Wukuf Arafah
Wukuf Arafah

Puasa Arafah dan Wukuf di Arafah adalah dua entitas yang berbeda. Dikatakan berbeda karena puasa Arafah tidak ada hubungannya dengan wukuf. Sebab itu, perdebatan klasik yang sering muncul adalah apakah puasa Arafah harus ikut hasil rukyat negara Saudi atau ikut rukyah lokal negara tertentu?

Problem ini akan hilang jika rukyah Saudi sama persis dengan semua negara di dunia. Namun, walau ada kemungkinan seperti itu tapi mustahil untuk terjadi. Sebab negara yang bertetangga saja hasil rukyahnya sulit untuk sama. Apalagi negara yang letaknya berjauhan. Seperti Indonesia dengan Arab Saudi.

Berdasar pada problem inilah kemudian ulama kalangan madzhab Syafi’i memutuskan bahwa pemberlakuan hasil rukyah sifatnya lokalitas. Hanya negara tertentu saja. Maka penentuan tanggal 9 Dzulhijjah berdasar pada hasil rukyah negara masing-masing dan tidak mengikuti negara Arab Saudi. Sebab itu pula maka puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah bisa berbeda hari pelaksanaannya antar negara di planet dunia ini.

Sebagaimana disinggung di awal, puasa Arafah tidak memiliki keterkaitan dengan aktivitas wukuf jamaah haji di padang Arafah. Sebab, pensyariatan puasa Arafah ini lebih dulu terjadi sebelum haji wada’. Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah telah disunnahkan sebelum adanya wuquf Nabi di Arafah pada saat haji wada’.

Analisa ini berangkat dari fakta bahwa ayat-ayat al Qur’an tentang perintah ibadah haji baru turun pada tahun wufud, yakni tahun ke-9 Hijriyah. Pada tahun ini pula Abu Bakar diperintahkan oleh Nabi untuk memimpin pelaksanaan ibadah haji. Rentang waktu haji yang dipimpin oleh Abu Bakar ini dengan haji wada’ hanya satu tahun. Sedangkan bila menilik hadis-hadis Nabi tentang puasa sunnah Arafah dan puasa yang lain di sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah telah dilakukan oleh Nabi setiap tahun di masa hidup beliau.

Dari sinilah kemudian ulama membuat penekanan bahwa puasa Arafah hanya terkait dengan tanggal 9 Dzulhijjah, bukan dengan wukufnya jamaah haji di padang Arafah. Hal ini sebagaimana ditulis oleh Imam Zakaria al Anshari dalam karyanya Fathu al Wahhab, disunnahkan puasa pada hari Arafah, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Senada dengan pendapat ini, Imam Syarbini dalam Mughni al Muhtaj juga menegaskan kesunnahan puasa pada hari Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Demikian pula Imam Ramli dalam Nihayatu al Muhtaj.

Dengan demikian, penekanan untuk puasa sunah Arafah harus dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah dan tidak berpatokan dengan aktivitas wukuf para jamaah haji di padang Arafah. Hal ini untuk menegaskan bahwa meski wukuf di Padang Arafah dan puasa sunnah Arafah memiliki kesamaan nama namun merupakan dua entitas yang berbeda.