Haedar Nashir Puasa Mengajarka
Haedar Nashir Puasa Mengajarka

Haedar Nashir: Puasa Mengajarkan Jiwa Negarawan dan Kesatria

YOGYAKARTA –  Menjelang berahirnya Ramadhan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar silaturahim bersama berbagai awak media di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Kamis (28/4/2022). Dihadiri langsung Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman, dan Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto.

Media merupakan salah satu fatner yang sangat penting untuk menyuarakan berbagai persoalan, disamping itu media menjadi penyambung suara dan informasi rakyat sehingga bagi Muhammadiyah sangatlah penting untuk mengucapkan terimakasih yang mendalam kepada seluruh media.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan terimakasih kepada seluruh awak media, atas segala kerjasama, pemberitaan, publikasi dan edukasi kepada masyarakat. Terutama dalam penanganan Covid-19 selama tiga tahun ini yang diharapkan wabah pandemi dapat teratasi dan terselesaikan.

“Harapan kami dengan hadirnya Idul Fitri bagi kaum muslimin menjadi media atau wahana pembentukan ruhani, melahirkan insan-insan yang dapat menahan diri dari godaan kehidupan,” ungkap Haedar Nashir. Seperti dilansir dari laman republika.co.id Jumat (29/4/22).

Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut berpesan agar puasa pada tahun ini dapat menjadikan hidup yang berkeadaban publik yang mencerahkan. Keadaban yang tinggi, mulia dan luhur. “Saatnya puasa menjadi wahana yang mendewasakan diri sendiri,” tuturnya.

Puasa seyogyanya juga menjadi wahana dalam membangun spiritualitas sosial terhadap sesama. Khususnya bagi generasi milenial. Sama atau berbeda dalam menjalankan puasa dan merayakan hari raya jangan sampai menjadi sesuatu yang memecah belah. “Kita harapkan perbedaan ini kita sikapi secara dewasa,” kata Haedar Nashir.

InsyaAllah jika masyarakat dewasa dan pemerintah arif serta bijaksana dalam menyikapi perbedaan, maka negara ini akan menjadi negara yang maju dan terdepan.

Muhammadiyah mempelopori untuk mendorong masyarakat menjadi umat yang berkemajuan. Melalui media, Muhammadiyah berharap dapat mefasilitasi hadirnya literasi yang mencerahkan, mengedepankan ukhuwah, memandu umat dengan kearifan, dan saling memajukan satu sama lain. Antar kelompok yang berbeda harus mau untuk saling belajar.

Baca Juga:  TInggal di Dekat Kutub Utara, Dua Muslimah asal Indonesia Puasa Dengan Waktu Makkah

Dalam konteks bangsa, Muhammadiyah bersuara. Pertama, regulasi kehidupan kebangsaan. Kami menyambut baik konsistensi pemerintahan presiden Jokowi untuk mengamankan pemilu pada Februari 2024 tetap berjalan sebagaimana yang telah ditentukan. Kedua, dalam konteks pandemi Covid-19 pandemi kita harus bersama-sama untuk mengakhirinya. “Ketiga, kita harus memiliki kearifan setelah mengalami musibah. Kita harus bekerjasama dalam mengatasi dampak yang berat bagi masyarakat,” ungkap Haedar Nashir.

Maka, dari ramadan dan idul fitri juga diharapkan dapat melahirkan jiwa kesatria. Puasa mengajarkan jiwa kenegarawanan dan kesatria. Nilai nilai konstitusi luhur harus menjadi pedoman bagi para pemangku kebijakan, dalam hal ini pemerintah. “Kami himbau kepada para elit untuk tetap meletakkan kepentingan negara dan rakyat di atas kepentingan pribadi,” tambah Haedar Nashir.

Mencintai Indonesia berarti mencinta rakyat sedalam dalamnya dan seluas luasnya. Para pendiri bangsa merawat hal ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa ini perlu mengedepankan jiwa tengahan, khususnya dalam hal penyelamatan aset dan kekayaan negara yang sangat melimpah. Merawat indonesia dan tanah air, berarti merawat kebinekaan. Selalu mencari titik temu dan solusi dalam setiap permasalahan.

Sementara itu, Agus Taufuqurrahman berharap pada tahun ini menjadi etape berakhirnya pandemi menjadi endemi. Perubahan pandemi menjadi endemi perlu dieksekusi dengan parameter yang dapat dipertanggungjawabkan, profesional, saintifik, dan memberikan keamanan kepada masyarakat.

Ikhitiar ini ditunjukkan Muhammadiyah dengan membangun sistem pelayanan kesehatan yang terpadu. “Masyarakat yang gagal di era disrupsi adalah mereka yang masih ingin hidup seperti 10 tahun yang lalu tanpa mempertimbangkan segala perubahan yang terjadi,” pungkasnya. (diko/rpd)

 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

muslim houston amerika serikat rayakan idul fitri dengan menggelar festival

Komunitas Muslim Houston bagikan Makan Gratis Tunawisma

JAKARTA – Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, rahmat yang bukan saja untuk umat Islam namun …

ilustrasi logo nahdlatul ulama

Konbes NU 2022 Lahirkan 19 Peraturan untuk Perkuat Landasan Jam’iyah Optimalisasi Khidmah

JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) 2022 …