Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa agama memiliki peran strategis sebagai kompas moral dalam mengarahkan kemajuan di era modern yang ditandai oleh globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Hal tersebut disampaikan Nasaruddin saat berbicara dalam konferensi internasional yang diinisiasi Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir, yang dihadiri para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara.
Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, Menag menyampaikan bahwa kemajuan teknologi dan arus globalisasi yang kian cepat tidak boleh menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, agama harus hadir sebagai penuntun moral agar kemajuan peradaban tetap berpihak pada martabat manusia.
“Di tengah dunia yang bergerak cepat oleh teknologi dan globalisasi, agama harus hadir sebagai kompas moral bagi kemajuan, bukan sebagai penghambatnya,” ujar Nasaruddin.
Konferensi tersebut turut dihadiri Menteri Wakaf sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari. Menag Nasaruddin juga menyampaikan salam hangat dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, serta apresiasi kepada Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi atas dukungannya terhadap penyelenggaraan forum internasional tersebut.
Dalam paparannya, Menag menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, kemajuan peradaban tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab moral manusia. Globalisasi, menurutnya, membawa peluang besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menghadirkan tantangan serius berupa krisis nilai, dehumanisasi, dan kerusakan lingkungan.
“Dalam Islam, bumi bukanlah milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi. Karena itu, kemajuan apa pun—baik teknologi, ekonomi, maupun industri—harus dijalankan dalam kerangka amanah dan tanggung jawab etis,” kata Nasaruddin.
Ia menegaskan bahwa pembangunan peradaban yang mengabaikan dimensi moral dan spiritual berpotensi kehilangan arah. Menurutnya, agama berfungsi menjaga keseimbangan antara kemajuan material dan kematangan etis manusia.
“Setiap aktivitas dan profesi yang mengorbankan nilai kemanusiaan atau merusak keseimbangan alam sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban,” ujarnya.
Menag juga mengutip pandangan pemikir Aljazair Malik bin Nabi, yang menekankan bahwa peradaban tidak hanya dibangun melalui akumulasi materi dan teknologi, melainkan melalui kualitas manusia yang menopangnya.
“Peradaban yang berdiri di atas ikatan manusia, tanah, dan waktu tidak akan menghasilkan kemajuan bermakna bila tidak dipersatukan oleh dorongan moral dan spiritual yang mengarahkan perilaku manusia serta memberi makna pada kerja dan waktu,” kata Nasaruddin.
Dalam konteks globalisasi, Menag menilai bahwa tantangan utama umat manusia saat ini bukan sekadar ketertinggalan teknologi, melainkan kekosongan nilai dan orientasi hidup. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan dengan meniru model peradaban yang telah jadi, melainkan dengan membangun manusia yang berkarakter, beretika, dan bertanggung jawab.
“Peradaban tidak akan bangkit hanya dengan teknologi canggih, tetapi dengan manusia yang memiliki kesadaran moral dan spiritual yang hidup,” ujarnya.
Menag juga menyoroti tantangan profesi di era kecerdasan buatan. Ia menilai bahwa di tengah otomatisasi dan dominasi algoritma, agama berperan menjaga agar manusia tetap menjadi subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek teknologi.
“Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas, tetapi profesi yang beretika. Tidak hanya kompetensi teknis, tetapi juga nurani yang hidup,” kata Nasaruddin.
Dalam konteks tersebut, Menag menegaskan bahwa agama harus menjadi penjamin martabat manusia, penjaga makna kerja, serta penuntun etis bagi pemanfaatan teknologi dan arus globalisasi.
“Di Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar, kami berupaya mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesionalisme, serta memperkuat etika kerja di lembaga negara dan masyarakat agar kemajuan berjalan seiring dengan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, para pakar dalam forum internasional tersebut sepakat bahwa tantangan sesungguhnya bukan pada penggunaan kecerdasan buatan atau teknologi modern, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut diatur dan dikendalikan secara etis.
Menurut Menag, pengaturan yang berbasis nilai agama dan kemanusiaan diperlukan agar manusia, dengan akal dan tanggung jawab etiknya, tetap memimpin arah perkembangan global, sementara agama terus berfungsi sebagai sumber hidayah dan pemberi makna dalam perjalanan peradaban modern.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah