Harlah Nu
Harlah Nu

Menguatkan Kiprah NU Ke-95: Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Tepat pada tanggal 31 Januari 95 tahun yang lalu organisasi Nahdlatul Ulama (NU) didirikan oleh para ulama. Sejak berdiri, NU memang tidak hanya konsen pada persoalan keagamaan, tetapi juga ihwal kebangsaan. Sejarah telah mencatat sumbangsih besar NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Belakangan ini NU kedodoran menghadapi agresivitas gerakan kelompok-kelompok Islam lainnya yang bermunculan pada era reformasi ini seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan gerakan-gerakan salafi Wahabi lainnya. Mereka begitu gencar dengan strategi dakwah hingga politik yang dapat merobek ukhuwah kebangsaan.

Untuk menandingi daya tarik mereka, NU tidak bisa hanya mengenalkan doktrin-doktrin Aswaja secara retorika semata, tetapi justru bagaimana doktrin-doktrin Aswaja itu ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari baik kehidupan organisatoris, sosial, politik, intelektual, dan sebagainya. Melalui tindakan-tindakan antara lain:

Pertama, Memperkokoh Etika Berorganisasi Melalui Berbagai Kegiatan Penguatan Ketrampilan Manajerial Dan Leadership

Dari segi jumlah (kuantitas) anggota, potensi yang dimiliki NU tidak tertandingi oleh organisasi Islam manapun di Indonesia ini. NU merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Namun, NU seringkali menjadi objek permainan orang lain dan NU gagal mengatasinya.

Di internal NU sendiri kekuatan organisasinya sangat lemah dan rapuh NU lebih menampakkan diri sebagai jama’ah daripada jam’iyyah kalangan NU seringkali menciptakan budaya tandingan seperti NU tandingan, Ma’arif tandingan, PKB (sebagai partai yang diklaim dilahirkan NU) tandingan dan sebagainya kalangan NU seringkali memusuhi kawannya sendiri di ruang terbuka ketika telah memegang jabatan, tidak sedikit pejabat dari NU yang mendepak kawannya sesama NU yang terdekat dan berjasa memperjuangkan keberhasilan memperoleh jabatannya dan mahasiswa PMII seringkali mendemo ketua, dekan, dan rektor bahkan dosen yang menjadi donaturnya setiap bulan. Tindakan-tindakan ini sulit ditemukan saluran penalarannya. Secara organisatoris, tindakan tersebut sulit dinalar.

Baca Juga:  Akidah Aswaja : Kalamullah tanpa Suara dan Huruf

Di bidang manajemen ini, sebagaimana diakui Kiai A. Muchith Muzadi, NU sangat lemah dan keadaan ini tidak boleh dibiarkan berlanjut. Keadaan kelemahan pada ketrampilan manajemen dan leadership secara praktis itu, sebagai aspek yang tidak ditakdirkan. Dalam perspektif Islam, bahwa sistem itu sebagaimana pengalaman empiris, dapat dirubah seiring perubahan ruang dan waktu, tetapi dapat dipegangi dalam konteks moral Islam (syariat Islam).

Oleh karena itu, NU harus segera menata ulang dalam memperkokoh etika berorganisasi dengan memperkuat keterampilan manajerial dan leadership antara lain: menjaga solidaritas, soliditas, sinergitas, kolektivitas, kontinyuitas, sustainabilitas dan kapabilitas melalui nilainilai Aswaja seperti tawassut, i’tidal dan tasamuh. Sikap-sikap tersebut dapat menopang profesionalisme berorganisasi manakala benar-benar direalisasikan dengan penuh kesadaran.

Kedua, Merealisasikan Keteladanan Yang Dapat Dijadikan Model Dalam Kehidupan Bermasyarakat Dan Bernegara

Selama ini kalangan NU belum mampu menghadirkan keteladanan baik dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Bagaimana mungkin masyarakat menjadi tertarik pada NU ketika tokoh-tokohnya telah “menjual” idealisme keagamaan maupun idealisme organisasi dengan sekadar kekuasaan dan keuangan, bagaimana mungkin masyarakat bersedia memilih partai yang dilahirkan NU untuk memanage Negara ketika pengurusnya berantem sendiri, dengan dalih yang sangat rasional, mengurus keluarga partainya sendiri tidak mampu apalagi mengurus Negara dan bagaimana mungkin masyarakat sudi memasukkan putra-putrinya ke dalam lembaga pendidikan NU apabila jajaran pimpinannya tidak serius mengelola lembaga tersebut.

Intinya, NU sekarang mengamankan warganya sendiri agar tetap berada di NU saja kewalahan apalagi merekrut warga baru dari kelompok lain. Sebagian masyarakat sekarang mulai cerdas bahwa keikutsertaan mereka pada organisasi sosial keagamaan didasarkan para keunggulan organisasi tersebut baik dalam wilayah doktrin, manajemen, leadership, maupun periaku sosial tokoh-tokohnya. Adakah mereka telah mampu memberi contoh dalam kehidupan kongkrit di masyarakat baik kehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya? ketika mereka belum mampu menunjukkan keteladanan, maka sulit mendapatkan simpati dari masyarakat terpelajar.

