Bayi Gugur
Bayi Gugur

Ragam Pendapat Mengenai Hukum Memberi Nama Bayi yang Gugur

Dalam Islam, diantara kesunnahan ketika bayi baru lahir adalah memberinya nama pada hari ketujuh. Yang demikian berdasarkan hadis sebagaimana terdapat dalam kitab Imam Tirmidzi melalui Amr ibn Syu’aib, dari ayahnya, kakeknya menceritakan bahwa:

Nabi Muhammad Saw memerintahkan untuk memberi nama bayi yang baru lahir pada hari yang ketujuh, begitu pula melenyapkan kotoran dan mengakihkahinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2834).

Dan sunnah ini nampaknya sudah sangat mengakar pada hampir seluruh umat Islam, terutama di Indonesia. Bahkan, karena kesunnahan ini pula, jamak kita jumpai jauh sebelum sang buah hati lahir (masih dalam kandungan), para pasangan suami istri (pasutri) sudah menyiapkan nama terbaik untuk buah hatinya itu.

Namun, adakalanya janin yang ada dalam kandungan itu mengalami keguguran. Banyak faktor yang menyebabkan keguguran, diantara yang paling umum adalah keguguran di usia muda karena kelainan kromoson seperti sindrom down. Dari sini timbul pertanyaan, apakah orang tua tetap harus memberi nama anaknya yang keguguran itu?

Terkait pembahasan ini, penulis hendak merujuk kitab yang sangat muktabar dan bisa disebut sebagai kitab induk bagi kalangan santri, yakni Al-Adzkar karya Imam Nawawi. Dalam kitab tersebut dijelaskan hukum memberi nama bayi yang meninggal dunia, baik meninggal ketika dalam kandungan maupun setelah keluar dari kandungan.

Disunnahkan memberi nama pada bayi yang meninggal karena keguguran. Lantas, apabila orang tua belum mengetahui jenis kelaminnya—karena suatu hal—maka para ulama memberikan pendapat bahwa diberi nama yang dapat dipakai untuk laki-laki dan perempuan seperti Asma, Hindun, Kharijah, Zur’ah dan nama-mana lainnya. (Imam Nawawi, Al-Adzkar).

Pendapat Imam Nawawi tersebut senada dan mewakili Madzhab Syafi’iyah. Sementara itu, ulama Hanbaliyah (Hanabilah-red) juga berpendapat sama, yakni meski sudah meninggal sejak dalam kandungan, selama sudah berbentuk manusia atau ditiupkan ruh, maka tetap diberi nama, sebagaimana dikatakan oleh ulama Hanabilah Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni. Lebih lanjut, Ibnu Qudamah menjelaskan pula bahwa kelak, janin tersebut pada hari kiamat akan dipanggil dengan namanya. Karena itu, janin tersebut seyogyanya tetap diberikan nama.

Baca Juga:  Orang Tua Jangan Cuek, Kenali Fase dan Tanda Baligh Anaknya

Sementara, menurut madzhab Hanafiyah dan Malikiyah, jika keluar dari perut ibunya tak ada tanda kehidupan seperti menangis atau berteriak, maka tak diberi nama. Pendapat yang demikian itu terdapat dalam kitab Bada’i as-Shana’i, jilid I, hlm. 302, karya ulama Hanafiyah Syekh Alauddin al-Kasani. Dan dalam kitab rujukan utama Madzhab Malikiyah, yakni al-Mudawwanah karya Imam Malik bin Anas.

Demikian hukum memberi nama untuk bayi yang gugur. Dari perbedaan yang terjadi diantara para ulama madzhab sebagaimana diuraikan di atas, penulis lebih condong pada pendapat ulama Syafi’iyah dan Hanabilah, yang menyebutkan bahwa hukumnya sunnah dan seyogyanya bayi tersebut diberi nama.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir