Niat
Niat

Perbaikilah Niat dan Tujuanmu: 2 Keburukan Terkadang Dianjurkan untuk Tujuan Kebaikan

Hadist populer dari Rasulullah yang darinya muncul berbagai kaidah hukum fikih dalam Islam adalah “sesungguhnya semua perbuatan tergantung pada niatnya”. Niat menjadi pembeda antara pekerjaan yang biasa menjadi kegiatan berpahala. Niat adalah suatu I’tikad dalam hati tentang tujuan suatu pekerjaan. Karena itulah, tujuan menjadi tolak ukur dalam menilai kebaikan.

Terkadang suatu pekerjaan bernilai mulia secara penampakan, tetapi sesungguhnya ia tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah. Ada kisah dalam suatu hadist Rasulullah tentang seorang mujahid yang begitu bangga akan masuk surga karena mati di medan perang. Namun, apa yang diterima adalah neraka karena persoalan niat dan tujuan. Setelah ditelisik ternyata tujuan perangnya bukan mencari ridha Allah, tetapi agar dikenal populer sebagai pejuang dan mati syahid di medan laga.

Niat dan tujuan menjadi sangat penting dalam Islam. Bukan sekedar perbuatan itu nampak baik, tetapi kebaikan itu harus dimulai sejak dalam hati dan pikiran. Sebaliknya, terkadang suatu perbuatan buruk menjadi kebaikan jika tujuannya untuk kebaikan. Tidak percaya?

Islam tentu sangat menginginkan umatnya dengan perilaku yang baik dan akhlak yang mulia. Sifat iri hati misalnya sangat dilarang dalam Islam karena akan merusak hati manusia. Begitupun dengan perilaku bohong. Kebohongan bahkan menjadi ciri dari seorang munafik yang harus dijauhi oleh setiao umat.

Namun, dalam kasus tertentu dua keburukan itu menjadi kebaikan, bahkan dianjurkan karena adanya niat dan tujuan yang baik. Keburukan yang pertama yang diperbolehkan terdapat dalam suatu hadist berikut :

Dari Ibnu Umar r.huma, berkata bahwa Rasulullah SAW Bersabda: “Tidak diperbolehkan hasad (iri hati) kecuali terhadap dua orang: Orang yang dikaruniai Allah (kemampuan membaca/menghafal Alquran). Lalu ia membacanya malam dan siang hari, dan orang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menginfakannya pada malam dan siang hari.” (Hr. Bukhari, Tarmidzi, dan Nasa’i).

Baca Juga:  Keutamaan Berdzikir di Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah

Iri hati (hasad) tentu perbuatan yang jelek. Tetapi jika kita iri diarahkan kepada tujuan kebaikan keburukan itu berubah menjadi kebaikan. Seseorang yang iri kepada orang yang shaleh dan orang kaya yang menafkahkan untuk Alllah menjadi iri yang bertujuan memotivasi diri. Jelas dalam kasus ini iri hati menjadi sesuatu yang boleh bahkan dianjurkan.

Kemudian keburukan kedua yang diperbolehkan adalah berbohong sebagaimana dalam hadist yang sebenarnya sudah cukup populer sebagai berikut :

Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata: ‘Saya tidak pernah mendengar diperbolehkannya dusta yang diucapkan oleh manusia kecuali dalam tiga hal, yaitu: (1) dusta dalam peperangan (2) dusta untuk mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai, dan (3) dusta suami terhadap istri atau istri terhadap suami (untuk meraih kebahagiaan atau menghindari keburukan). (HR. Muslim No 4717).

Kenapa hal buruk seperti dusta atau bohong dibolehkan dalam kasus di atas? Tentu sekali lagi karena niat dan tujuannya untuk kebaikan. Berbohong dalam perang adalah bagian dari strategi untuk meraih kemenangan di jalan Allah. Orang kadang harus berdusta untuk mendamaikan kedua belah pihak dengan menceritakan kebaikan yang dibuat-buat.

Dan ketiga ini harus betul-betul dipahami bukan untuk dijadikan dalil berbohong kepada pasangan. Menyatakan fakta yang tidak sebenarnya dalam kasus pasangan diberbolehkan selama bohong itu bukan untuk menipu tetapi kebaikan. Seseorang suami yang ditanya tentang masakan istrinya yang tidak enak boleh berkata enak untuk menyenangkannya.

Karena itulah, kasus-kasus ini menjadi penting dipelajari untuk menarik sebuah kaidah bahwa semua perkara tergantung niat dan tujuan. Sesuatu yang tidak boleh akan menjadi boleh ketika tujuan itu untuk kebaikan. Seseorang dalam Islam tidak boleh menatap yang berbeda mahram kecuali dalam beberapa hal misalnya untuk mengajar atau mengobati.

Baca Juga:  Adab Bangun Tidur ala Rasulullah

Karena itulah, sekali lagi niat dan tujuan menjadi sangat penting sebagai pijakan dalam kehidupan kita. Perbaikilah niat kita dalam hal kebaikan. Bahkan terkadang ketika suatu yang buruk pun dilakukan untuk niat dan tujuan kebaikan dalam hal tertentu ditoleransi bahkan dianjurkan. Sebaliknya, kadang perbuatan yang agung dan mulia secara dhahir, ternyata tidak bernilai apapun di sisi Allah karena salah dan buruknya niat dan tujuan.

Bagikan Artikel

About Farhah Salihah