Hari Tasyrik
Hari Tasyrik

Penamaan dan Amalan terbaik di Hari Tasyrik

Kenapa dinamakan hari tasyrik? Lalu apa amalan terbaik yang dilakukan di hari tasyrik?


Hari Tasyrik merupakan hari yang sangat diagungkan oleh Allah. Khusus di bulan Dzulhijjah, kemuliaannya menempati ranking kedua setelah hari raya Idul Adha. Keagungan hari Tasyrik ini disebut dalam al Qur’an. Allah berfirman, “Ingatlah Allah pada Ayyam Ma’dudat (hari-hari tertentu)”. (QS. Al Baqarah: 203).

Adapun yang dimaksud Ayyam Ma’dudat dalam ayat ini tak lain adalah hari Tasyrik. Seperti telah dijelaskan oleh Nabi riwayat Abu Salamah. Rasulullah bersabda, “Bahwasanya hari itu (Ayyam Ma’dudat) adalah hari makan dan minum serta dzikir” (HR. Ahmad).

Hari makan dan minum pada hadis ini menandaskan keharaman puasa pada hari Tasyrik. Selain itu, karena makan dan minum dapat menguatkan jamaah haji untuk menunaikan kewajibannya. Sehingga seluruh ritual rukun Islam yang kelima ini dapat dikerjakan secara sempurna.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil pendapat Ibnu Abbas menjelaskan, yang dimaksud Ayyam Ma’dudat tak lain adalah hari Tasyrik, yakni tiga hari setelah hari raya Idul Adha. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu Umar dan mayoritas ulama. Sedangkan menurut sebagian ulama, hari Tasyrik adalah hari raya Idul Adha dan tiga hari sesudahnya.

Keterangan senada terdapat dalam Kitab al Shaumu min Shahih al Bukhari, Abdullah al Rauqiy menjelaskan, hari Tasyrik adalah tiga hari berturut-turut setelah hari raya Idul Adha atau hari raya Kurban. Dimulai dari tanggal sebelas sampai tiga belas bulan Dzulhijjah. Keterangan yang sama bisa dibaca dalam Mu’jam Lughah al Fuqaha.

Sebab Penamaan Hari Tasyrik

Sebagaimana ditulis oleh Makki bin Abi Thalib dalam makalahnya yang berjudul Al Hidayah ila Bulughi al Nihayah, diberi nama hari Tasyrik karena pada hari-hari itu umat Islam memotong atau mengiris daging kurban untuk dikeringkan di bawah terik matahari. Satu-satunya cara untuk mengawetkan daging pada masa itu.

Baca Juga:  Pamer Kemesraan dengan Pasangan di Media Sosial, Bolehkah?

Pendapat lain mengatakan, seperti ditulis oleh Jalaluddin al Suyuthi dalam Al Tausyih Syarhi al Jami’i al Shahih, disebut hari Tasyrik karena penyembilahan hewan kurban dilakukan setelah terbit Matahari.

Sebagian lain mengatakan, penyebutan hari Tasyrik karena pada hari itu para jamaah haji di Mina menunggu terbitnya matahari tanpa pelindung dari terik matahari seperti bangunan dan rumah. Hal ini seperti ditulis oleh Muhammad al Faqihi dalam Akhbar Makkata fi Qadim al Dahri wa Haditsihi.

Sedangkan menurut Badruddin al ‘Aini dalam ‘Umdatu al Qari Syarh Shahih Muslim, hari Tasyrik adalah shalat Idul Adha sebab dikerjakan setelah terbitnya matahari dan naiknya matahari.

Inilah asal muasal pemberian nama hari Tasyrik. Hari agung kedua di bulan Dzulhijjah setelah hari raya Idul Adha. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi kita selaku penganut agama Islam untuk memanfaatkan momentum hari Tasyrik dengan melakukan amalan-amalan yang dianjurkan oleh syariat Islam. Seperti takbir dan dzikir.

Bagikan Artikel

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri