diplomasi rasulullah
tangisan rasulullah

Diplomasi Rasulullah : Masuknya Islam di Persia

Abu Hudzafah as-Sahmi merupakan salah satu sahabat nabi yang diutus oleh Rasulullah untuk menyampaikan surat kepada raja Persia. Seperti sahabat yang lainnya, Beliau juga memiliki keimanan yang kuat terhadap Islam. Cobaan yang berat tak luput ia rasakan, ia menghadapi sang penguasa Persia, dan diberikan banyak cobaan untuk penguji keimanannya.

Cerita Abdullah bin Hudzafah bertemu dengan Raja Persia ini dimulai saat tahun 6 Hijriyah, di mana Rasulullah ingin menyebarluaskan dakwah Islam dengan menulis delapan surat kepada raja-raja agar mereka mau masuk Islam.  Maka Nabi pun mengutus beberapa sahabat yang beliau percaya untuk menyampaikan suratnya.

Sebenarnya mengirimkan surat kepada para raja merupakan tugas yang cukup berat, karena para utusan anak berangkat ke negeri-negeri yang jauh dan mereka tidak mengetahui behasa serta tradisi yang ada di negeri tersebut. Bukan hanya permasalahan itu, para utusan harus menyeru kepada para raja agar mau meninggalkan agamanya dan berpindah agama ke ajaran Islam.

Merubah keyakinan bukanlah sesuatu yang mudah, akan banyak sekali perdebatan yang akan terjadi di dalamnya. Abdullahpun tiba di negara Persia, dia meminta izin bertemu Raja, dan mengatakan kepada para penjaga bahwa surat yang dia bawa sangat penting. Mendengar akan kedatangan utusan dari Rasulullah, kisra pun mengundang para pembesar negara untuk hadir di istananya.

Tak lama setelah sang raja dan para pembesar berkumpul, Abdullah bin Hudzafah diizinkan masuk ke dalam Istananya. Abdullah masuk menemui pemimpin negeri Persia dengan jubahnya yang sederhana mencerminkan kesederhanaan Islam. Namun, kepalanya tetap tegak dan jalannya pun tegak penuh wibawa.

Tatkala Kisra melihat Abdullah menghadap, dia memberi isyarat kepada pengawalnya supaya menerima surat yang dibawa Abdullah. Namun Abdullah menolak memberikannya kepada pengawal, seraya berkata, “Rasulullah memerintahkan supaya memberikan surat ini langsung ke tangan Kisra tanpa perantara. Saya tidak mau menyalahi perintah Rasulullah,” kata Abdullah.

Maka Kisra berkata kepada pengawalnya, “Biarkan dia mendekat kepadaku.” Maka Abdullah mendekat sehingga dia menyerahkan surat Rasulullah kepadanya secara langsung. Kemudian Kisra memanggil seorang sekretaris dan memerintahkannya untuk membuka surat dihadapannya serta membacakan kepadanya.

Dibacalah surat tersebut yang berisi, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra penguasa Persia, salam kepada orang yang mengikuti petunjuk…” Begitu Kisra mendengar bagian surat tersebut, maka api kemarahan langsung tersulut dalam dadanya.

Sang Raja marah bukan karena ajakan untuk masuk Islam, tapi karena Rasulullah memulai suratnya dengan menyebut nama dirinya bukan Raja atau gelar terhormat lainnya, maka Kisra pun menarik surat itu dari tangan sekretaris, lalu merobeknya tanpa mengetahui apa isinya sambil berteriak, “Beraninya dia menulis seperti ini padahal dia adalah budakku (yang tinggal di wilayah kekuasaanku)”. 

Seketika Kisra memerintahkan agar Abdullah bin Hudzafah diusir dari kerajaannya. Ketika kemarahan Kisra sudah mereda, dia memerintahkan pasukannya agar Abdullah bin Hudzafah dipanggil, namun mereka sudah tidak menemukannya, mereka telah meninggalkan negeri Persia.

Ketika Abdullah bin Hudzafah bertemu dengan Nabi, dia menyampaikan bahwa Kisra telah merobek surat beliau, maka Nabi berdoa dengan singkat, “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya.”

