Puasa Hari Tasyrik
Puasa Hari Tasyrik

Di Balik Alasan Kenapa Dilarang Keras Berpuasa di Hari Tasyrik

Kenapa di hari agung, tasyrik, justru umat Islam dilarang keras berpuasa?


Hari Raya sudah dikenal sejak dahulu kala, bahkan sebelum Islam datang (Jahiliyah). Era jahiliyah hanya menjadikan hari raya hanya semata bersenang gembira, bersuka cita, bermain main. Hampa dari nilai nilai. Nihil dari kandungan makna makna.

Tak ayal lagi, Rasulullah merasa perlu untuk mereformulasi bentuk dan subtansi perayaan ini hingga menjadi bernilai dan bermakna. Idul Fitri dan Idul Adha menjadi sebuah ritual syari’at Islam. Bila Idul Fitri merajut tali asih, maka Idul Adha adalah berbagi rasa dengan sesama. Ibadah Kurban medianya. Bahkan di Idul Adha berbagi rasa terulur hingga hari ketiga yang kemudian masyhur dengan sebutan hari tasyrik.

Namun, di tengah kebahagian dan nuansa spiritual yang tinggi tersimpan misteri. Kenapa di hari agung, tasyrik, justru umat Islam dilarang keras berpuasa?

Disebut tasyrik karena di hari-hari tersebut daging-daging qurban didendeng (dipanaskan di bawah terik matahari) atau lebih tepatnya diawetkan agar masih layak santap dihari kemudian. Dan intinya agar nuansa berbagi rasa tetap terjaga.

Lalu kenapa mesti dilarang berpuasa? Diharamkan berpuasa di hari-hari tersebut karena hari-hari tersebut masih satu rangkaian dengan hari raya Idhul Adha, dan disebutkan dalam hadits, hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum.

Sabda Nabi :

وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة ، حدثنا محمد بن سابق ، حدثنا إبراهيم بن طهمان ، عن أبي الزبير ، عن ابن كعب بن مالك ، عن أبيه ، أنه حدثه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعثه وأوس بن الحدثان أيام التشريق ، فنادى ” أنه لا يدخل الجنة إلا مؤمن وأيام منى أيام أكل وشرب

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Ibn Abi Syaibah dari Muhammad Ibn Sabiq dari Ibrahim Ibn Thahman dari Abu Zubair dari Ka’ab Ibn Malik dari Bapaknya. Bahwa bapaknya menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengutusnya bersama Uwais bin Al Hadatsan pada Hari Tasyrik, lalu Rasulullah menyerukan bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang mukmin. dan Hari hari Mina (tanggal 11,12,13 saat Jama’ah lempar Jumrah) adalah hari makan dan minum. HR. Muslim, 1992.

Baca Juga:  Kaum Perusak Agama Itu Nyata, Ini Indikatornya!

Berbagi adalah cara seorang mukmin untuk mendapatkan sesuatu yang dihajatkan. Jika kita berharap untuk mendapatkan kekayaan, maka berbagilah dengan rezeki. Jika kita mendambakan kebahagiaan, maka berikanlah kebahagiaan itu kepada orang lain. Karena dengan berbagi kita dianggap pantas untuk menerima yang lebih dari apa yang kita bagi. Berbagi akan memperkaya rasa hidup kita. Berbagi adalah hak istimewa seorang mukmin.

Dihari tasyriq ini, marilah kita pastikan diri kita menjadi pribadi yang layak menerima. Caranya, dengan berbagi rasa dengan sesama. Hari tasyriq adalah masih masa masa berkurban. Berkurban dengan yang terbaik apa yang kita miliki. Allahu akbar allahu akbar allahu akbar walillahi ilham.

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo