Imam Syafii
Imam Syafii

4 Nasihat Imam Syafi’i Kepada Para Penuntut Ilmu

Tulisan ini mengungkap pemikiran Imam Syafi’i tentang pendidikan. Imam Syafi’i lebih dikenali sebagai ulama fiqh, namun beliau memberi sumbangan yang tidak kurang hebatnya dalam bidang pendidikan. Beliau lebih mengedepankan masalah adab/etika dalam kurikulum pendidikannya. Hal ini terlihat dari berbagai syair beliau yang mengedepankan masalah adab/etika bagi para penuntut ilmu. Dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan perihal beberapa adab/etika yang harus dimiliki oleh seseorang yang sedang menuntut ilmu untuk mendapatkan ilmu.

Biografi Imam Syafi’i

Nama lengkap Imam al-Shafi’i adalah Muhammad Ibn Idris al-‘Abbas Ibn Utsman Ibn Shafi’i Ibn al-Sa’ib Ibn `Ubaid Ibn `Abd Yazid fbn Hasyim Ibn `Abd al-Muthalib Ibn `Abd Manaf. Al-Syafi’i lahir di Gaza Palestina pada tahun 150 Hijriyah, inilah pendapat paling masyhur menurut banyak ulama. Ada riwayat yang mengatakan, ia lahir di Asqalan, sebuah daerah yang berjarak sekitar tiga farsakh (jarak perjalanan sehari di masa lalu) dari Baitulmaqdis.

Imam al-Syafi’i berasal dari keturunan bangsawan yang paling tinggi di masanya. Walaupun hidup dalam keadaan sangat sederhana, namun kedudukannya sebagai putra bangsawan, menyebabkan ia terpelihara dari perangai-perangai buruk, tidak mau merendahkan diri dan berjiwa besar. Ia bergaul rapat dalam masyarakat dan merasakan penderitaan-penderitaan mereka.

Perjalanan Imam Al-Syafi’i dalam Menuntut Ilmu

Mahmud Syalthut menjelaskan bahwa Imam al-Syafi’i dapat menghafal Alquran dalam umur yang masih sangat muda. Kemudian ia memusatkan perhatian menghafal hadits. Ia menerima hadits dengan cara membaca dari atas tembikar dan kadangkadang di kulit-kulit binatang. Seringkali pergi ke tempat buangan kertas untuk memilih mana-mana yang masih dapat dipakai. Disamping itu ia mendalami bahasa Arab untuk menjauhkan diri dari pengaruh non-Arab yang sedang melanda bahasa Arab pada masa itu.

Ia pergi ke Kabilah Huzail yang tinggal di pedusunan untuk mempelajari bahasa Arab yang fasih. Sepuluh tahun lamanya Imam al-Syafi’i tinggal di pedusunan itu untuk mempelajari syair, sastra dan sejarah. Ia terkenal ahli dalam bidang syair di kabilah Huzail. Di sana pula ia belajar memanah dan mahir dalam bermain panah. Dalam masa itu Imam al-Syafi’i menghafal Alquran, menghafal hadits, mempelajari sastra Arab dan memahirkan diri dalam mengendarai kuda dan meneliti keadaan penduduk-penduduk Badiyah.

Jaih Mubarok menjelaskan bahwa Imam al-Syafi’i belajar pada ulama-ulama Mekkah, baik pada ulama-ulama fiqih, maupun ulama-ulama hadits, sehingga ia terkenal dalam bidang fiqh dan memperoleh kedudukan yang tinggi dalam bidang itu. Gurunya Muslim Ibn Khalid al-Zanji, menganjurkan supaya Imam al-Syafi’I bertindak sebagai mufti. Imam al-Syafi’i pun telah memperoleh kedudukan yang tinggi itu namun ia terus juga mencari ilmu.

Sampai kabar kepadanya bahwa di Madinah al-Munawwarah ada seorang ulama besar yaitu Imam Malik, yang memang pada masa itu terkenal di mana-mana dan mempunyai kedudukan tinggi dalam bidang ilmu dan hadits. Imam al-Syafi’i ingin pergi belajar kepadanya, akan tetapi sebelum pergi ke Madinah ia lebih dahulu menghafal al-Muwatha’’, susunan Imam Malik yang telah berkembang pada masa itu. Kemudian ia berangkat ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik dengan membawa sebuah surat dari gubernur Mekkah. Mulai ketika itu ia memusatkan perhatian mendalami fiqh di samping mempelajari al- Muwatha’’. Imam al-Syafi’I mengadakan dialog dengan Imam Malik dalam masalah-masalah yang difatwakan Imam Malik.

