jembatan rusak di mamasa
jembatan rusak di mamasa

Disdik Sulbar Beri Perhatian, Kirim Guru ke Desa Tempat Pelajar Bergantung di Tali Jembatan

Mamasa – Pendidikan adalah investasi negara yang paling penting untuk keberlangsungan sebuah negara bangsa. Jika pendidikan terabaikan, maka bersiaplah bangsa tersebut akan mengalamai kemunduran atau bahkan mungkin keterpurukan dalam segala bidang. Maka dengan demikian memperhatikan kwalitas dan pelayanan pendidikan adalah mutlak adanya.

Meski semua orang menyadari bahwa pendidikan adalah investasi yang paling penting, namun pendidikan bagi anak-anak didaerah masih kerap luput dari perhatian, baik perhatian pemerintah daerah setempat terlebih pemerintah pusat sehingga seringkali kita melihat bangunan sekolah yang tidak layak, jalan yang dilalui siswa berbahaya hingga tidak ada yang memikirkan mutu pendidikan.

Belum lama  ini beredar dimedia bahwa terdapat sekolah yang hanya dapat dilalui menggunakan jembatan gantung, saking berbahayannya beberapa kali siswa pernah terjatuh ketika hendak menyebrang jembatan tersebut, tentu pemandangan yang sangat ironis ditengah keinginan untuk menciptakan mutu pendididikan yang baik.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat, Gufran Darma Dirawan mengaku prihatin dengan kondisi anak sekolah yang bergelantungan di tali jembatan rusak di atas sungai di Dusun Rantelelamun, Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa. Disdik Sulbar akan mengirimkan guru untuk mengajar di desa itu guna mempermudah belajar anak-anak.

“Kami akan segera memberi perhatian untuk memudahkan anak-anak itu agar bisa tetap belajar, tanpa harus bergelantungan di tali jembatan,” kata Gufran kepada wartawan, seperti dikutip dari laman detikcom. Jumat (25/6/2021).

Gufran mengatakan pihaknya sudah berkomunikasi dengan beberapa guru sekolah untuk mencari solusi agar para siswa yang tinggal di desa Pamoseang bisa bersekolah dengan aman. Solusi yang disepakati adalah guru yang akan datang ke desa Pamoseang.

“Saya sudah berkomunikasi ke sana, beberapa guru bersedia ke Dusun Pamoseang untuk memberi pembelajaran, sehingga anak-anak tidak lagi harus bertaruh bertaruh nyawa untuk mengakses pembelajaran,” ujarnya.

Baca Juga:  Umat Beragama di Indonesia Harus Tahan Diri Sikapi Konflik Antar Agama di India

Menurut Gufran, cara itu dilakukan sebagai wujud komitmen untuk kepentingan pendidikan, sambil menunggu perbaikan jembatan. Ia menyebut, guru yang akan mendatangi Dusun Rantelelamun, akan menempuh jalan memutar menggunakan sepeda motor, dengan jarak cukup jauh melewati wilayah lain,

“Kami sudah pikirkan biaya operasional untuk teman-teman guru yang akan ke Dusun Rantelelamun, Desa Pamoseang sebagai guru keliling. Yang penting, anak-anak tidak lagi harus bertaruh nyawa untuk mengakses pembelajaran,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, puluhan anak usia sekolah asal Dusun Rantelelamun, harus bertaruh nyawa untuk ke sekolah. Mereka menyeberangi sungai dengan cara bergelantung pada tali jembatan gantung yang sudah rusak parah.

Jembatan gantung yang menjadi akses utama dari dan menuju kampung halaman mereka, rusak parah diterjang banjir pada akhir bulan November tahun 2020 kemarin, membuat hampir semua lantai jembatan terlepas dan hilang.

Diketahui, jarak dari Dusun Rantelelamun menuju pusat Desa Pamoseang yang merupakan tempat sarana pendidikan SD Pamoseang, sekira 1,5 kilometer.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Gus Muwafiq bermain gitar dan musik

Gus Muwafiq: Musik Akan Jadi Alat Setan Bila Dipegang Orang-orang Yang Lalai

Jakarta – Pernyataan Uki Eks Noah bahwa musik itu haram berbuntut kontroversi. Raja Dangdut H. …

Khotbah Jumat

Wacana Khotbah 15 Menit, Muhammadiyah: Singkat Bukan Untuk Cegah Ngantuk, Tapi Sunah Nabi

Jakarta – Wadah Silaturrahmi Khatib Indonesia (Wasathi) mewacanakan usulan khotbah di masjid-masjid di seluruh Indonesia …