Kisah percekcokan dan nuansa perang kata-kata kotor dan hinaan yang menghiasi jagad media akhir-akhir ini berujung penyesalan. Soni Eranata atau dikenal sebagai Ustadz Maheer At-Thuwailibi menjadi tersangka dan dalam penahanan. Dengan memakai baju gamis dibalut dengan rompi tahanan warna oranye Soni mengungkapkan penyesalannya.
Saya tidak ingin menyinggung bagaimana ia menangis. Tentu semua penyesalan ada di akhir dan itu pun harus diapresiasi dan diterima. Ketika kita bertindak dan berkata-kata dengan pongah dan penuh emosi di media sosial mungkin kita tidak menyadari bahwa kadang kita salah dan mungkin pada akhirnya juga akan menyesal.
Hal menarik yang ingin kita ambil pelajaran adalah tentu saja persoalan bijak bermedia sosial. Memposting dan komen di media sosial adalah perilaku yang sangat terikat dengan norma, moral dan akhlak. Bukan ruang ekspresi tanpa pertanggungjawaban hukum di dunia dan di akhirat.
Kerapkali kita mendengar istilah kriminalisasi ulama ketika seorang ustadz berperilaku salah dan berhadapan dengan hukum. Ustadz juga manusia yang kerapkali salah. Tentu dalam melakukan kesalahan ada pintu tobat dan penyesalan untuk memperbaiki.
Pelajaran penting lainnya dari kasus Soni ini adalah penegasannya untuk tidak menganggap ini sebagai kriminalisasi ulama. Ia mengungkapkan dengan cukup lugas bagaimana pihak aparat kepolisian memperlakukan dia dengan baik dan bekerja dengan professional menangani kasus. Lalu ia mengatakan : “Saya pengen banyak belajar dari bapak-bapak penyidik baik-baik, masyaallah. Penyidik baik-baik, pengertian dan mereka begitu kooperatif dalam menjalankan tugas,” Kalau dikriminalisasi sih nggak. Ini justru pembelajaran untuk saya, semua teman-teman,” jelas Maaher sebagaimana diberitakan detik.com.
Saya kira Soni atau Ustadz Maheer menunjukkan diri tidak sedang memainkan playing victim atau seolah menjadi korban dari kedzaliman. Apa yang sedang dialami adalah bagian dari resiko yang harus diterima dari setiap perbuatan.
Logika setiap perbuatan adalah kebaikan ada ganjarannya dan keburukanpun ada ganjarannya. Sekecil apapun perbuatan itu pasti aka nada imbalannya. Inilah hukum Tuhan yang tidak bisa diingkari. Mungkin kita bisa menyembunyikan kelicikan, keburukan dam kesalahan kita di dunia, tetapi Allah akan selalu mencatat sekecil apapun itu.
Dalam Surat Al-Zalzalah ayat 7 dan 8 Allah berfirman : Artinya : “Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah sekalipun, niscaya dia akan melihatnya pula.”
Menghadapi semua imbalan dan ganjaran yang kita lakukan adalah perilaku kita menerima sunnatullah. Namun, yakinlah bahwa setiap amal buruk akan dihapus dengan kebaikan. Maka jangan pernah ragu untuk selalu bertaubat dan menyesali apapun yang telah diperbuat.
Ustadz Maheer telah membuka satu pelajaran penting bahwa setiap kejadian pasti ada imbalannya. Bukan selalu meneriakkan kriminalisasi ulama untuk perbuatan yang memang dipandang salah secara hukum. Mungkin pelajaran Ustadz Maheer juga menjadi pelajaran bagi kita semua. Terlebih kita yang selalu tidak lepas dari media sosial.
Banyak sekali kesalahan dan khilaf yang tanpa disadari. Allah bahkan melukiskan seperti dzarrah atau butiran debu sehingga kadang kita sendiri susah menyadari bahwa perilaku itu salah di media sosial.
Patut kita renungkan nasehat agung yang disabdakan oleh Rasulullah : “Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987).
Rasulullah mengajari kita untuk mengiringi keburukan dan dosa dengan amal kebaikan. Artinya, selalu bertaubat ketika merasa bersalah. Menyadari, meneysali dan mengiringinya dengan amal kebaikan. Lalu, pesan terpenting lainnya untuk selalu bergaul dengan akhlak yang baik.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah