Meskipun suasana masih dicekam Covid-19 sehingga perayaan idul fitri tak semeriah biasanya karena ada aturan social distancing, stay at home, dan segala istilah yang digunakan untuk usaha menghindari penyebaran virus Corona, namun di sebagian tempat yang berstatus zona hijau perayaan idul fitri masih meriah. Saling berkunjung, bersilaturahmi dan bermaaf-maafan masih terlihat. Tentu tetap memperhatikan aturan protokoler seperti memakai masker dan jaga jarak.
Terlepas dari semua itu, tulisan ini hendak berbicara tentang adab berlebaran, silaturahmi dan tatakrama mengunjungi rumah sanak kadang, sahabat ataupun siapa saja yang dikenal. Rasulullah, sebagai teladan agung memberi contoh yang harus diteladani terkait beberapa hal di atas.
Etika Bertamu dan Masuk ke Rumah yang dikunjungi
Dalam satu hadis dari Kildah Ibnu al Hanbal, ia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah lalu aku masuk ke rumah beliau tanpa berucap salam. Beliau bersabda, “Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan assalamualaikum, boleh aku masuk”? (HR. Abu Daud, menurut Turmudzi hadis ini Hasan).
Hadis ini memberi pelajaran pada umat Islam adab ketika hendak bertamu dan masuk ke rumah orang yang dikunjungi. Rasulullah mengajarkan dengan mengucapkan salam. Bila tidak ada jawaban dari empu rumah, maka ulangi lagi sampai tiga kali. Jika masih belum ada jawaban, orang yang berkunjung harus mengurungkan niatnya untuk bertamu.
Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh pemilik rumah, tamu tidak boleh langsung masuk. Tetapi harus meminta ijin terlebih dulu, apakah diperbolehkan untuk masuk atau tidak. Jika diijinkan barulah masuk ke rumah tersebut.
Etika seperti ini semata menjaga kehormatan tuan rumah karena khawatir ada sesuatu yang harus dibereskan lebih dulu atau ada sesuatu yang harus ditutup lebih dulu. Supaya aib yang ada di dalam rumah tidak terlihat oleh tamu ketika telah berada di dalam rumah.
Dari Sahal bin Sa’ad, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya disyariatkannya minta izin adalah karena untuk menjaga pandangan”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Mengetuk Pintu Perlahan
Seringkali terjadi seorang yang bertamu mengetuk pintu secara berlebihan. Bahkan bisa dibilang lancang karena terlalu keras. Tentu hal ini akan mengganggu tuan rumah. Dalam hal ini Rasulullah memberi teladan kepada umatnya. Anas bin Malik menceritakan, “Kami di Masa Nabi mengetuk pintu dengan kuku-kuku”. (HR. Bukhari).
Inilah sebagian tatakrama bertamu atau berkunjung ke rumah orang lain. Pada masa idul fitri, meskipun telah lumrah dan menjadi tradisi aktivitas saling bertamu dan saling mengunjungi ini tetap harus memperhatikan hal-hal di atas. Dengan begitu, keharmonisan akan selalu terjaga. Apabila dalam bertamu sampai menyinggung yang empu rumah, tentu bukan hanya merusak silaturahmi, tetapi juga menambah dosa dan kesalahan pada orang lain. Kalau itu yang terjadi, maka spirit idul fitri akan kehilangan momen apiknya.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah