rasa malu
rasa malu

Hilangnya Budaya Malu Tanda Mengikisnya Iman

Malu dalam bahasa Arab adalah haya’ yang serumpun dengan kata hayat yang berarti hidup. Kata yang serumpun dalam bahasa Arab selalu memiliki keterkaitan arti. Haya’ dan hayat ini apabila dihubungkan mengisyaratkan bahwa rasa malu hanya dimilki oleh orang yang masih hidup dan masih normal.

Di era medsos seperti sekarang ini, rata-rata manusia kehilangan rasa malu. Update status berlagak kaya, bermobil, gaya-gayaan di tempat rekreasi, di restauran dan tempat-tempat mewah yang lain, supaya terlihat kaya karena malu dikatakan miskin. Walaupun sesungguhnya ia tidak punya kecukupan untuk itu. Hanya memaksakan diri.

Ada yang lebih parah, berlagak ulama, berfatwa, supaya dikatakan alim dan pintar, padahal dirinya hanya mengetahui dasar-dasar ilmu agama. Ia malu dikatakan orang bodoh. Akhirnya, malu-maluin.

Sifat tak tahu malu ini sebenarnya lebih berbahaya dari Virus Corona sekalipun, bila sampai mengkristal dalam jiwa, seseorang akan mudah dibawa hanyut hawa nafsunya. Untuk dikatakan mewah dan wah apapun dilakukan tanpa pikir panjang. Supaya disebut ulama apapun difatwakan, sekalipun harus menghina, mengkafirkan perangai jelek yang lain.

Padahal, Nabi dalam kesehariannya selalu menjaga sifat malunya (dalam arti yang negatif). Untuk itu, beliau dalam haditsnya kerap kali mengingatkan supaya umatnya memegang erat budaya malu. Terutama rasa malu kepada Allah. Malu melanggar perintah-Nya dan malu melakukan apa yang dilarang-Nya.

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al Anshari, ia berkata, Nabi bersabda, “Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah diketahui oleh manusia dari pesan kenabian terdahulu; jika kamu tak punya malu, maka berbuatlah sesukamu”. (HR. Bukhari).

Dalam catatan Syaikh Ahmad bin Syaikh al Fasyani dalam al Majalis al Saniyyah Syarah al Arba’in al Nawawiyah dijelaskan, banyak ragam tafsir yang dikemukakan oleh para ulama tentang makna hadis ini. Diantaranya, jika tidak memiliki rasa malu pasti akan berbuat sesukanya. Berdasarkan pengertian ini, rasa malu wajib dimilki oleh seseorang agar mencegah perbuatan maksiat dan dosa, supaya tidak menyakiti orang lain dan mampu menempatkan diri pada tempat yang semestinya.

Baca Juga:  Corona adalah Makhluk Allah, Bagaimana Muslim Menyikapinya

Dari Ibnu Umar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya rasa malu sebagian dari iman”.

Dalam hadis yang lain, dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda, “Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lain”.

Pesan hadis ini jelas. Iman dan malu saling terkait. Jika salah satunya hilang rusaklah kepribadian seseorang. Jika rasa malu hilang seseorang akan berbuat seenaknya. Baik kepada Allah maupun kepada orang lain. Tidak menghormati, tidak menghargai dan seterusnya.

Dalam Thabaqat Ibnu Sa’d ada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Diriwayatkan bahwa Rasulullah lebih pemalu dari gadis pingitan. Jika tidak menyukai sesuatu, akan terlihat di wajahnya. Perilaku dan perangainya lemah lembut. Tidak pernah berbicara tentang sesuatu yang tidak disukai lawan bicaranya. Beliau adalah seorang pemalu berjiwa mulia.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

nabi musa tidak mau berobat

Mencegah Covid-19 Cukup dengan Tawakal? Simak Kisah Nabi Musa yang Enggan Berobat

Ketika mengalami sakit atau mencegah sakit, apa yang harus dilakukan? Memilih tidak melakukan apa-apa dengan …

hari tasyrik

Setelah Hari Raya Idul Adha, Kenapa Dinamai Hari Tasyrik?

Dalam hadis riwayat Muslim, dari Nubaisyah al Hudzali, Rasulullah bersabda, “Hari Tasyrik adalah hari makan …