Perbedaan Hukum Memakan Daging Kurban
Perbedaan Hukum Memakan Daging Kurban

Hanya dengan hitungan hari, umat seluruh umat Islam kembali merayakan perayaan hari besar Idul Adha. Hari besar yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban ini selalu disambut dengan penuh kegembiraan oleh segenap masyarakat Indonesia.

Salah satu ibadah sangat penting di hari raya tersebut adalah ibadah kurban. Kurban merupakan ibadah yang hukumnya sunah muakkad untuk dilakukan pada hari raya Idul adha hingga hari-hari tasyriq. Yang perlu kita ketahui, kepada siapa saja daging hewan kurban tersebut dapat dibagikan. 

Perlu di ketahui, kurban terbagi menjadi dua, yakni kurban nadzar yang hukumnya wajib dan kurban tanpa nandzar hukumnya sunnah. Kenapa ini sangat penting karena ada beda hukum memakan daging kurban dari dua klasifikasi tersebut.

Kurban nadzar ialah kurbannya seseorang yang telah bernadzar akan melakukan kurban. Semisal seorang pegawai bernadzar, ketika dia diangkat menjadi pegawai tetap maka dia akan berkurban. Maka orang tersebut wajib melaksanakan nadzarnya tersebut. 

Sedangkan kurban sunnah adalah dilakukan dengan tanpa niat nadzar. Mereka yang masuk kategori mampu sangat dianjurkan untuk melaksanakan ibadah kurban ini.

Lalu, pertanyaanya siapa saja yang boleh memakan daging yang telah dikurbankannya. 

Orang yang berkurban sunnah dan berhak memakan maksimal sepertiga dari daging kurbannya sebagaimana keterangan berikut ini : 

ولا يأكل المضحي شيئا من الأضحية المنذورة) بل يتصدق وجوبا بجميع أجزائها (ويأكل) أي يستحب للمضحي أن يأكل (من الأضحية المتطوع بها) ثلثا فأقل 

Artinya, “(Orang yang berkurban tidak boleh memakan sedikit pun dari ibadah kurban yang dinazarkan [wajib]) tetapi ia wajib menyedekahkan seluruh bagian hewan kurbannya. (Ia memakan) maksudnya orang yang berkurban dianjurkan memakan (daging kurban sunnah) sepertiga bahkan lebih sedikit dari itu,” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Al-Maktabah Al-Asadiyyah: 2014 M/1434 H] halaman 207). 

Orang yang telah berkurban sunnah, maka ia boleh memakan sebagian dari daging hewan kurban tersebut, dan membagikannya kepada fakir miskin. Selain itu orang yang berkurban sunnah memiliki larangan untuk tidak menjual bagian apa pun dari hewan kurbannya. 

Hal ini berbeda dengan hukum memakan daging kurban bagi kurban nadzar. Untuk kurban wajib atau nadzar ini, orang yang berkorban dan keluarga yang wajib dinafkahinya tidak boleh memakannya. Alasannya adalah karena ketika sebuah nadzar sudah sah terlaksana menurut syara’, maka hewan tersebut sudah terlepas dari kepemilikan orang yang berkorban, dan wajib di berikan kepada orang-orang fakir. 

Syekh Muhammad Nawawi bin Umar menegaskan: 

 ولا يأكل المضحي ولا من تلزمه نفقته شيأ من الأضحية المنذورة حقيقة أو حكما 

Artinya, “Orang berkurban dan orang yang wajib ia nafkahi tidak boleh memakan sedikitpun dari kurban yang dinazari, baik secara hakikat atau hukumnya”. (Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani, Tausyikh ‘Ala Ibni Qasim, hal. 531). 

Dengan demikian, bisa dipahami bahwa daging hewan kurban boleh dimakan oleh pihak yang berkurban hanya apabila kurbannya adalah kurban sunah. Sehingga untuk kurban wajib akibat nadzar hukumnya tidak boleh.  Dalam berkurban sunnah maupun wajib diperbolehkan untuk disembelih sendiri dan boleh juga diwakilkan kepada orang lain. Kedunya sama-sama disyaratkan dengan niat. Waktu melakukan niat bisa dilakukan saat menyembelih atau ketika memisahkan hewan yang ingin dibuat kurban dengan hewan lainnya. Dan niat berkurban juga boleh dilakukan sendiri atau diwakilkan kepada orang lain.