Hal-hal yang secara serius mendapat perhatian Imam al-Syafi’i diantaranya adalah tentang metode pemahaman Alquran dan sunnah atau metode istinbath (ushul fiqih). Meskipun para imam mujtahid sebelumnya dalam berijtihad terikat dengan kaidah-kaidahnya, namun belum ada kaidah-kaidah yang tersusun dalam sebuah buku sebagai satu disiplin ilmu yang dapat dipedomani oleh para peminat hukum Islam.

Dalam kondisi demikianlah Imam al-Syafi’i tampil berperan menyusun sebuah buku ushul fiqih yang diberi nama ar-Risalah. Idenya ini didukung pula dengan adanya permintaan dari seorang ahli hadits bernama Abdurrahman bin Mahdi (w.198 H) di Baghdad agar Imam Syafi’i menyusun metodologi istinbath. Jumhur ulama ushul fiqih sepakat menyatakan bahwa kitab ar-Risalah karya Imam al-Syafi’i ini merupakan kitab pertama yang memuat masalah-masalah ushul fiqih secara lebih sempurna dan sistematis. Oleh sebab itu, ia dikenal sebagai penyusun pertama ushul fiqih sebagai satu disiplin ilmu.

Imam al-Syafi’i wafat diusia 50 tahun, selepas sholat maghrib pada malam Jum’at akhir bulan Rajab tahun 204 H. Jenazah beliau kemudian dikebumikan pada hari Jum’at tahun 204 H di Mesir, dikuburkan dimana bani Zahroh berada.

Etika dalam Menuntut Ilmu

Menurut Imam Syafi’i ada beberapa etika yang harus dimiliki oleh seseorang yang sedang menuntut ilmu, diantaranya, yakni:

Pertama, Kesungguhan dan Semangat dalam Menuntut Ilmu

Pada suatu hari, ibunya mengantarkannya kepada seorang guru, agar ia bisa belajar. Akan tetapi, ibunya tidak punya uang untuk membayar guru tersebut yang mengajar anaknya. Akhirnya, guru tersebut rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan cepatnya hapalan Al-Imam Asy-Syafi’i. Setelah selesai menghapal Alquran, beliau masuk ke dalam masjid duduk bersama para ulama. Al-Imam Asy-Syafi’i mendengarkan satu permasalahan atau satu hadits, lalu menghapalkannya.

Ibunya tidak mempunyai harta untuk diberikan kepada beliau untuk membeli lembaran atau kertas sebagai tempat beliau menulis. Beliaupun mencari tulang, tembikar, tulang pundak unta, dan pelepah kurma, lalu menulis hadits padanya. Bila sudah penuh, beliau menaruhnya dalam tempayan yang ada di rumahnya, sehingga tempayantempayan yang ada di rumah beliau pun menjadi banyak. Ibunya berkata kepada beliau: “Sesungguhnya tempayan-tempayan ini telah menjadikan rumah kita sempit.” Maka beliau pun mendatangi tempayan-tempayan ini, menghapal apa yang ada padanya, kemudian membuangnya. Setelah itu, Allah subhanahu wata’ala memudahkan beliau untuk melakukan safar ke negeri Yaman. Al-Imam Asy-Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimana ambisi anda untuk mendapatkan ilmu?” Beliau menjawab, “Seperti ambisi orang yang tamak terhadap dunia dan bakhil ketika memperoleh kelezatan harta.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Seperti apakah anda didalam mencari ilmu?” Beliau menjawab, “Seperti pencarian seorang wanita yang kehilangan anak satu-satunya.”

Ketika Al-Imam Asy-Syafi’i duduk di hadapan Al-Imam Malik dan belajar kepadanya, ia membuat Al-Imam Malik kagum akan kecerdasan, kejelian dan kesempurnaan pemahamannya. Al-Imam Malik berkata, “Sesungguhnya aku melihat Allah Swt. telah memberikan cahaya atas hatimu. Maka janganlah kamu padamkan cahaya itu dengan gelapnya perbuatan maksiat.” Penjelasan di atas menunjukkan bahwa dalam menuntut ilmu dibutuhkan kesungguhan dan semangat yang kuat. Kesungguhan dan semangat yang kuat inilah yang dapat menghantarkan kita kepada keberhasilan dalam menuntut ilmu.

