkan untuk menjadi muslim : “Dan aku (Nuh ‘alaihi salam) diperintahkan agar aku termasuk orang muslim (berserah diri).” (Qs. Yunus: 72).

Nabi Ya’kub pun memberikan wasiat yang luhur kepada keturunannya untuk menjadi muslim : “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Qs. al-Baqarah: 133).

Lihatlah pula bagaimana Nabi Yusuf menginginkan wafat dalam keadaan muslim : “Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Qs. Yusuf: 101).

Dan tengoklah seruan dan dakwah Nabi Musa kepada kaumnya untuk menjadi seorang Muslim : “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, Maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” (Qs. Yunus: 84)

Lalu, amatilah ajakan Nabi Isa dan pengikut setianya yang mendeklarasikan diri sebagai seorang muslim : “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Ali ‘Imran: 52)

Islam adalah sebuah institusi agama besar, tetapi belum tentu memiliki umat yang memiliki karakter “muslim”. Apakah umat Islam sudah layak disebut seorang “muslim” yang dengan kepasrahan total hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada sesamanya. Atau Islam hanya sebagai agama tetapi tidak memiliki pribadi dan karakter muslim?

Semoga dengan perayaan Idul Adha ini melalui berbagai rangkaian ibadah yang ada kita umat Islam dapat meneladani Ibrahim untuk menjadi pribadi yang muslim.