Belajar Perdamaian Dari Perjanjian Hudaibiyah
Belajar Perdamaian Dari Perjanjian Hudaibiyah

Islam Kaffah – Sejak pertama Islam diwahyukan kepada Rasulullah SAW, sejarah mengidentikan dengan berbagai macam peperangan. Mulai dari perang Badar, Uhud,  Khandaq, Bani Quraidhah, Khaibar hingga perang Tabuk. Sehingga tidak heran jika ada sebagian kelompok yang menyatakan bahwa Islam merupakan agama pedang.

Bahkan dalam buku Tarbiyah Jihadiyah karangan Dr. Abdullah Yusuf Azzam, seorang yang mendapat julukan Bapak Jihadis Afghanistan, tertulis bahwa perintah Jihad lebih tinggi dibanding perintah menegakkan shalat. Ditulisnya, bahwa jika seseorang sedang melaksanakan perintah Jihad (berperang), maka kewajiban melaksanakan ibadah shalat bisa ditangguhkan.

Tidak bisa dipungkiri, masa awal pergerakan dakwah Islam di wilayah Makkah memang penuh dengan pro-kontra dan peperangan. Beberapa ayat Al-Qur’an pun turut membenarkan asumsi bahwa Islam memang identik dengan jihad dan perang. Diantaranya tertulis dalam Q.S Al-Baqarah: 190-191, 216, 218, 244, 236, Q.S Ali Imran: 142, Q.S An-Nisa: 95 dan Q.S Al-Anfal: 72.

Namun bukan berarti semasa hidup Rasulullah SAW hanya habis untuk berperang dan berperang. Ada masa dimana beliau menghendaki perdamaian. Seperti yang tercermin dalam Perjanjian Hudaibiyah (Maret, 628 M/Dzulqa’dah, 6H).

Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian itu bermula ketika Beliau bermimpi, dan dalam mimpinya tersebut Rasulullah bersama para Sahabat masuk ke dalam Masjidil Haram untuk melaksanakan Thawaf, Sa’i, lalu diakhiri dengan bertahallul. Rupanya mimpi tersebut tak sekadar bunga tidur belaka, Allah SWT menurunkan firman melalui malaikat Jibril yang tertulis dalam Q.S Al-Fath: 27.

Melalui isyarat tersebut, maka pada hari Senin Bulan Dzul-Qa’dah tahun keenam hijriah, Rasulullah SAW berencana akan melaksanakan umrah ke Makkah.  Berita itu pun tersebar luas ke kalangan penduduk Madinah, khususnya yang berasal dari Makkah yakni kaum Muhajirin. Bagi mereka, Makkah adalah segalanya. Oleh karena itu, sejak tersiar kabar keberangkatan Rasulullah SAW ke Makkah, maka hampir seluruh kaum Muhajirin ikut. Totalnya mencapai 1.400 atau 1.500-an orang. Mereka sama sekali tidak membawa senjata kecuali untuk pertahanan diri, karena memang niat awal hanya untuk melepas kerinduan dengan Tanai Air, yakni dengan berumroh.

Sayangnya, tersiar kabar bahwa para pemuka agama di Makkah menolak keras untuk memberikan izin kepada kaum Muslimin masuk ke wilayah mereka. Mereka juga telah menyiapkan pasukan untuk menghalau kedatangan Nabi. Akhirnya Nabi bermusyawarah dengan para Sahabat, mereka pun bersepakat bahwa perjalanan tetap dilanjutkan.

Naas, terpaksa rombongan umrah harus berhenti akibat dihadang di Hudaibiyah, yang letaknya beberapa Kilometer dari kota Makkah. Melihat kejadian tersebut, maka Rasulullah mengutus Khalifah Utsman bin Affan untuk menemui para pemuka di Makkah. Namun ternyata tidak berhasil, yang ada justru tersiar kabar kematian Khalifah Utsman. Maka Rasulullah SAW mengumpulkan pasukannya untuk melaksanakan Bai’at Ridwan di bawah sebuah pohon.

