hanya mendapat haus dan lapar
puasa

Muhasabah Puasa : Inilah Golongan yang Hanya Mendapat Haus dan Lapar

Sangat ironis kalau momentum puasa Ramadhan hanya dijadikan ajang ritual pemanis. Berlalu tanpa arti dan makna. Menjalankan puasa Ramadhan hanya ikut-ikutan, tidak dilakukan dengan penuh kesadaran dan penghayatan. Seringkali penyakit hati seperti sombong, riya’, takabur, ghibah, bahkan kebencian masih menelusup dalam hati.

Nabi mengingatkan: “Banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar saja” (HR. Tirmidzi)

Berpuasa bukan trend. Puasa harus semata karena Allah dan didasari oleh keimanan, “Imanan wahtisaban”. Puasa harus dengan niat menjalankan perintah dengan ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam.

Puasa adalah untuk membakar segala penyakit hati. Mata dilatih untuk tidak melihat hal yang tidak pantas. Telinga diajarkan untuk tidak mendengar hal-hal yang tidak layak. Mulut dibiasakan untuk tidak mengucapkan perkataan buruk, seperti mencaci, menebar kebencian dan permusuhan.

Maksud puasa “puasa supaya menjadi orang yang bertakwa” (al Baqarah: 183) adalah puasa harus dilakukan dengan “riyadhah” dan “mujahadah”. Yakni, latihan dengan penuh kesungguhan. Tanpa hal tersebut, puasa akan kehilangan maknanya yang hakiki. Ia hanya menjadi ritual simbolik sekedar hajat menggugurkan kewajiban saja.

Golongan yang Hanya Mendapat Haus dan Lapar

Habib Zain bin Smith dalam kitabnya Al Fawaid al Mukhtarah li Saliki al Akhirah menulis golongan orang yang berpuasa yang hanya menadapat haus dan lapar saja.

Pertama, mereka yang berpuasa tetapi melakukan tindakan-tindakan yang dapat menghilangkan pahala puasa. Berpuasa tapi masih menggunjing orang lain, mengadu domba, dan berbohong.

Hal ini sesuai dengan hadits Nabi riwayat al Dailami yang mengatakan, “Ada lima hal yang dapat membatalkan pahala orang yang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat dan sumpah palsu”.

Baca Juga:  Kedudukan Ilmu dan Hidayah dalam Pandangan Islam

Kedua, mereka yang berpuasa namun dalam qalbunya masih ada sifat riya’; ingin dilihat dan dipuji orang lain atau merasa lebih baik dari yang lain.

Ketiga, mereka yang berpuasa tapi berbuka puasa dari uang haram.

Supaya puasa Ramadhan kita tidak sia-sia, masih ada kesempatan beberapa hari lagi untuk muhasabah atau introspeksi diri tentang puasa kita. Apakah puasa kita benar atau hanya sekedar melepas kewajiban? Menanyakan kepada diri sendiri, sudah benar dalam berniat, atau ada hal lain yang dituju selain Allah? Berdialog dengan hati kita, apakah kita berpuasa Ramadhan dengan penuh kesadaran dan penghayatan, atau sekedar ikut-ikutan?

Selamat menjalankan ibadah puasa di sepuluh akhir Ramadhan. Semoga Ramadhan kita penuh makna dan menjadikan kita orang yang bertakwa.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

buya syafii maarif

Mengenang Buya Syafii Maarif : Tokoh Sederhana yang Teguh Memegang Prinsip Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan

Sejatinya, teramat sulit untuk menuliskan judul tentang sosok inspiratif Buya Syafii Maarif. Bukan karena kekurangan …

Buya Syafi'i Ma'arif

Selamat Jalan Guru Bangsa, Selamat Jalan Buya Syafi’i Maarif Sang Teladan Umat

Jakarta – Buya Syafi’i Ma’arif kembali ke Haribaan Allah SWT dalam kesederhanaan, seorang guru bangsa …