Kedua, Ketawadhu’an

Al-Imam Asy-Syafi’i adalah seorang yang rendah hati (tawadhu’). Beliau pernah berkata, “Aku ingin, apabila manusia mempelajari ilmu ini -maksudnya kitab-kitab beliau, hendaklah mereka tidak menyandarkan sesuatu pun dari kitabkitab tersebut kepadaku.” Beliau pernah berkata kepada Imam Ahmad, salah satu murid beliau, Kamu lebih berilmu tentang hadits yang shahih dibanding aku. Maka apabila engkau mengetahui tentang sebuah hadits yang shahih, maka beritahukanlah kepadaku hingga aku berpegang dengan pendapat tersebut. Baik hadits tersebut datang dari penduduk Kufah, Bashrah (nama kota di Iraq), maupun Syam. Sifat beliau ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Maka bagi orang berlebih dalam suatu bidang jangan menjadi sombong, sedangkan seseorang yang kurang dalam suatu bidang jangan pula menjadi rendah diri.

Ketiga, Kewibawaan

Al-Imam Asy-Syafi’i adalah seorang yang memiliki kewibawaan di hadapan manusia, sampai dikatakan oleh Ar-Rabi’ bin Sulaiman (teman dan murid beliau ) berkata, “Demi Allah, aku tidak berani untuk meminum air tatkala Asy Syafi’i melihat kepadaku, karena segan kepadanya.” Adalah Sufyan bin ‘Uyainah, salah satu guru beliau, apabila mendapati sebuah permasalahan dalam masalah fatwa dan tafsir, beliau melihat kepada pendapat Asy-Syafi’i, dan berkata kepada orang-orang: “Tanyakanlah kepadanya.”

Keempat, Keteladanan dalam Membagi Waktu Malam

Al-Imam Asy-Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi 3 bagian, sepertiga malam yang pertama untuk menulis, sepertiga malam yang kedua untuk shalat dan sepertiga malam yang ketiga untuk tidur. Inilah nasehat Imam Syafi’i kepada para penuntut ilmu. Disisi lain ada ada beberapa nasehat Imam Syafi’i yang mengantarkan banyak orang meraih manfaat menuntut ilmu. Mari sejenak kita perhatikan: Saudaraku, ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan rinciannya: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) bersungguhsungguh, (4) dirham (kesediaan keluarkan uang), (5) bersahabat dengan ustadz, (6) memerlukan waktu yang lama.” Inilah sikap mental yang seharusnya kita tanamkan kepada anak didik kita.

Siap berpayah-payah, semangat bertekun-tekun belajar. Sesungguhnya yang dimaksud dirham bukanlah banyaknya harta, tetapi terutama kesediaan/kerelaan hati mengeluarkan uang untuk meraih ilmu. Berpijak pada nasehat yang ditanamkan di awal belajar, lapar itu lebih disukai santri asalkan dapat membeli buku. Mereka justru akrab dengan rasa lapar. Tetapi mereka amat bersemangat.

Selanjutnya bersahabat dengan ustadz (guru). Bersahabat dengan Ustadz bukan karena mengharap nilai yang bagus, tapi untuk meraup ilmu yang barakah dan berlimpah. Dulu kesempatan memijat ustadz merupakan kesempatan penuh manfaat. Memijat merupakan kesempatan mendengar limpahan nasehat ustadz. Ini bukanlah soal joyful learning. Justru ini soal kesediaan berpayah-payah demi meraih ilmu yang lebih utama. Ada semangat di sana. Bersahabat dengan ustadz bahkan tak hanya terkait kesempatan meraup kesempatan lebih banyak untuk memperoleh curahan ilmu darinya.

Prinsip lain yang dinasehatkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah bagi penuntut ilmu adalah memerlukan waktu lama. Seorang santri (murid) harus menyiapkan diri menghabiskan waktu yang panjang untuk mencapai pemahaman yang mendalam terhadap ilmu. Jauhi sikap instant dan tergesa-gesa (isti’jal) ingin menguasai ilmu dengan segera. Penghambat tafaqquh (upaya memahami secara sangat mendalam) adalah sikap tergesa-gesa. Pengetahuan dapat diperoleh dengan cepat, tetapi pemahaman yang matang dan mendalam hanya dapat diraih dengan kesabaran dan kesungguhan.

Semoga ini dapat membentuk sikap belajar yang kuat dan mantap. Jika adab tertanam kuat dan sikap belajar mengakar dalam diri murid, maka guru yang monoton pun akan didengar sepenuh perhatian. Lebih-lebih guru yang bagus kemampuannya mengajar. Tetapi sekedar pintar mengajar, tak bermakna jika murid lemah adabnya buruk sikapnya.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

manfaat membaca al-quran

Potret Sejarah Masuknya Qira’at Hafs di Indonesia

Tulisan ini mengkaji tentang qira’at riwayat hafs. Pada mulanya Nabi saw mengajarkan bacaan al-Qur’an kepada …

self management

4 Solusi untuk Menghilangkan Kesedihan dalam Islam

Sedih merupakan bagian dari fitrah manusia. Tak satu pun manusia bisa lepas dari kesedihan, termasuk …

escortescort