buya syafii
buya syafii

Buya Syafii Maarif; Cendikiawan Muslim dan Ulama yang Toleran

“Islam yang asli alias original adalah Islam yang santun dan lembut, Islam yang ramah, Islam yang toleran, Islam yang mengakomodir budaya lokal, Islam yang tidak main paksa”. Buya Syafii Maarif

 

Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif adalah seorang ulama, cendikiawan muslim dengan keilmuan yang luas lagi komprehensif serta berwawasan kebangsaan yang baik.  Beliau lahir pada tanggal 31 Mei 1935 di Nagara Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau. Ayahnya bernama Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu dan ibunya bernama Fathiyah.

Syafii Maarif kecil tumbuh dalam tradisi keilmuan lazimnya umat Islam tempo dulu. Pagi belajar di Sekolah Rakyat (SR), sekolah formal setingkat SD di Sumpur Kudus, sore hari belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah, dan setelah maghrib mengaji di surau dekat tempat ia tinggal. Pada tahun 1950 beliau melanjutkan studi di Madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau.

Setelah itu, beliau merantau ke Jawa, tepatnya di Kota Gede, Yogyakarta. Disini, Syafii Muda sempat sekolah montir selama beberapa bulan. Kemudian mendaftar di Madrasah Muallimin Yogyakarta sebab di Madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau ia hanya sampai di kelas tiga.

Sambil sekolah di Madrasah Muallimin, beliau aktif di organisasi kepanduan Hizbul Wathan dan pernah menjabat pimred majalah Sinar (sekarang Lembaga Pers Mu’allimin). Beliau tamat Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta pada 12 Juli 1956. Karena alasan biaya, beliau tidak melanjutkan studi dan memilih memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah untuk mengajar di Lombok Timur, tepatnya di Kampung Pohgading. Saat itu usianya 21 tahun.

Setahun mengajar di Pohgading. Kemudian, pada Maret 1957  pulang ke kampung halaman, kemudian kembali lagi ke Jawa dan melanjutkan studi di perguruan tinggi Cokroaminoto Surakarta dan mendapat gelar sarjana muda pada tahun 1964. Setelah itu, Syafii Maarif melanjutkan sekolah tingkat doktoral di Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta), tamat pada tahun 1968.

Baca Juga:  Buka Luwur 10 Muharram : Potret Islam dan Tradisi Nusantara

Syafii Maarif : Pejuang Toleransi Islam

Syafii Maarif berkata: “Islam yang asli alias original adalah Islam yang santun dan lembut, Islam yang ramah, Islam yang toleran, Islam yang mengakomodir budaya lokal, Islam yang tidak main paksa”.

Pernyataan ini membuktikan bahwa Syafii Maarif seorang tipikal ulama “Bahrul ‘Ulum”, memahami ilmu seluas samudera. Sebab hanya orang yang menguasai ilmu agama yang kompleks, syamil dan komprehensif yang mampu mengaktualisasikan ajaran Islam yang toleran dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, almarhum Syafii Maarif adalah salah satu ulama yang layak untuk dijadikan panutan dan inspirasi dalam menjaga, melestarikan dan mengamalkan toleransi seperti diajarkan oleh agama Islam.

Tentang wawasan kebangsaan, beliau pernah berkata: “Islam yang damai, Islam yang konstruktif dan Islam yang dapat mengayomi bangsa ini, dengan tanpa membeda-bedakan suku, agama dan lain-lain, itu Islam yang benar. Ke-Islaman harus satu nafas dengan Ke-indonesiaan dan Ke-Manusiaan”.

Almarhum Buya Syafii Maarif mampu menempatkan agama dan negara secara adil dan bijak. Memang, agama dan negara dua hal yang terpisah, namun keduanya harus tetap melengkapi satu sama lain. Prinsip ini menjadikan Syafii Maarif dalam berbangsa dan bernegara berpegang teguh pada nilai Pancasila. Pancasila dalam pandangan beliau memiliki pijakan kuat merangkul nilai-nilai agama Islam.

NKRI dengan segala kemajemukan yang dimilikinya merupakan realitas nyata, fakta yang terelakkan sebagai sunnah Tuhan. Kemajemukan bukan kekurangan tapi khazanah kekayaan bangsa yang harus dirawat serta dilestarikan. NKRI dengan kemajemukannya menyimpan nilai-nilai luhur sejak dulu kala. Nilai luhur itu, antara lain; hidup rukun meskipun berbeda agama dan keyakinan, gotong royong, hidup harmonis, menjaga persatuan serta mendahulukan prinsip musyawarah dalam memutuskan persoalan.

Baca Juga:  Mengenal Tokoh Wahabi (4): Abdul Aziz Bin Bazz

Prinsip-prinsip dan nilai-nilai tersebut kemudian dituangkan dalam Pancasila yang kemudian menjadi filsafat dasar bangsa. Dan, Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal agama Islam. Kalau diibaratkan, Pancasila adalah Piagam Madinahnya Indonesia.

Dasar-dasar pemikiran beragama dan berbangsa seperti ini yang menjadikan sosok almarhum Syafii Maarif menjadi ulama dan cendikiawan muslim yang menjunjung tinggi toleransi. Seandainya, semua umat Islam memiliki pemikiran seperti Buya Syafii Maarif, maka Indonesia sebagai negara yang multikultur; agama, etnik, suku dan budaya akan menjadi negara yang “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”. Karena semua perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia akan terawat dan terjaga serta tetap lestari dan indah keberadaannya.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

kepanitian kurban

Kepanitiaan Kurban, Apa Saja Tugasnya?

Tidak berapa lama lagi Idul Adha atau Idul Qurban tiba. Umat Islam seluruh dunia sangat …

puasa dzulhijjah

Istri Puasa Sunnah 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Tanpa Ijin Suami, Inilah Pendapat Ulama Madzhab

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan tentang kemuliaan bulan Dzulhijjah disebutkan dalam al …