duduk di kuburan
mengaji kuburan

Dalil tentang Orang Mati Mendapatkan Manfaat dari Orang Hidup

Adalah Wahabi yang bersikeras dengan ajaran kakunya memaksa umat Islam hidup dalam bingkai serba terbatas. Padahal Allah swt maha luas yang memberikan keluasan terhadap umat manusia dalam melakukan kebaikan. Mereka mendoktrin orang-orang awam agar meninggalkan do’a, bershadaqah, membaca al Qur’an di mana pahalanya diberikan kepada mayit. Alasannya, orang yang mati tidak mendapatkan kebaikan apapun dari orang yang hidup.

Doktrin tersebut dikaitkan dengan bunyi ayat al Qur’an ayat 39 surat al Najm:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

Artinya: “Tidak ada bagi manusia kecuali apa yang diusahakannya”

Sehingga orang yang sudah mati tidak akan mendapatkan apa-apa dari orang yang hidup, karena itu bukan amalnya. Begitu juga bershadaqah, membacakan al Qur’an, mendo’akan orang yang mati, semua akan menjadi sia-sia karena bukan perbuatannya.

Anggapan tersebut tidaklah bemar, karena bertentangan dengan al Qur’an dan al Hadits. Seperti firman Allah swt ayat 10 Surat al Hasyr:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

Artinya: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami” (QS. Al Hasyr: 10)

Mayoritas ulama Salaf, mengatakan ayat ini tentang perintah mendoakan para sahabat Nabi saw karena mereka diberi cobaan fitnah, sebagaimana disampaikan oleh Ibn Abbas ra[1].

Di dalam hadits ada riwayat dari Abu Hurairah ra tentang seorang pemuda datang kepada Nabi saw, lalu ia berkata:

إِنَّ أَبِى مَاتَ وَتَرَكَ مَالاً وَلَمْ يُوصِ فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ قَالَ  نَعَمْ

Artinya: “Sesungguhnya ayahku telah meninggal dunia, ia meninggalkan harta dan tidak berwasiat apapun. Apakah dapat menghapus dosanya, seandainya aku bershadaqah atasnama dia ? Nabi Saw menjawab: “Ya” (HR. Muslim)

Hadits lain yang lebih tegas yaitu riwayat dari Ahmad bin Hanbal dan At Thayalish:

Baca Juga:  Inilah Perbedaan Amalan Sunnah Sebelum Shalat Idul Adha dan Idul Fitri

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى عَشَائِرِكُمْ وَأَقْرَبَائِكُمْ فِي قُبُوْرِهِمْ ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اِسْتَبْشَرُوْا بِهِ ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوُا : اللهم أَلْهِمْهُمْ أَنْ يَعْمَلُوْا بِطَاعَتِكَ

Artinya: “Sesungguhnya amal-amal kalian diperlihatkan kepada sahabat dan kerabat kalian yang berada di alam kubur. Jika amal perbuatan kalian baik, maka mereka senang, dan jika tidak baik, mereka berdo’a: ya Allah, berilah ilham kepada mereka agar berlaku taat kepadamu” (HR. Ahmad bin Hanbal dan At Thayalis)

Dalil-dalil di atas sudah cukup sebagai bukti bahwa kebaikan orang yang masih hidup dapat memberikan kebaikan kepada orang yang sudah mati. Tentu kesimpulan ini bertentangan dengan apa yang selama ini digembar gemborkan oleh Wahabi bahwa amal orang shalih tidak berguna bagi orang yang sudah meninggal dunia.

Wallahu a’lam


[1] Al Qurtubi, Tafsir al Qurtubi, Juz 18, Hal 33

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid …

syirik

Syirik Menurut Aswaja Dan Wahabi (2) : Syirik Dan Penyebabnya Dalam Perspektif Wahabi

Secara umum, pemahaman syirik dalam perspektif Wahabi dengan Ahlussunnah wal Jama’ah sama. Begitu juga konsekwensi …