umat muslim bersiap melakukan sholat berjamaah dengan menerapkan protokol
umat muslim bersiap melakukan sholat berjamaah dengan menerapkan protokol

Fenomena Mana Dalilnya & Pentingnya Belajar Alquran Secara Baik

JAKARTA – Al-Quran bukan hanya sekedar kitab suci yang bertuliskan perintah dan larangan, namun juga membahas semua persoalan hidup, sehingga Al-Quran menjadi tuntunan hidup dalam mengarungi perjalanan yang sebentar didunia. Selain al-quran, Hadist Rasulullah juga menjadi tuntunan agar manusia selamat dan tentu mendapatkan ridha Allah SWT.

Dalam era keterbukaan informasi seperti sekarang, banyak sekali berseliweran potongan teks Al-Quran dan Hadist disertai dengan narasi baik itu nasehat maupun tentang syariat, maka banyak orang kemudian ketika dijelaskan tentang sesuatu malah akan tertanya mana dalil al-quran dan hadistnya?

Ssatu sisi memang sangat baik, namun disisi lain ditemukan juga orang atau katakanlah yang dianggap ustadz secara serampangan menafsirkan al-quran dan hadist, semua karena keterbatasanya dalam ilmu al-quran dan ilmu hadist. Memahami satu teks ayat suci al-quran tidak seperti memahami teks koran atau majalah, namun dibutuhkan ilmu yang sangat banyak, sehingga merujuk pada para ulama menjadi sangat penting agar tidak serampangan dalam menafirkan ayat suci.

Dilansir dari laman republika.co.id Belakangan, di tengah umat Islam terdapat fenomena banyaknya umat Muslim yang kerap mempertanyakan dalil terlebih dahulu jika hendak melakukan atau berargumentasi tentang sesuatu. Di satu sisi, sikap ini tentu saja menjadi hal positif, namun di sisi lain tak jarang menimbulkan benih-benih negatif.

Dalil merupakan hal suci yang bersumber dari Alquran dan hadits. Maka atas dasar ini, orang awam dan orang yang hanya memiliki pengetahuan agama sedikit dilarang menafsirkan Alquran dan memahami hadits secara serampangan. Fenomena mengenai banyaknya orang yang bertanya ‘mana dalilnya?’ pun harus memperhatikan etika serta niat yang lurus terlebih dahulu.

Sebab, memahami Alquran dan hadits harus dilandasi dengan berbagai macam diskursus ilmu pengetahuan yang tidak sederhana. Terdapat ilmu Alquran dan ilmu hadits yang kesemuanya itu membutuhkan waktu lama dan fokus pemahaman yang diperlukan.

Baca Juga:  Masih Ngaku Jubir HTI, Ismail Yosanto Dilaporkan Eks Ketua DPD HTI Babel

KH Ali Mustafa Yaqub dalam kitab At-turuq As-Shahihah fi Fahm As-Sunnah An-Nabawiyyah menjelaskan jika merujuk pada ilmu hadits, maka ketika ditemukan sebuah riwayat yang pertama kali dilakukan adalah menganalisa otentitas sanad. Kemudian setelah itu barulah dilakukan analisis matan hadits (redaksional).

Sehingga andaikan sebuah hadits memiliki kadar shahih dan redaksinya juga tidak bermasalah, hadits tersebut belum tentu bisa diamalkan karena perlu ditinjau lagi dengan metode-metode pemahaman hadits (turuq fahmul hadits). Langkah-langkah ini perlu dilalui untuk memahami hadits agar tidak terjebak dalam kekeliruan dan kesalahan.

Sedangkan Prof Quraish Shihab dalam buku Mukjizat Alquran menjelaskan bahasa atau redaksi dalam Alquran memiliki keistimewaan dan keindahan tersendiri. Sehingga dalam penafsirannya, seorang mufassir harus menguasai beragam disiplin ilmu yang tidak sedikit. Mulai dari pemahaman bahasa Arab yang baik, sejarah, hingga disiplin ilmu lain seperti fikih dan hadits.

Salah satu karakteristik dari ayat-ayat Alquran, kata Prof Quraish, adalah redaksi ayat Alquran yang kerap kali singkat namun padat makna. Tidak mudah menyusun kalimat singkat sarat makna karena pesan yang banyak—apabila seseorang tidak pandai memilih kata dan menyusunnya—memerlukan kata yang banyak pula.

Sedangkan Alquran memiliki keistimewaan bahwa kata dan kalimat-kalimatnya yang singkat dapat menampung sekian banyak makna. Ia bagaikan berlian yang memancarkan cahaya dari setiap sisinya. Jika seseorang memandang dari suatu sisi, sinar yang dipancarkannya berbeda dengan sinar yang memancar jika dipandang dari sisi yang lain.

Bahkan jika seseorang membiarkan orang lain memandang, boleh jadi menurt Prof Quraish apa yang dilihatnya dapat berbeda pula dengan apa yang telah dilihat. Itu sebabnya, betapa pun berbeda-beda sekian banyak kelompok, madzhab, dan aliran, tentu saja kesemuanya menjadikan ayat-ayat Alquran sebagai rujukan.

Baca Juga:  Setelah Jam Malam, Kota Suci Mekah dan Madinah Lockdown 24 Jam

Kayanya makna dan pesan dari ayat Alquran dapat ditafsirkan dengan beragam pula. Misalnya dalam Surat Al-Baqarah ayat 212, Allah berfirman, “Wallau yarzuqu man yasyaa-u bighairi hisab,”. Ayat ini bisa berarti banyak hal.

 

  • Pertama, Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa ada yang berhak mempertanyakan kepada-Nya mengapa Dia memperluas rezeki kepada seseorang dan mempersempit yang lain.
  • Kedua, Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa Dia (Allah) memperhitungkan pemberian itu (karena Dia Mahakaya, sama dengan seorang yang tidak mempedulikan pengeluarannya).
  • Ketiga, Allah memberikan rezeki kepada seseorang tanpa yang diberi rezeki tersebut dapat menduga kehadiran rezeki itu.
  • Keempat, Allah memberikan rezeki kepada seseorang tanpa yang bersangkutan dihitung secara detail amal-amalnya.

Kelima, Allah memberikan rezeki kepada seseorang dengan jumlah rezeki yang amat banyak sehingga yang bersangkutan tidak mampu menghitungnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

pwnu dki jakarta menyalurkan keasiswa kepada santri

Peringati Hari Santri, PWNU DKI Jakarta Salurkan Beasiswa 200 Santri

JAKARTA  – Akar historis Hari Santri adalah tercetusnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim …

Pondok pesantren

Pesantren Berperan Besar Sebarkan Ajaran Islam ke Seantero Nusantara

Jakarta – Pesantren berperan besar dalam memperkuat pendidikan Islam dan generasi bangsa. Melalui pesantren juga, …