buya syafii maarif
buya syafii maarif

Mengenang Buya Syafii Maarif : Tokoh Sederhana yang Teguh Memegang Prinsip Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan

Sejatinya, teramat sulit untuk menuliskan judul tentang sosok inspiratif Buya Syafii Maarif. Bukan karena kekurangan judul tetapi khwatir judul tersebut tidak mampu merepresentasikan kapasitas pemikiran dan perilaku beliau.

Sederhana memang sangat tampak dari kesehariannya. Disegani oleh masyarakat awam hingga penguasa, tidak membuatnya harus hidup dengan gaya mewah dan elite. Dalam beberapa kesempatan beliau terekam masih menaiki KRL sebagai transportasi publik.

Berpikiran besar karena beliau adalah sosok intelektual muslim yang mempunyai cita-cita besar terhadap Republik ini. Beliau mengagumi dan merasa menjadi bertanggungjawab atas cita-cita kebangsaan para leluhurnya yang harus menjadi kenyataan selama beliau masih hidup.

Teguh memegang prinsip adalah cerminan dari pemikiran, perkataan dan Tindakan beliau yang istiqamah. Cacian dan hujatan anak-anak seumur jagung yang hanya berkicau di sosial media bukan penghalang beliau untuk menegaskan sebuah prinsip. Beliau bukan tokoh yang mudah tumbang karena hinaan dan cacian. Selama itu prinsip tentang keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan itu akan terus dibela.

Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif atau lebih dikenal dengan nama Buya Syafii Maarif merupakan seorang intelektual dan tokoh bangsa yang sangat disegani semua kalangan. Beliau mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhamadiyah dan pemikir Islam di Indonesia.

Buya Syafi’i merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara dari pasangan Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, dan Fathiyah. Buya Syafii lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935. Ketika masih muda, Buya Syafi’i mengawali pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) Sumpur Kudus dan beliau melanjutkan ke Madrasah Mualimin di Balai Tengah, Lintau, Sumatera Barat.

Ketika SMA beliau hijrah ke pulau Jawa tepatnya di kota Yogyakarta. Di kota tersebut beliau melanjutkan pendidikannya di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Yogyakarta. Di sekolah inilah, Buya Syafii mulai aktif dalam organisasi kepaduan Hizbul Wathan dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah pelajar Muallimin di Yogyakarta.

Baca Juga:  Buya Syafii Maarif Usul Polri Rekrut Santri Paham Kitab Kuning Masuk Akpol

Setelah lulus Buya Syafii meneruskan pendidikannya di Universitas Cokroaminoto Surakarta. Saat itu Buya Syafii sempat mengalami masa-masa sulit. Dia tidak lagi mendapat bantuan biaya dari saudaranya dari kampung lantaran di masa tersebut terjadi pemberontakan PRRI/Permesta yang mengakibatkan terputusnya hubungan Sumatera-Jawa. Akhirnya, Buya Syafii terpaksa untuk berhenti kuliah kemudian menyambung hidup dengan menjadi guru di wilayah Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Setelah memiliki penghasilan sendiri, dia melanjutkan kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Cokroaminoto. Ia berhasil meraih gelar Sarjana Muda pada 1964. Tak berhenti di situ, Buya Syafii kemudian melanjutkan pendidikannya di IKIP Negeri Yogyakarta hingga meraih gelar sarjana. Beliau merupakan mahasiswa yang merangkap menjadi seorang guru ngaji.

Bukan hanya itu, demi mencukupi kebutuhannya, beliau juga berdagang kecil-kecilan bersama teman-temannya. Setelah lulus dan menjadi sarjana, Buya Syafii mulai menggeluti profesi sebagai wartawan. Kecintaannya kepada ilmu sejarah mendorong Buya Syafii untuk mengikuti Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS. Beliau lantas kemudian meneruskan gelar doktornya di Universitas Chicago, AS. Selama di Chicago buya Syafii terlibat secara intensif dalam pengkajian terhadap Al-Quran.

Karena kapasitas dan kelimuannya, Beliau dinobatkan  sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1998-2005. Setelah mengakhiri jabatannya sebagai Ketum PP Muhammadiyah, Buya Syafii aktif mendirikan lembaga Maarif Institute. Di samping itu, guru besar IKIP Yogyakarta ini, juga rajin menulis, dan menjadi pembicara dalam sejumlah seminar.

Memang pemikiran yang mencerahkan dan jernih tidak cocok bagi beberapa orang. Misalnya, Adian Husaini mengkategorikan Ahmad Syafii Maarif sebagai tokoh Muhammadiyah pendukung gagasan Islam Liberal (neo-modernisme) yang diusung oleh Fazlur Rahman yang merupakan dosennya. Budi Handrianto juga mendudukannya dalam kelompok senior dalam buku berjudul 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia: Pengusung Ide Sekulerisasi, Pluralisme, dan Liberalisasi Agama.

Baca Juga:  Mengenal Tokoh Ulama Nusantara : Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari

Persoalan labeling sekuler, pluralis dan liberal adalah cara orang merekamnya secara tidak sempurna. Karena itulah, dalam suatu bukunya yang sangat enak dibaca Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan, beliau mengulas pemikiran dan tindakannya karena berdasarkan pada trilogi pemikirannya tentang keislaman yang mencerahkan, kebangsaan dalam kebhinekaan dan kemanusiaan yang beradab. Tiga wacana ini berpadu dalam pemikiran, tindakan dan perilaku Buya Syaffii Maarif.

Praktek membela keragama tidak hanya di buku. Buya Syafii bahkan tak segan membela Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dengan mengatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan agama. Jelas pandangannya ini melawan pendapat mayoritas tokoh Islam lainnya termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah memfatwakan bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama Islam.

Namun kini pada tanggal 27 mei 2022 Buya Syafii telah menutup usianya, tepat pada pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping Sleman, DIY. Buya Syafii dirawat di rumah sakit sejak 14 Mei 2022 karena mengalami sesak nafas. Indonesia berduka karena telah kehilangan bapak bangsa, terbukti tagar Rest In Peace dan Turut berduka yang di tujukan kepada Buya Syafii trending di Twitter.

Bangsa Indonesia sangat kehilangan sosok guru besar yang dihormati seluruh elemen masyarakat dan lintas agama. Keteladanan beliau sebagai guru bangsa, pemikiran-pemikiran beliau sangat menyejukkan, moderat, dan dapat diterima lintas generasi. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima amal ibadah beliau, mengampuni segala kekhilafannya, dan memberikan tempat yang terbaik di sisinya. Amin..

Kami dari pengagum pemikiran dan prinsipmu, lahul fatihah. Amin

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

ACT menyalurkan zakat

ACT Bukan Bagian dari Organisasi Pengelola Zakat

Jakarta – Aksi Cepat Tanggap (ACT) ternyata bukan bagian dari organisasi pengelola zakat. Penegasan disampaikkan …

Asrorun Niam

Kasus ACT, MUI: Perlu Kehati-hatian Ganda Kelola Zakat

Jakarta –  Mengelola dana zakat diperlukan kehati-hatian ganda oleh lembaga amil zakat (LAZ). Ini penting …