rasulullah

3 Sikap Nabi Muhammad Ketika Mendapatkan Perlawanan dari Pemuka Quraish

Ketika perlawanan dari pemuka Quraish semakin gencar, Nabi lebih banyak mengemban dakwah secara sembunyi-sembunyi. Meskipun demikian, konflik atau perlawanan belum selesai. Dalam kondisi seperti itu, Nabi lebih mengedepankan nilai-nilai kebijaksanaan (hikmah) dan debat secara santun.

Nilai-nilai itu sebagaimana tercermin dalam QS. Al-Nahl [16]: 125). Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ayat tersebut turun di Makkah ketika situasi ada genjatan senjata antara kaum muslim dan kaum musyrik Makkah. Melalui petunjuk wahyu tersebut, Nabi tidak diminta untuk menggunakan kekerasan dalam menghadapi perlawanan, melainkan Allah memerintahkan kepada Nabi agar mereka (musyrik Quraish) ke jalan Allah dengan lemah lembut tanpa harus menumpahkan darah dan adanya tindakan anarkis.

Kondisi tersebut juga memberikan pedoman bagi umat Islam tentang teladan Nabi dalam menyikapi dan menghadapi perlawanan Quraish. Setidaknya ada tiga hal yang penting dalam menghadapi situasi tersebut. Ketiga ini-lah yang dijalankan oleh Nabi.

Pertama, prinsip kebijaksanaan (al-hikmah).

At-Thabari (17:321) menegaskan bahwa tanpa pendekatan hikmah—perkataan benar dan tegas yang berlandaskan petunjuk-petunjuk yang shahih—misi dakwah tidak akan dapat mencitrakan kebenaran dan kebaikan, namun akan memicu tindakan anarki. Dan Nabi, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah [2]: 23, 24 dan 129), telah dikaruniai hikmah. Sehingga, beliau tidak gegabah ketika menghadapi sebuah perlawanan, tapi menghadapi semua dengan penuh elegan dan beradab.

Sikap bijak ini menjadi sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang yang hendak berjuang menegakkan agama Allah. Jika sikap ini tidak ada pada diri seorang da’i, maka nilai-nilai Islam yang diperjuangkan akan mengalami distorsi. Bahkan dalam keadaan tertentu, ketiadakan sikap hikmah akan melahirkan sikap tercela lain, seperti mudah marah dan tidak bisa mengendalikan nafsu. Padahal, hati manusia yang sudah digelapkan oleh nafsu, maka ia akan jauh lebih gelap dari pada dasar sumur di tengah malam yang tidak disinari rembulan (K. Ng. Agus Sunyoto).

Baca Juga:  Siapakah Mukmin Ideal ?

Kedua, nasihat yang santun (al-mauidhah hasanah).

Prinsip kedua ini sering disampaikan di ruang-ruang publik seperti tabligh akbar, majelis ta’lim dan sejenisnya, namun dalam ranah implementasi, seringkali prinsip ini terlupakan. Padahal, sebagaimana dikatakan oleh Al-Baghawi, bahwa prinsip ini sangat tepat karena tidak memicu perpecahan, celaan dan teguran keras. Dengan nasihat yang santun, memotivasi dan penuh dengan kedamaian, maka dakwah akan lebih mengena ke masyarakat.

Ketika perlawanan menghadang misalnya, prinsip ini sangat diperlukan untuk diterapkan. Tentu bukan berarti ketika menerapkan prinsip kedua ini menjadikan kita lemah dan letoy. Maksud dari nasihat yang santun adalah menawarkan kebenaran dengan cara yang baik dan argumentatif alias tidak mengedepankan ‘otot’. Jadi salah jika memahami memberikan nasihat secara santun dengan sikap lemah dan lembek.

Ketiga, debat santun (wa jadilhum bi al-lati hiya ahsan).

Pada prinsip ketiga ini, mengandung arti bahwa aktivitas dakwah pasti diiringi dengan perdebatan-perdebatan panjang mengenai ajaran atau misi dakwah yang diemban. Dalam menghadapi perdebatan itu, Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk melakukan perdebatan dengan dilandaskan argumentasi dan dalil yang disampaikan secara santun supaya mampu membawa mitra debat memahami misi kenabian.

Itulah tiga teladan sikap nabi dalam menjalankan aktivitas dakwah yang penuh dengan tantangan dan perlawanan. Dari uraian di atas sesungguhnya banyak hal yang harus dibenahi dari diri kita hari ini, terutama bagi aktivis dakwah yang gemar mengumbar permusuhan dan menanambah benih kebencian, baik antar sesama maupun lawan.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir