aisyah istri rasulullah
aisyah istri rasulullah

Sayyidah Khadijah Al – Kubra (1) : Cinta Sejati Sang Nabi dan Tak Bisa Terganti

26 Rajab adalah tanggal istimewa bagi umat islam karena pada tanggal ini umat muslim memperingati peristiwa bersejarah yakni isra’ mi’raj. Pada umumnya, umat muslim mengetahui bahwa pada peristiwa ini Alloh menurunkan perintah sholat 5 waktu secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW.

Namun yang tidak banyak diketahui adalah bahwa peristiwa isra’ mi’raj sesungguhnya merupakan hadiah dari Alloh SWT sebagai pelipur lara di tahun kesedihan (amul huzni), yakni tahun ketika Rasululloh SAW kehilangan dua figur penting dalam perjuangan awal dakwah islam. Kedua sosok itu adalah Paman Nabi Muhammad, Abu Thalib dan istri terkasih beliau, Sayyidah Khadidjah Al – Kubro.

Tahun kesedihan merupakan fase terberat bagi Rasululloh SAW dalam perjuangan menyebarkan agama islam di kota mekkah. Pada Tahun ini, penderitaan datang bertubi tubi kepada Rasululloh SAW sehingga beliau mengalami duka cita yang mendalam. Salah satu duka terbesar yang Rasululloh SAW adalah ketika sang istri tercinta yang senantiasa setia mendapingi dan menguatkan Rasululloh SAW dalam menunaikan misi kerasulan sejak awal turunnya islam, yakni Sayyidah Khadijah radliyalluhu ‘anha berpulang ke haribaan Alloh SWT.

Pada Tahun ke 10 kenabian, terjadi pemboikotan Bani Quraisy terhadap kabilah Bani Hasyim yang menyebabkan Rasululloh SAW beserta keluarga dan pengikutnya terkurung hampir sepenuhnya dari dunia luar. Pemboikotan ini berdampak pada kesehatan khususnya kaum perempuan dan anak anak. Kala itu Sayyidah Khadijah berusia 65 tahun dan kondisi kesehatannya semakin melemah. Selama tiga hari Sayyidah Khadijah jatuh sakit dengan sakit yang tak pernah dia alami sebelumnya. Dan selama itu pula Rasululloh SAW tak pernah beranjak dari sampingnya, Rasululloh SAW berada di sisinya sepanjang waktu dan merawat Sayyidah Khadijah dengan penuh kasih dan cinta.

Baca Juga:  Ketika Rasulullah Bicara soal Merah Putih sebagai Pusaka

Kondisi kesehatan Sayyidah Khadijah semakin memburuk hingga beliau tak sadarkan diri dan kepalanya terkulai dalam pelukan Nabi Muhammad SAW. Saat itu juga Nabi Muhammad berjanji bahwa Sayyidah Khadijah akan menjadi perempuan paling terhormat di surga. Sayyidah Khadijah mengangguk pelan penuh percaya, sebab Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang jujur dan Sayyidah Khadijah tak pernah sekalipun meragukannya.

Sebelum menutup mata, Sayyidah Khadijah menatap wajah Sang Rasul dengan tatapan lembut, tersungging senyuman tipis di wajahnya, sebuah isyarat bahwa Sayyidah Khadijah menghadap pada Ilahi dengan jiwa yang tenang dan damai dalam pelukan Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, matanya terpejam, tubuhnya melemas dan bobot badannya menekan lengan Nabi. Saat itulah Nabi mengikhlaskan sang belahan jiwa, kekasih tercinta, pendukung utama dan penenang hatinya menghembuskan nafas terakhir dan berpulang pada Alloh SWT.

Kesedihan yang dirasakan Nabi Muhammad SAW kala itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Beliau mendekap tubuh Sayyidah Khadijah dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Air mata Nabi yang mulia pun tumpah dan begitu pula air mata semua sahabat yang menemani. Nabi SAW mengiringi kepergian Sayyidah Khadijah hingga liang lahat. Sayyidah Khadijah menghadap Alloh SWT dengan dibalut kain kafan berupa sorban Nabi SAW dan Nabi SAW sendirilah yang memakamkan jenazahnya.

Cinta Nabi Muhammad SAW kepada Sayidah Khadijah sungguh besar. Kedalaman cinta Nabi Muhammad kepada Sayyidah Khadijah terlihat jelas saat hari hari setelah Sayyidah Khadijah meninggal dunia. Sahabat Khaulah Binti Hakim yang menyaksikan betap dalam sedih dan duka Nabi kala itu menyarankan agar Nabi Muhammad SAW menikah lagi. Namun dengan tenang dan tulus Nabi Muhammad SAW menjawab, “Siapa yang bisa berpikir tentang menikah setelah Khadijah?”

Baca Juga:  Misteri Nabi Hanzhalah dan Pedihnya Azab Umat Terdahulu

Sayyidah Khadijah adalah cinta pertama dan kedudukannya tak pernah terganti di hati Nabi Muhammad SAW meskipun oleh istri istri Nabi sesudahnya. Sejarawan Carlyle menuliskan bahwa Nabi Muhammad SAW mengalami kehidupan yang paling penuh cinta, tenteram dan memuaskan dalam pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah. Nabi Muhammad SAW mencintainya dengan sungguh sungguh dan hanya dia semata.

Di kemudian hari, meskipun Rasululloh SAW beristrikan perempuan lain yang lebih cantik dan lebih muda, Sayyidah Khadidjah tetap menempati singgasana utama dalam benak Nabi. Beliau juga menjaga hubungan baik dengan teman dan kerabat Sayyidah Khadijah serta kerap mengirimi mereka berbagai hadiah sebagai penghormatan terhadap Sayyidah Khadijah yang telah wafat.

Melihat betapa besar cinta antara Nabi Muhammad SAW dengan sang istri tercinta Sayyidah Khadijah, patutlah kita bertanya apakah sebab yang menjadikan begitu besar jalinan kasih antara keduanya hingga Rasululloh SAW sendiri mengakui tak ada yang bisa mengganti kedudukan Khadijah dalam benak Nabi SAW. Untuk mengupas jawaban dari pertanyaan itu, penulis menyiapkan ulasan lengkap yang membahas sisi sisi indah yang menjadi daya tarik dari Sayyidah Khadijah pada sekuel tulisan berikutnya.

Bagikan Artikel ini:

About Nuroniyah Afif

Avatar of Nuroniyah Afif

Check Also

anak terkonfirmasi covid-19

Anak Terkonfirmasi Covid-19, Jangan Panik! Berikut Ikhtiar Lahir dan Batin untuk Dilakukan

Grafik kenaikan kasus Covid – 19 di Indonesia belum menunjukkan tanda akan melandai. Covid – …

8 fungsi keluarga

Momentum Menguatkan Kembali 8 Fungsi Keluarga di Masa Pandemi

Meningginya kasus Covid – 19 hingga menyentuh angka 30 ribu kasus baru per hari memaksa …