Darah Daging
Darah Daging

Konsumsi Darah yang Melekat dalam Daging

Hari raya kurban ini identik dengan pesta makan daging. Hampir setiap sudut rumah warga di perkotaan dan perkampungan bersuka cita menyantap hidangan serba daging. Namun, kadang ada keresahan dan keragu-raguan dalam memasak daging yang tertempel darah. Dimafhumi dalam Islam bahwa darah merupakan sesuatu yang najis dan haram untuk dikonsumsi.

Meski sudah sangat dibersihkan, namun terkadang daging segar akan selalu mengeluarkan darah di sela-sela dagingnya. Banyaknya darah dalam daging dan juga darah dalam tulang yang tidak dapat kita hindari ketika kita hendak memasak. Jadi apakah daging yang seperti itu status haram dikonsumsi atau najis ?

Dalam surat al-An’am Allah menjelaskan bahwa:

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang memancar atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am: 145)

Dalam ayat di atas Allah memberikan keterangan tambahan bahwa darah yang haram itu adalah darah yang memancar. Yang disebut dengan darah yang memancar dalam istilah usul disebut muqayyad, artinya darah yang diharamkan pada surat di atas, dipahami sebagai darah yang memancar dan bukan untuk semua jenis darah.

Darah yang memancar adalah darah sesungguhnya. Seperti orang yang dengan sengaja memasak darah binatang yang telah mati atau yang masih hidup dengan cara dimasak langsung atau dibekukan dulu kemudian digoreng dan dimakan.

Baca Juga:  Mengambil Barakah Tulisan Al Qur’an Pengobatan, Bid’ah Atau Wasilah?

Perihal keharaman itu terkait dengan darah yang sengaja dialirkan dari hewan hidup yang ditusuk, kemudian mengeluarkan darah dan ditampung untuk dikonsumsi. Sementara hewannya masih dibiarkan hidup. Darah yang dihasilkannya juga termasuk darah yang memancar. Kebiasaan buruk dengan menyiksa binatang Ini merupakan salah satu kebiasaan sebagian masyarakat jahiliyah.

Sementara, daging yang di sela-selanya terselip darah dan tidak sampai mengalir seperti darah yang tersisa pada daging, gajih  atau tulang dari hewan yang boleh dimakan dagingnya itu termasuk najis yang diampuni.

Jadi, sisa darah yang biasa melekat pada daging tergolong najis yang dima’fu atau dimaafkan sehingga ketika daging sudah dibersihkan dengan sungguh-sungguh namun darah ini tetap melekat dalam daging maka darah tersebut bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan dan daging tetap halal untuk dikonsumsi.

Bagikan Artikel

About Dodik Triyanto

Avatar