Setiap hari raya kita akan selalu bergembira Hari raya bukan saja kita khusyu bertakbir kepadaNya tapi juga mengumandangkan kebahagiaan kepada sesama Apalagi di hari raya Idul Adha berbagi kebahagiaan adalah prinsip pesan utama yang diajarkan Nabi Muhammad SAW Selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ada hari mulia yang selalu dikumandangkan takbir di dalamnya Yakni hari tasyri hari tanggal 11 12 dan 13 Dzulhijjah Hari tasyrik ini adalah waktunya kita makan minum dan bertakbir Kemuliaan hari tasyrik ini ditegaskan dalam al Quran Ingatlah Allah di hari hari yang terbilang QS Al Baqarah 203 Hari itu adalah tasyrik Pada saat yang sama Nabi Muhammad juga bersabda Hari Tasyrik adalah hari makan minum dan banyak mengingat Allah HR Muslim Ahmad Abu Daud Nasa i Dzikir di hari tasyrik ini dicontohkan para sahabat dengan membaca takbir Sayyidina Umar bin Khattab dulu takbir mulai setelah shalat subuh hari Arafah 9 Dzulhijjah sampai pada setelah dzuhur 13 Dzulhijjah Kalau Sayyidina Ali bin Abi Thalib takbirnya sampai setelah ashar 13 Dzulhijjah Baca Juga Shalat Idul Adha Mau di Masjid atau Lapangan Dari sini pula menyembelih hewan kurban juga bisa dilaksanakan sampai tanggal 13 Dzulhijjah Ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad Saw Di setiap hari tasyrik boleh menyembelih HR Ahmad ibn Hibban Ad Daruquthni dan yang lainnya Sudah masyhur dalam pendapat para ulama dan lazim dijalani masyarakat bahwa takbir dilakukan selesai shalat wajib Setiap selesai shalat fardlu sang imam memimpin takbir kemudian nanti diikuti oleh jama ahnya Ini sangat baik mengajari masyarakat untuk dzikir bersama Bagaimana kalau takbiran dilaksanakan juga sebelum shalat jamaah Biasanya sambil menunggu datangnya imam ada yang puji pujian berdzikir kepada Allah Kalau dzikir itu digantikan dengan takbir bagaimana Dalam hal ini Ahmad Muntaha 2019 menegaskan bahwa di kalangan Syafi iyah Al Qadhi Abu at Thayyib 348 450 H pakar fikih kenamaan kota Baghdad pada masanya menjelaskan bahwa dalil kesunahan mengumandangkan takbiran selama hari tasyrik adalah pernyataan Imam As Syafi i yang menganjurkan takbiran setelah shalat fardhu shalat sunnah dan dalam kondisi apapun Lebih lanjut dalam Al Majmu V 36 Imam an Nawawi menjelaskan Dalam kitab Al Mujarrad Al Qadhi Abu at Thayyib berkata As Syafi i benar benar telah menjelaskan secara terang terangan perihal takbiran setelah shalat sunnah ini Beliau berkata Maka ketika orang shalat sudah salam hendaklah mengumandangkan takbir setelah shalat fardhu sunnah dan dalam setiap kondisi Abu at Thayyib berkata Dalam kitab Al Umm pada bab ini As Syafi i pernah menyebutkan bahwa perempuan haid orang junub orang yang tidak punya wudhu hendaknya mengumandangkan takbir di setiap sepanjang malam dan siang hari Abu at Thayyib menegaskan Pernyataan as Syafi i ini merupakan dalil bahwa takbiran itu hukumnya sunnah dilakukan setelah shalat fardhu sunnah dan dalam setiap kondisi Pernyataan itu juga menjadi dalil bawa orang yang tidak boleh shalat seperti orang junub dan perempuan haid tetap disunnahkan melakukan takbiran Penjelasan dari Imam Nawawi ini menegaskan bahwa pujian dengan bacaan takbir yang berkumandang di berbagai masjid dan musholla hukumnya adalah sunnah Di samping itu pujian dengan takbir itu juga mengabarkan masyarakat untuk terbiasa membaca takbir sehingga masyarakat makin mentradisikan ajaran agama secara menyenangkan dan membahagiakan Takbir yang dilakukan baik sebelum maupun sesudah shalat jamaah sangat baik karena hukumnya adalah sunnah Muhammadun

Tinggalkan Balasan