Singkat cerita, karena enggan berperang, Rasulullah menyepakati perjanjian damai yang isinya tak lain adalah genjatan senjata dari pihak pemuka Makkah dan kaum Muslimin Madinah. Dari dokumen kesepakatan yang dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah ini, umat Islam merasa sangat diuntungkan.

Pertama, karena wilayah dakwah Islam menjadi lebih luas dan leluasa. Sehingga Islam bisa memperluas wilayah dakwahnya hingga ke Jazirah Arab, selain Kota Makkah. Kedua, wilayah Madinah menjadi lebih aman dari penyusupan. Ketiga, umat Islam lebih leluasa datang ke Makkah untuk berumroh. Sayangnya, perjanjian yang semula disepakati oleh kedua belah pihak berlangsung selama 10 tahun, rupanya hanya bisa bertahan selama 2 tahun.

Hikmah Perjanjian Hudaibiyah

Ada beberapa hikmah dari perjanjian tersebut. Tak lain adalah biaya peperangan menjadi berkurang dan bisa dialokasikan untuk membangun perekonomian masyarakat Madinah. Dengan adanya genjatan senjata, berarti mengurangi dampak korban jiwa akibat peperangan. Kesempatan emas tersebut menjadi celah bagi umat Islam untuk memperlebar kawasan dakwah hingga ke manca negara.

Selain itu, peluang mendapat hidayah bagi kaum penentang dakwah Nabi juga amat besar. Hal tersebut dibuktikan dengan masuknya dua tokoh besar kaum Quraisy, yakni Amr bin Ash dan Khalid bin Walid menjadi pengikut dakwah Rasul. Akibatnya, pasukan Makkah mengalami penyusutan pasukan, hingga mengakibatkan mereka kalah dan menyerah tanpa perlawanan.

Yang Perlu Dicatat dari Perjanjian Hudaibiyah

Ada setidaknya dua poin utama yang perlu kita catat dalam perjanjian ini. Pertama, perjanjian Hudaibiyah menjadi awal terjadinya gencatan senjata dari pihak Kafir Quraisy dan Muslim. Yah, meskipun perjanjian ini tidak berjalan seperti harapan, yakni hanya berlangsung selama dua tahun. Namun ini dirasa cukup untuk membuktikan bahwa Islam bukanlah agama yang terus-terusan mengajak untuk berperang, namun ada kalanya untuk bersepakat tidak berperang alias genjatan senjata.

Poin kedua, adalah kesabaran dan sikap mengalah. Dimulai dari penulisan perjanjian yang tidak menggunakan lafadz Basmalah namun diganti menggunakan lafadz “Bismikallahumma” , yakni lafadz yang sering diucapkan kaum Kafir Quraisy Makkah, hingga Kenabian Muhammad SAW yang tidak diakui dibuktikan dengan penulisannya yang diubah menggunakan nama “Muhammad bin Abdillah.” Rasulullah SAW sama sekali tidak marah bakan protes.  Belakangan diketahui ternyata hal tersebut dilakukan untuk menghormati masyarakat Makkah supaya umat Islam masih tetap bisa melaksanakan Umrah tanpa ada pertentangan dari pihak Kafir Quraisy.

Akhirnya, perjanjian Hudaibiyah menjadi awal mula sejarah perdamaian umat Islam dengan kalangan musuh. Setelah sebelumnya Rasulullah SAW menciptakan dokumen perjanjian damai yang disebut dengan Piagam Madinah. Sebagai umat Islam, kita perlu meniru kesabaran dan sifat mengalah ala Rasulullah SAW dalam kondisi tertentu, demi menciptakan kemaslahatan yang lebih besar. Sehingga, sebuah kekeliruan jika menilai Islam hanya dalam segi sejarah peperangannya. Kita juga harus adil dengan menilai dari segi perdamaian dan toleransinya yang dicerminkan dalam beberapa peristiwa penting. Perdamaian dan toleransi itulah yang perlu dipupuk dan dilestarikan hingga kini dan masa depan nanti. Supaya Islam menjadi agama sebagaimana dicita-citakan khalayak umum: Rahmatan Lil Alamin, Rahmat Bagi Seluruh Alam tanpa terkecuali dan mengecualikan.