Selang beberapa waktu, kisra menulis surat kepada Badzan (gubernur Yaman), “Utuslah dua orang laki-laki yang kuat kepada seorang laki-laki yang mengaku Nabi di Hijaz, perintahkan dua orang laki-laki itu agar membawanya kepadaku.” Maka Badzanpun dua orang laki-laki terpilih kepada Rasulullah dengan membawa surat darinya. Badzan meminta Rasulullah agar menemui Kisra bersama dua orang laki-laki utusannya.

Bukan hanya menyampaikan surat, namun Badzan meminta dua utusannya tersebut agar mencari tahu tentang Nabi, meneliti perilakunya dan tingkahlaku Nabi. Berangkatlah kedua utusan Badzan menuju Madinah, dan setelah sampai mereka di Madinah, lekas mereka menemui Rasulullah.

Mereka menyerahkan surat Badzan seraya berkata, “Dari raja Kisra, dia telah menulis surat kepada raja kami (Badzan) agar mengirim orang yang diberi tugas membawamu kepadanya, kami datang kepadamu agar kamu berkenan berangkat bersama kami kepada Kisra, jika kamu berkenan berangkat maka kami akan meminta Kisra agar memperlakukan kamu dengan baik dan tidak menyakitimu, namun jika kamu menolak maka kamu telah mengetahui kekuatannya, kekejamannya dan kemampuannya untuk mencelakakanmu dan kaummu.”

Rasulullah hanya tersenyum dan bersabda kepada mereka, “Pulanglah ke tempat istirahat kalian, kembalilah esok hari.” Keesokan harinya, dua utusan Badzan kembali pada Rasulullah dan berkata, “Apakah kamu sudah bersiap-siap untuk berangkat bersama kami menemui Kisra?”

Nabi menjawab, “Kalian berdua tidak akan bertemu Kisra setelah hari ini. Allah telah mematikannya, Dia telah menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya Syirawaih di malam ini dan bulan ini.” Keduanya menatap wajah Rasulullah dalam-dalam, rasa takjub terbaca jelas dari raut muka keduanya. Mereka berkata, “Apakah kamu menyadari apa yang kamu katakan? Kami akan menulis hal ini kepada Badzan.”

Nabi menjawab, “Ya, katakan kepadanya bahwa agamaku akan menjangkau apa yang dijangkau oleh kerajaan Kisra, jika kamu masuk Islam maka aku akan memberimu apa yang ada ditanganmu dan menjadikanmu raja atas umatmu.” Dua utusan itu meninggalkan Nabi dan pulang ke Yaman, mereka mengabarkan hal itu kepada Badzan. Kemudian Badzan berkata, “Jika apa yang dikatakan Muhammad benar maka dia adalah Nabi, jika tidak maka kami akan berpikir ulang.”

Tidak lama setelah itu, Badzan menerima surat Syirawaih yang berisi, “Amma ba’du, aku telah membunuh Kisra, aku tidak membunuhnya kecuali demi membalas dendam untuk kaum kita, dia telah membunuh orang-orang mulia dari mereka, menawan kaum wanita dan merampas harta benda mereka. Jika suratku ini telah sampai di tanganmu maka ambillah baiat dari kaummu untukku.”

Seketika hati Badzan bergetar setelah membaca surat tersebut, diapun memutuskan mengikuti ajaran Rasulullah dan mengumumkan keislamannya. Dengan keyakinan Badzan masuk Islam, maka banyak orang Persia di Yaman juga mengikutinya masuk Islam.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Check Also

al-quran

Barat Harus Belajar Menghormati Kitab Suci

Peristiwa pembakaran al-Quran di Swedia beberapa waktu terakhir menarik banyak perhatian dunia internasional, terutama masyarakat …

tahun baru imlek

Mengenal Tahun Baru Imlek dan Bagaimana Hukumnya Mengucapkan Selamat?

Perayaan Imlek merupakan hari pertama bulan pertama pada penanggalan China atau masyarakat Tionghoa atau kerap …

escortescort