cf fc f b cdfbdb
cf fc f b cdfbdb

Gus Yahya: Kategori Kafir dan non-muslim Tidak Relevan di Negara Bangsa Modern

Jakarta – Indonesia merupakan negara yang dianugerahi ratusan suku, budaya dan juga mengakui beberapa agama resmi, Indonesia juga bukan merupakan negara yang menjadikan salah satu agama sebagai dasarnya dalam menerapkan sistem pemerintahan, oleh karena itulah kesetaraan hak dan kewajiban semua masyarakat sama tanpa terkecuali. Atas dasar kesamaan hak dan kewajiban itulah, maka penyebutan kafir maupun non muslim kurang relevan dalam konteks keIndonesiaan

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menyebut kategori kafir atau non muslim merupakan istilah yang tidak relevan dalam negara bangsa modern.
Yahya mengatakan, gagasan tersebut merupakan kesimpulan yang disepakati ulama PBNU. Hal ini berkaitan dengan upaya mengurangi permusuhan antar umat beragama.

“Kami pada waktu itu dengan membuat kesimpulan bahwa kategori non muslim atau kafir sesungguhnya tidak relevan dalam konteks negara bangsa modern,” kata Yahya dalam webinar Majelis Ulama Indonesia (MUI), seperti dikutip dari laman cnnindonesia.com Rabu (30/3).

Menurut Yahya, hal semacam ini juga dilakukan umat beragama lain seperti pemimpin agama di Vatikan dan kelompok dalam umat Yahudi.

Pada 2016 lalu, kata Yahya, muncul kelompok yang menamakan diri sebagai Yahudi Konservatif. Kelompok ini mengaku masih memegang Taurat namun membuka peluang penafsiran baru.

Kelompok ini berbeda dengan Yahudi Ortodoks yang memegang Taurat dan tidak mau membuat interpretasi sama sekali serta Yahudi Reformis yang membangun nilai baru tanpa melihat teks Taurat.

Yahya mengungkapkan, Yahudi Konservatif kemudian mengumumkan dokumen pertobatan. Mereka menyebut secara terang-terangan bahwa dalam wacana Yahudi klasik terdapat wawasan agama yang merendahkan kelompok di luar Yahudi.

“Dalam wacana Yahudi klasik memang ada wawasan keagamaan yang misalnya merendahkan kelompok di luar Yahudi, menganggap ras di luar Yahudi yang inferior,” ujarnya.

Baca Juga:  Syafiq Riza Basalamah Larang Umat Islam Dekat Dengan Non-Muslim

Kelompok tersebut kemudian menuntut pembentukan wawasan alternatif sehingga orang Yahudi lebih siap hidup berdampingan dengan damai dan setara dengan kelompok lain.

Lebih lanjut, Yahya mengatakan bahwa upaya semacam ini penting dilakukan untuk mengurangi mindset permusuhan dan kebencian satu sama lain.

“Saya kira ini merupakan PR kita bersama, bukan hanya PR umat Islam saja tapi juga PR seluruh kelompok agama-agama di belahan mana pun,” tutur alumni Universitas Gajah Mada (UGM) itu.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

muslim houston amerika serikat rayakan idul fitri dengan menggelar festival

Komunitas Muslim Houston bagikan Makan Gratis Tunawisma

JAKARTA – Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, rahmat yang bukan saja untuk umat Islam namun …

ilustrasi logo nahdlatul ulama

Konbes NU 2022 Lahirkan 19 Peraturan untuk Perkuat Landasan Jam’iyah Optimalisasi Khidmah

JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) 2022 …