millah ibrahim
ibrahim

Doktrin Millah Ibrahim : Tidak Ada Korban Manusia untuk Memuja Tuhan

Apa itu millah Ibrahim? Millah adalah pedoman hidup yang berupa aturan dan ajaran demi demi ketertiban masyarakat. Millah memiliki arti yang sama dengan din atau agama. Millah sendiri tersebut dalam 15 ayat dalam Al-Qur’an, 9 kali dalam ayat-ayat makiyah  dan 6 kali pada ayat madaniyah. Kata ini dalam beragam konteks selalu disandingkan dengan ajaran para nabi-nabi terdahulu, khususnya Nabi Ibrahim.

Milllah Ibrahim adalah tuntunan hidup yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim. Dalam Al-Quran ditegaskan perintah dan pentingnya mengikuti millah Ibrahim yang lurus.  “Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus.” (Qs. Ali ‘Imran: 95). Perintah inilah yang diwujudkan tidak hanya pada akidah Ibrahim yang monoteistik tetapi Islam begitu lengkap mengikuti dengan adanya rangkaian ritual dalam Islam, yakni Haji dan Kurban.

Melalui Idul Adha umat Islam melaksanakan dua ibadah sekaligus secara bersamaan, yakni ibadah Haji dan juga Ibadah kurban. Ada ibadah yang terkait dengan spiritualitas dan sosial yang berbarengan sebagai satu paket ajaran Islam.  Kalau dipahami lebih mendalam Idul Adha adalah cerminan paket lengkap ritual Islam.

Pengangungan terhadap Tuhan tidak boleh menafikan aspek kemasyarakatan. Memuji Tuhan merupakan satu paket dengan peduli kepada nyawa manusia. Tidak ada pertentangan antar harus menyembah Tuhan dengan harus memelihara nyawa manusia. Semua adalah satu paket yang harmonis dan tidak dikotomik.

Islam yang mewarisi agama Ibrahim (millah Ibrahim) sebagai agama yang sangat menghargai nyawa manusia. Makna yang terkandung dalam Idul Kurban, yakni totalitas kepasrahan seorang muslim yang menyembah Allah dilarang untuk mengorbankan manusia demi Tuhan.

Inilah yang salah kaprah dewasa ini dengan segelintir orang mengorbankan nyawanya bahkan mengorbankan nyawa orang yang tidak berdosa atas nama membela Tuhan. Sangat ironi, cara beragama yang merasa dekat dengan Tuhan tetapi berani mengorbankan nyawa manusia. Tuhan bahkan telah mengajarkan kepada Ibrahim untuk tidak mengorbankan nyawa anaknya demi untuk memenuhi perintah Tuhan.

Baca Juga:  Anjuran Memulai Takbiran Memasuki Bulan Dzulhijjah : Kenali Dua Jenis Takbir Hari Raya Idul Adha Ini

Karena itulah, penting ditegaskan bahwa di hari raya kurban ini umat Islam harus menyembelih doktrin-doktrin yang berani mengorbankan nyawa demi kepentingan Tuhan. Doktrin ini tidak sejalan dengan doktrin kurban yang diwariskan oleh millah Ibrahim. Penting mendekonstruksi pemahaman yang radikal yang seolah berjuang demi Tuhan, tetapi mengorbankan nyawa manusia.

Kelompok radikal harus diajarkan untuk menyembelih ego dan nafsu dirinya yang ingin memangsa sesamanya. Terorisme sejatinya adalah korban ego hewani yang ingin memangsa manusia lainnya. Pemahaman kurban yang baik harus mampu mengajarkan bahwa tidak ada korban manusia untuk membela Tuhan. Itulah ajaran millah Ibrahim yang diwariskan kepada Islam.

Dua Doktrin Millah Ibrahim dalam Kurban

Ada dua makna yang penting dalam ibadah kurban. Pertama, kurban dengan menyembalih binatang secara simbolik adalah menyembelih sifat-sifat hewani yang ada dalam diri manusia. Pemotongan hewan kurban sendiri dapat diartikan dengan dibantainya perilaku kebinatangan dan perilaku setan seperti keserakahan maupun sikap takkabur yang terdapat dalam diri manusia.

Banyak manusia yang terjebak kepada sifat-sifat hewani dalam dirinya, terutama sifat angkuh yang enggan menerima nasihat dari siapapun karena merasa diriya sudah menjadi manusia yang benar. Sifat binatang yang bisa memangsa sesamanya demi kepentingan pribadi. Kurban berarti menyembelih sifat-sifat hewani yang suka memangsa tersebut.

Kedua, kurban dengan menyembelih hewan secara subtantif ingin mendekontruksi pemahaman manusia bahwa tidak ada nyawa manusia yang bisa dikorbankan demi kepentingan ibadah. Idul kurban yang lekat hubungannya dengan kisah Nabi Ibrahim memperlihatkan cara Allah mendekonstruksi cara ritual terdahulu.

Tuhan sedang mengajarkan kepada Nabi Ibrahim bahwa sejatinya pengorbanan itu harus dilakukan dengan ikhlas. Terpenting adalah keikhlasannya sehingga Tuhan menguji dengan sesuatu yang paling dicintai dalam hidup, yakni seorang anak. Namun, di sisi lain Tuhan juga mengajarkan bahwa pengorbanan yang total pun tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan nyawa manusia.

Baca Juga:  Bolehkah Berobat dengan Benda Najis atau Haram

Dahulu kala, ritual pengorbanan seperti dipeluk oleh orang Mesir kuno dilakukan dengan cara menenggelamkan gadis suci ke sungai Nil. Tradisi pengorbanan di Mesir tersebut sudah sangat mendarah daging hingga telah menjadi tradisi yang menyiksa masyarakat.

Ajaran Ibrahim yang diwariskan kepada Nabi Muhammad telah mendekontruksi pemahaman korban dari korban manusia untuk Tuhan menjadi dari korban demi Tuhan untuk manusia. Itulah ibrah tersirat dari digantinya Nabi Ismail oleh Malaikat Jibril dengan seekor domba. Bahwa berkorban demi Tuhan tidak harus menghilangkan nyawa manusia.

Bagikan Artikel ini:

About Ernawati

Avatar of Ernawati

Check Also

puasa tarwiyah dan arafah

Sudah Mendekati Idul Adha, Jangan Lupa Puasa Tarwiyah dan Arafah! Ini Dalil Keutamaan dan Niatnya

Hari raya Idul Adha tahun 2021 ini jatuh pada tanggal 20 Juli. Walaupun dalam kondisi …

pemuda islam

Kisah Pemuda yang Sangat Berhati-hati Menjaga diri dari Perkara Haram

Dikisahkan suatu hari seorang pemuda yang bernama Idris merasa kelaparan, iapun memutuskan untuk menghabiskan waktunya untuk beristirahat …