air rukyah

Garam Ruqyah dan Air Doa; Apakah Spiritual Kalah oleh Komersialisasi?

Indonesia mengalami transformasi fundamental dalam cara agama dipahami, dipraktikkan, dan dipasarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang awalnya murni merupakan domain spiritual yakni hubungan intim antara individu dan Yang Maha Kuasa telah berevolusi menjadi komoditas bernilai triliunan rupiah yang diperjualbelikan di marketplace digital.

Fenomena ini bukan kecelakaan. Integrasi agama ke dalam sistem pasar adalah konsekuensi logis dari modernisasi, demokratisasi, dan penetrasi teknologi digital yang tidak mungkin kita bendung.

Kondisi ini diperparah oleh karakter umat yang kini mudah terbuai oleh “harapan” yang dikemas dengan narasi suci. Hal ini terjadi karena adanya kepercayaan yang cenderung fanatik terhadap figur-figur religius tertentu.

Tanpa filter kritis, instruksi atau rekomendasi dari sosok karismatik diterima sebagai kebenaran mutlak. Inilah yang menghidupkan pasar bagi fenomena air doa atau garam ruqyah; di mana harga sebuah barang bisa melambung ribuan persen hanya melalui atribusi label spiritual.

Secara material, substansi produk tersebut tidak pernah berubah, namun melalui pemanfaatan modal keagamaan, nilai tukarnya menjadi fantastis karena yang diperjualbelikan bukanlah zat fisik, melainkan “harapan”, “kesakralan”, dan “obat hati” atas rasa takut terhadap ketidakpastian hidup yang divalidasi oleh lisan sang tokoh.

Apakah ini berarti kita harus sinis terhadap semua ekspresi keagamaan modern?

Tidak. Teknologi, media sosial, dan industri bukan musuh. Tapi mereka tak bisa jadi pemandu.  Jika agama hendak bermakna di tengah hiruk pikuk zaman digital, ia harus menjadi laku yang hening, bukan tontonan yang viral.

Perjumpaan yang intim dengan Tuhan tidak bisa diwakilkan oleh likes, views, atau keuntungan komersil. Kita harus menyadari secara realistis bahwa fenomena ini adalah sebuah keniscayaan sejarah dan bagian dari dinamika zaman yang sulit untuk dibendung, umat tidak boleh kehilangan pegangan pada nilai-nilai esoteris agama.

Sisi esoteris ini adalah inti batiniah yang secara konkret mewujud dalam kedalaman ikhlas dan ketulusan yang tidak mencari validasi jumlah pengikut di media sosial.

Sisi inilah yang seharusnya tidak boleh hilang, karena ia merupakan wilayah yang tak bernilai atau dikonversi menjadi keuntungan materiil. Sebab, ketika dimensi sakral terus-menerus dikontaminasi oleh logika pasar, yang tersisa hanyalah hilangnya kepercayaan. Ada bahaya laten di mana spiritualitas berubah menjadi sekadar layanan jasa yang menuntut hasil instan, mengabaikan proses transformasi batin yang justru merupakan inti dari pencarian Tuhan.

Kita sering kali lebih tertarik pada nama besar ustaz seleb daripada isi kitab suci, terjebak pada kemasan baru dari kekosongan lama. Pada akhirnya, di tengah gempuran produk bermerek surga, tantangan terbesar kita adalah menjaga agar cahaya esoteris itu tetap menyala.

 

Bagikan Artikel ini:

About Dr. Suaib Tahir, Lc, MA

Anggota Mustasyar Diniy Musim Haji Tahun 2025 Staf Ahli Bidang Pencegahan BNPT Republik Indonesia

Check Also

ridha orang tua

Mencintai Orang Tua adalah Benteng Utama Mencegah Ekstremisme Kekerasan

Ekstremisme kekerasan tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari keterasingan, kemarahan yang tak tertangani, …

true crime community

Tumpulnya Empati, Normalisasi Kekerasan, dan True Crime Community (TCC)

Di era algoritma ini, generasi muda dihadapkan pada masalah yang sangat sangat berbahaya, yaitu tumpulnya …