childfree dalam pandangan islam
childfree

Childfree dalam Pandangan Islam

Childfree menjadi perbincangan hangat, aktual sekaligus fenomenal setelah salah satu Youtuber secara terbuka mengungkapkan pilihan hidup untuk tidak punya anak. Sontak istilah childfree ramai di kalangan netizen membincangkan isu ini. Seperti bisa, ia menuai pro dan kontra.

Dalam pengertian kamus seperti di dictionary.cambridge.org istilah childfree merujuk pada orang yang memilih tidak memiliki anak, atau tempat atau situasi tanpa anak. Dengan pengertian ini, istilah ini merujuk kepada satu pilihan secara sederhana untuk tidak mempunyai anak.  

Tentu yang melihat dari sudut pandang agama, menilai Childfree sebagai upaya menentang kodrat manusia, pengingkaran kepada sunnatullah, apalagi Allah tegas memberi jaminan terhadap pemenuhan kebutuhan manusia baik masih kecil atau yang telah dewasa.

Sementara yang merespon baik ide childfree ini karena menilai ide ini merupakan langkah super mengatasi problem sosial kekinian, misal anak terlantar, kekerasan terhadap anak, rendahnya kualitas anak karena orang tua tidak berdaya secara ekonomi, dan problematika yang lain seputar ruang lingkup anak dengan segaka kekurangannya.

Childfree Menurut Islam

Tulisan ini hanya akan mengulas childfree dari sudut pandang agama Islam. Dalam dua sumber primer hukum Islam, yakni al Qur’an dan hadits, memang tidak ada yang secara tegas (sharih) memerintahkan supaya punya anak. Akan tetapi secara tersirat anjuran memiliki anak banyak ditemukan dalam dua sumber pokok itu. Seperti sabda Nabi yang menyarankan untuk mengawini perempuan-perempuan yang subur atau produktif.

Karenanya, Ibrahim al Bajuri dalam karyanya Hasyiah al Bajuri ‘ala Fathi al Qarib (2/59) menegaskan bahwa penggunaan obat (suntik maupun tablet) untuk menunda atau memutus kehamilan secara permanen tidak diperbolehkan. Menunda kehamilan dengan cara memakai obat hukumnya makruh, sementara memutus kehamilan secara permanen haram.

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Kedua: Arti Penting Ketegasan Dalam Pernyataan

Maka dari itu, sterilisasi baik istri (tubektomi) atau suami (vasektomi) makruh jika suatu saat bisa dikembalikan secara normal. Misal dilakukan karena anaknya masih terlalu kecil dan menunggu hingga dua atau tiga tahun. Akan tetapi jika sterilisasi tersebut mematikan fungsi untuk reproduksi maka hukumnya haram.

Islam menganjurkan umatnya untuk menikah salah satu tujuannya adalah untuk memperbanyak umat Islam. Hal ini diantaranya termaktub dalam al Mabsuth karya Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahl al Sarakhsi. Dan merupakan pendapat semua ulama.

Pentingnya memiliki keturunan setelah menikah sejatinya adalah perintah agama. Untuk itu, ide Childfree atau memutuskan untuk menikah tanpa punya anak merupakan ide yang menyalahi hukum dan norma agama serta penentang terhadap kodrat manusia.

Kalau problemnya hanya soal kekhawatiran terhadap kualitas dan masa depan anak, solusinya bisa dengan program penjarangan kelahiran meskipun hukumnya makruh. Bukan dengan keputusan memutus reproduksi secara permanen. Jadi, Childfree bertentangan dengan hukum Islam.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

santri tutup telinga

Geliat Pengharaman Musik yang Makin Menggelinjang

Tak berapa lama berselang, viral video sekelompok santri yang menutupi telinganya karena ada suara musik …

mahasiswi taliban

Haruskah Memisahkan Laki-laki dan Perempuan dalam Majelis Ilmu?

Taliban, penguasa baru Afghanistan melalui Menteri Pendidikan Tinggi Abdul Baqi Haqqani mengeluarkan dekrit, mahasiswi dapat …