waktu kurban
waktu kurban

Hari Tasyrik, Perbedaan Ulama tentang Waktu Kurban

Idul Adha memiliki dua sebutan popular, Idul Hajji (hari Raya Haji) dan Idul Qurban (Lebaran Qurban). Disebut hari raya haji, karena Ibadah haji belumlah usai. Sebab tanggal 11,12,13 Dzul Hijjah atau yang lebih masyhur dengan istilah hari Tasyrik, Jamaah haji masih dituntut untuk melontar Jumrah.  

Lalu bagaimana dengan Idul Qurban? Apakah proses penyembelian kurban juga bisa dilakukan di hari hari tasyrik ini?

Terjadi perselisihan fatwa soal waktu kurban atau waktu menyembelih hewan kurban. Pertama, Madzhab Hanafiyah. Menurut Madzhab ini prosesi penyembelihan hewan kurban bisa dimulai saat terbitnya Fajar di Hari Adha (10 Dzul Hijjah) dan berakhir waktunya hingga hari ketiga yaitu tanggal 12 Dzul hijjah.

Mereka berdalil dengan fatwa shahabat Umar Ibn al-Khaththab dan Ali Ibn Abi Thalib  dan Ibnu Abbas yang menagatakan

أيام النحر ثلاثة، أفضلها أولها

Hari hari berkurban itu tiga hari (tanggal 10,11,12 Dzul Hijjah) waktu yang lebih utama adalah hari pertama. Nashb al-Rayah, 4/213

Menurut mereka, namun, bagi mereka yang hidup di daerah Perkotaan yang gampang menemukan tempat untuk menunaikan shalat idul Adha, tidak boleh berkurban, kecuali setelah rampung menunaikan shalat idul Adha. Bagi mereka yang hidup jauh dipelosok Desa, yang sulit atau tidak menemukan tempat untuk menunaikan shalat idul Adha, boleh berkurban (menyembelih hewan kurbannya) setelah fajar menyingsing.

Kedua, Madzhab Malikiyyah. Dalam pandangan madzhab ini. Awal waktu berkurban ialah setelah usainya pelaksanaan shalat idul Adha, bagi Imam sekaligus Khatib yang hendak berkurban. Bagi selain Imam dan Khatib, menunggu Imam selesai menyembelih hewan kurbannya. Atau seukuran waktu Imam menyembelih hewan kurbannya. Waktu berkurban ini, menurut mereka, berakhir sampai terbenamnya matahari di hari ke tiga dari idul Adha (tanggal 12 Dzul Hijjah).

Baca Juga:  Mengqadha’ Puasa Orang Lain, Bagaimana Hukumnya ?

Ketiga, Madzhab Syafiiyah. Awal berkurban menurut madzhab ini ialah saat terbitnya matahari dan meninggi seukuran Panjang tombak (waktu shalat Dhuha) di hari nahr (10 Dzul Hijjah). Hingga waktu berkurban berakhir di hari ketiga di hari tasyriq yaitu tanggal 13 Dzul Hijjah.

Sabda Nabi

وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

Seluruh hari hari Tasyriq adalah waktu untuk berkurban. HR: Baihaki: 10525

Keempat, Madzhab Hanabilah. awal waktu berkurban (menyembelih hewan kurban) ialah setelah shalat idul Adha, dan setelah Imam berkurban; baik mereka yang hidup di daerah perkotaan ataupun di daerah pelosok desa. Dan berakhir sampai hari kedua di hari tasyriq yaitu tanggal 12 Dzul Hijjah. Madzhab ini merupakan kombinasi fatwa Syafiiyah dan Hanafiyah. Al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu, 4/255-258.

Menelaah dari perbedaan madzhab ini, sesungguhnya keempatnya sepakat bahwa awal waktu berkurban ialah setelah shalat idul Adha taggal 10 Dzul Hijjah. Namun akhir waktu berkurban, ada perselisihan antara Madzhab Syafiiyah dan Jumhur. Syafiiyah berakhir tanggal 13 Dzul Hijjah sementara Jumhur (Hanafiyah, Malikiyyah dan Hanabilah mengatakan berakhir tanggal 12 Dzul hijjah. Artinya ada waktu 3 hingga 4 hari untuk melakukan kurban (menyembelih hewan kurban).

Jika Idul Adha, kita rayakan hari Selasa, 20 Juli 2021 M, maka berarti masih tersisa dua hingga tiga hari kedepan untuk menyelenggarakan prosesi penyembelihan hewan kurban, terakhir hari Kamis, 22 Juli 2021 M atau hari Jum’at, 23 Juli 2021 M. yang kebetulan memiliki Rizki di hari hari itu, ayo, gunakan kesempatan ini sebaik baiknya, tetaplah melakukan kebaikan walaupun dalam kondisi yang tidak begitu baik. Sembari berharap, ujian Wabah ini segera berakhir.  

Lalu bagaimana jika hewan kurban itu disembelih pada malam hari?

Baca Juga:  Zakat Fitrah (5) : Berapa Ukuran Zakat Fitrah Yang Benar?

Nabi bersabda :

عن البراء ، قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يخطب ، فقال : ” إن أول ما نبدأ من يومنا هذا أن نصلي ، ثم نرجع ، فننحر فمن فعل فقد أصاب سنتنا

dari [Al Bara’] berkata, Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah, sabdanya: “Pertama kali yang akan kita kerjakan pada hari ini (10 Dzul Hijjah) adalah shalat, kemudian kembali pulang dan menyembelih hewan kurban. Maka barangsiapa mengerjakan seperti ini bararti dia telah memenuhi sunnah kami: HR: Bukhari 898

Berdasarkan hadits ini seluruh Ulama’ Madzhab; Hanafiyah, Malikiyyah, Syafiiyah dan Hanabilah sepakat untuk menghukumi makruh menyembelih kurban pada malam hari. Alasannya karena akan mengalami kesulitan untuk mendistribusikan daging kurban, jika hal ini terjadi maka tujuan dari kurban itu akan hilang. Al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu, 4/255-259

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

maulid nabi

Masih Pantaskah Maulid Nabi Digugat? : Paradok Pemikiran dan Tindakan Wahabi

Salafi-Wahabi kukuh melarang keras pengkultusan terhadap diri Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallamadan ulama’. …

sedekah kepada mayit

Sedekah Al Fatihah Bagi Jenazah di Alam Barzah

Masih saja ada sekelompok manusia yang mempertanyakan sedekah dengan membaca Al Fatihah bagi orang yang …