Baca Juga:  Tak Perlu Viagra, Inilah Do’a untuk Tahan Lama dalam Berhubungan

Oleh karena itu, NU harus melakukan gerakan keteladanan secara kolektif, yang biasa disebut dengan uswah hasanah atau qudwah hasanah baik secara retorika maupun aplikatif. Gerakan ini sebagaimana pesan Nabi harus dimulai dari sendiri, yakni ibda’ binafsik (mulailah dari dirimu sendiri). Operasionalnya, gerakan keteladanan ini harus dimulai dari tokoh-tokoh garda terdepan misalnya PBNU, kemudian segera diikuti PWNU, PCNU dan seterusnya ke bawah, sehingga masyarakat dapat menyimpulkan bahwa tokoh-tokoh NU layak menjadi model (modelling), figur publik, sosok ideal, dan panutan yang layak ditiru masyarakat pada semua lapisan.

Ketiga, Membangun Dan Memperkokoh Sumberdaya Manusia (SDM) Warga NU Yang Tersebar Dalam Berbagai Bidang Keahlian

Kalangan NU harus menyadari bahwa kekuatan sumberdaya alam (natural resources) telah lama tergilas oleh kekuatan sumberdaya manusia (human resources). Keuntungan perusahaan penerbangan Singapura melebihi APBN Indonesia Singapura meskipun tidak memiliki Sawah-ladang mampu menyumbang beras kepada Indonesia ketika negeri Jamrud Khatulistiwa ini mengalami krisis moneter pada 1998 dan Negara-negara Eropa Barat seperti Perancis, Jerman, Belanda, apalagi Belgia begitu kuat padahal secara geografis semua Negara itu jauh lebih kecil dibanding Indonesia.

Sebagai analog terhadap kasus-kasus ini, NU harus mulai menyadari bahwa meskipun sebuah organisasi itu memiliki anggota yang sedikit tetapi mereka terdiri dari para ahli dapat menandingi organisasi terbesar semcam NU dengan tanpa dukungan SDM yang kuat. Fakta ini telah terbukti berkali-kali sehingga bisa menjadi teori bahkan hukum sosial.

Oleh karena itu, NU harus membangun dan memperkokoh SDM warganya yang terdistribusi dalam berbagai bidang keahlian. NU justru harus menghindari sikap menggiring warganya untuk mendalami agama saja, supaya keahlian mereka tidak memusat pada satu bidang keahlian agama saja.

Baca Juga:  Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air, Keluarga Korban Baiknya Membaca Doa Ini

Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini harus melakukan kaderisasi intelektual warganya ke berbagai keilmuan, sehingga kelak NU memiliki berbagai tenaga ahli yang berperan dalam berbagai bidang kehidupan. Jika harapan ini terealisasikan, NU akan menjadi kekuatan yang besar sekali.

Keempat, Membangun Dan Memperkokoh Kekuatan-Kekuatan Strategis Pada Berbagai Dimensi Kehidupan Kontemporer

Setelah melakukan kaderisasi intelektual warganya ke dalam multidisiplin keilmuan, selanjutnya NU seharusnya berusaha membangun dan memperkokoh kekuatan-kekuatan strategis yang terdapat dalam kehidupan masyarakat kontemporer sekarang ini. Kekuatan-kekuatan strategis yang dimaksudkan di sini adalah kekuatan-kekuatan yang menjadi hajat hidup orang banyak sehingga menimbulkan potensipotensi yang mempengaruhi orang lain. Manakala NU memegang kekuatan-kekuatan itu, maka peran yang dapat dimainkan NU akan lebih besar lagi dibanding sekarang ini. Kekuatan-kekuatan strategis tersebut secara riil bisa berupa misalnya pendidikan, ekonomi dan teknologi.

Melalui pendidikan yang serius dan berkualitas, dapat dijadikan modal utama dalam mengangkat martabat NU bahkan mendongkrak kemajuan peradaban bangsa dan Negara sehingga Indonesia mampu berkompetisi dengan Negaranegara maju. Tilaar menyatakan, “yang kita perlukan ialah educated and civilized human being dalam rangka membangun masyarakat madani.”

Melalui penguasaan sumber-sumber ekonomi yang kokoh, NU mampu memainkan peranan semakin besar dalam kehidupan masyarakat maupun kehidupan Negara, sebab hampir semua aktivitas manusia bermuara pada pemenuhan ekonomi; dan melalui penguasaan teknologi, NU akan mampu berperan sebagai produsen dalam menyajikan kebutuhan hidup masyarakat. Tiga bidang tersebut bisa menjadi kekuatankekuatan strategis apabila semuanya ditumbuhkembangkan secara maksimal.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar