sekjen mui anwar abbas  200108191407 353
sekjen mui anwar abbas 200108191407 353

MUI: Hiburan Biduan Usai Isra Mi’raj di Banyuwangi Tak Hormati Nilai-Nilai Keagamaan

Jakarta — Aksi hiburan biduan yang digelar di panggung peringatan Isra Mi’raj di Banyuwangi, Jawa Timur, menuai sorotan dan kritik publik. Meski panitia menyatakan hiburan tersebut berlangsung setelah acara inti selesai, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, menilai kegiatan itu tetap tidak pantas dan berpotensi melukai perasaan umat.

Anwar menyayangkan adanya aktivitas menyanyi dan berjoget di lokasi yang masih menampilkan simbol-simbol peringatan hari besar Islam. Menurutnya, hal tersebut menciptakan kesan tidak menghormati nilai-nilai keagamaan.

“Kami sangat menyesalkan adanya kegiatan menyanyi dan berjoget setelah peringatan hari besar keagamaan. Apalagi jika dilakukan dengan cara yang tidak pantas untuk disaksikan,” ujar Anwar kepada wartawan, Senin (19/1/2026).

Ia menilai polemik ini tidak akan sebesar sekarang apabila atribut dan spanduk peringatan Isra Mi’aj telah dicopot sebelum hiburan digelar. Keberadaan simbol-simbol keagamaan itu, kata Anwar, membuat aktivitas tersebut terkesan melecehkan kesakralan peringatan.

“Karena simbol-simbol peringatan masih terpasang, perbuatan itu dipersepsikan sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap ajaran Islam,” tuturnya.

Anwar juga mengingatkan pentingnya menjaga sensitivitas antarumat beragama dan meminta agar kejadian serupa tidak terulang. Ia menekankan bahwa peringatan hari besar keagamaan seharusnya menjadi ruang refleksi atas ajaran dan keteladanan Nabi, bukan justru diikuti aktivitas yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut.

“Kalau masih di tempat yang sama dan masih ada simbol peringatan, lalu dilakukan hal-hal yang melanggar ajaran agama, itu jelas tidak etis dan tidak elok,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Isra Mi’aj Desa Parangharjo, Hadiyanto, membenarkan adanya hiburan tersebut. Namun ia menegaskan bahwa kegiatan itu berlangsung setelah acara inti selesai dan para undangan, termasuk tokoh agama, telah meninggalkan lokasi.

“Hiburan itu memang ada, tetapi digelar setelah acara usai dan seluruh kiai serta tamu undangan sudah tidak berada di tempat,” ujar Hadiyanto, dikutip dari detikJatim, Sabtu (17/1/2026).

Ia menambahkan, hiburan tersebut merupakan inisiatif spontan yang bersifat internal panitia. Menyikapi polemik yang muncul, panitia telah menyampaikan permohonan maaf kepada publik melalui video klarifikasi yang dibuat di Polsek Songgon pada Jumat (16/1) malam.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

keutamaan bulan sya'ban

Bulan Sya’ban Segera Tiba: Bulan yang Sering Dilupakan, Tapi Dicintai Rasulullah

Tanpa terasa, umat Islam akan segera memasuki bulan Sya’ban pada 20 Januari 2026. Bulan ini …

092611400 1763115678 830 556

Bukti Pendidikan Jadi Fokus Pemerintah, 166 Sekolah Rakyat Beroperasi

JAKARTA — Sekolah Rakyat bukan lagi sekedar wacana dalam program pemerintah, namun telah hadir secara …