perpecahan
perpecahan

Tafsir Kebangsaan [1]: Islam Membenci Perpecahan!

Yusuf Qardhawi dalam bukunya, “Ash-Shahwah al-Islamiyah, Bainal Ikhtilafil Masyra’ wat Tafarruqil Madzmum” menjelaskan bahwa ditinjau dari segi sebab dan akarnya, ada dua bentuk perselisihan, yakni ikhtilaf yang disebabkan oleh faktor akhlak, seperti fanatik kepada pendapat orang atau madzhab. Yang kedua, ikhtilaf yang disebabkan oleh faktor pemikiran.

Di Indonesia, kedua sebab dan akar perpecahan itu sudah mulai terlihat kentara. Diantara ciri yang paling mudah kita jumpai adalah, senantiasa mengagumi pendapat dan jama’ahnya sendiri seraya menuduh ini itu jama’ah lainnya.

Harus disadari bersama bahwa, dalam relung kehidupan manusia, perselisihan sebagaimana disebut di atas, tidak dapat dihindari. Yang bisa dilakukan manusia hanyalah merawat perselisihan itu agar tidak berubah menjadi sebuah perpecahan. Dan inilah sasaran sebenarnya para da’i, yakni menjaga persatuan, kerapian barisan dan kekokohan jamaah. Sebab dalam Islam, persatuan adalah kewajiban sedangkan perpecahan termasuk dosa.

Bahkan, persatuan adalah buah keimanan, dan perpecahan adalah kekafiran. Hal ini diambil dari firman Alllah dalam QS. Ali Imran: 100-105, “.. Hai orang-orang beriman, jika kamumengikuti sebagian dari sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman…

Imam Suyuti dalam Ad Darrul Mantsur (2/278-279) menjelaskan bahwa maksud “mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman” adalah setelah kamu bersatu, bersudara dalam satu keimanan, kamu berpecah belah dan bermusuhan akibat tertipu oleh orang-orang kafir. Dari sini, menjaga persatuan dengan berpegang teguh pada tali Allah adalah sebuah kewajiban, sementara perpecahan, sekali lagi, adalah perbuatan hina.

Banyak ayat Alquran yang menerangkan hakikat persatuan serta anjuran untuk menjaganya, diantaranya: Q.S. Ali Imran [3]: 19

Baca Juga:  Isolasi Mandiri dalam Perspektif Al-Qur’an : Belajar dari Kisah Ashabul Kahfi

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya: “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

Hadis-hadis tentang Pentingnya Persatuan

Islam sangat membenci perselisihan yang menyebabkan perpecahan. Sampai-sampai Rasulullah dengan tegas memerintahkan orang yang sedang membaca Alquran untuk menghentikan bacaannya apabila bacaannya itu dapat mengakibatkan perpecahan:

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jundab bin Abdullah dari Nabi Saw bersabda: “Bacalah Alquran selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian, tetapi jika kalian berselisih, maka hentikanlah bacaan itu.

Kendatipun membaca Alquran termasuk ibadah yang pahalanya besar, tetapi Nabi tidak mengizinkan membacanya apabila bacaan tersebut menuain polemik yang mengarah ke sebuah perpecahan, baik perpecahan itu menyangkut qira’at atau adab dan lainnya.

Tentang pentingnya persatuan, juga banyak dijelaskan dalam hadis Nabi, seperti: hadis dari Ibu Abbas, Nabi bersabda: “barang siapa memisahkan diri dari jamaah sejengkal, kemudian ia mati, maka matinya adalah (mati) jahiliyah.” (Muttafaqun Alaih).

Juga hadis yang amatn populer di kalangan umat Islam Indonesia, diantaranya: dari Abdullah ibn Umar, Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (Muttafaqun Alaih).

Baca Juga:  Bid’ah atau Tidak, Bulan Sya’ban Tetap Istimewa bagi Rasulullah

Begitu indah nan agung ajaran agama Islam. Tetapi betapa hati ini benar-benar tersayat tatkala ada penceramah dan aktivis Islam yang tidak bisa menjadi teladan dan simbol persatuan tetapi malah menjadi sumber perpecahan lantaran mereka lebih senang menyalakan api permusuhan. Perhatiannya tidak lagi mengencangkan dan mensinergikan barisan di dalam shaf dan luar shaf, tetapi malah senantiasa mengolok-olok kelompok lain.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar of Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir

Check Also

perusakan masjid ahmadiyah

Perusakan Masjid Ahmadiyah Tak Sesuai dengan Syariat Islam!

Miris memang menyimak berita terkini terkait sejumlah massa yang merusak masjid milik jamaah Ahmadiyah di …

persatuan

Tafsir Kebangsaan [2]: Inilah Cara Islam Membangun Persatuan dalam Keberagaman

Realitas historis dan sosiologis menunjukkan bahwa umat Islam terdiri dari berbagai macam golongan (firqah), madzhab, …