tayamum
tayamum

Tayamum dan Bukti Islam Agama yang Mudah dan Memudahkan

Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan. Pun syariat diturunkan Allah sejatinya sebagai jalan agar memudahkan manusia. Tidak ada ibadah yang justru mempersulit hambanya. Jika ditemukan kesulitan dalam melaksanakan ibadah, ada jalan yang diberikan Islam untuk tetap beribadah dengan cara yang lebih mudah.

Salah satu bukti Islam yang mudah dan memudahkan adalah ibadah tayamum. Bersesuci adalah bagian penting dalam ibadah. Dalam kondisi normal bersesuci adalah dengan menggunakan air seperti wudhu’ dan mandi (ghuswl). Namun, jika kita hendak berwudhu terasa sulit atau tidak menemukan air maka Allah memperbolehkan hambanya untuk bertayamum.

Tayamum sendiri merupakan sebuah ibadah alternatif untuk mensucikan diri pengganti wudhu dengan menggunakan media debu yang menempel pada permukaan yang suci dari najis. Tertulis dalam surat al-Maidah ayat 6, Allah berfirman, “Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”.

Dalam konteks ini, sebenarnya tayamum bisa kita baca sebagai cara Islam memudahkan hambanya dalam kondisi sulit. Semangat tayamum begitupun rukhshah yang lain adalah semangat Islam untuk memberikan kemudahan dalam ibadah. Islam tetap konsisten memerintahkan hambanya untuk beribadah dalam kondisi apapun. Tetapi Islam memahami kondisi dalam memberikan perintah.

Semangat inilah sebenarnya sudah diterangkan oleh Allah dalam al-Quran :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya : “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah/2 : 185].

Namun, Islam bukan agama yang mengajarkan untuk menyepelekan ajaran. Kemudahan tentu ada batasnya. Misalnya, seseorang diperbolehkan bertayamum ketika terjadi hal-hal yang memperbolehkan dirinya bertayamum. Ada sebab yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kemudahan tersebut.

Baca Juga:  Pesantren di Tengah Kondisi Covid-19

Dalam bertayamum sebab itu karena tiga hal.

Pertama, tidak terdapat air.

Adapun jarak yang dapat dijadikan patokan adalah sekitar setengah farsakh. Jarak ini sama dengan 2,5 km. Ketika ketiadaan air pada jarak tersebut dianggap jauh, maka seorang mukmin di perbolehkan untuk tayamum. Lihat Al-Fiqh Al-Manhaji, 1:93 dan Al-Mu’tamad fi Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 1:101.

Selain itu jikapun ada air namun tidak dapat terjangkau karena beberapa alasan seperti mendapatkan air dengan harga yang diatas rata-rata, dan ia tak sanggup membelinya ataupun mendapatkan air namun ada bahaya yang menghadang sebelum mencapai air seperti binatang buas. Adapun jika terdapat air yang hanya bisa membasuh sebagian anggota tubuh, maka air tersebut wajib digunakan untuk wudhu terlebih dahulu kemudian untuk sisanya dilanjutkan dengan tayamum. Al-Mu’tamad fi Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 1:101-102.

Tayamum tidaklah sah ketika masih terdapat air atau mampu untuk mencari air tanpa ada kesulitan apa pun. Di antara bentuk bergampang-gampangan yang tercela adalah memilih tayamum di saat dingin padahal mampu untuk menggunakan air atau dengan cara menghangatkan air. Ingat, yang dibolehkan untuk tayamum hanyalah mereka yang tidak mendapatkan air atau jauh dari air, atau air yang ada hanya cukup untuk minum, atau tidak mampunya menggunakan air karena sakit atau semisal itu.

Kedua, dalam keadaan sakit.

Sebab kedua yang, yang memperbolehkan seseorang bertayamum ialah jika orang tersebut dalam keadaan sakit, namun tidak semua orang sakit di perbolehkan untuk bertayamum. Sakit yang di perbolehkan untuk bertayamum ialah sakit yang sekiranya jika ia menggunakan air makan akan memperburuk penyakit yang di deritanya, atau seseorang yang sakit dan menyebabkan ia tidak bisa bangun untuk mengambil air wudhu.

Baca Juga:  Allah Menghendaki Kemudahan Bukan Kesulitan, Kenapa Masih Memaksakan Kehendak?

Ketiga, memberi minum binatang yang kehausan yang hayawan muhtarom (yang dimuliakan syara’).

Setiap makhluk hidup memerlukan air untuk bertahan hidup. dan apabila memiliki air yang akan di pergunakan untuk berwudhu namun terlihat seorang hewan yang sedang kehausan, maka di perbolehkan baginya untuk bertayamum dan memberikan air tersebut kepada binatang yang membutuhkannya tadi dengan syarat binatang yang memerlukan air adalah hayawan muhtarom.

Hayawan muhtarom adalah hewan yang haram untuk dibunuh. Hayawan yang bukan termasuk muhtarom adalah anjing gila dan juga babi.

Dalam konteks inilah apa yang ingin saya tarik pengertiannya adalah tentang Islam dengan ajarannya yang fleksibel dalam memahami kebutuhan dan kesulitan manusia. Islam bukan agama yang kaku yang harus tetap beribadah dengan menceburkan diri dalam kebinasaan. Ketika ada masyaqat (kesulitan) apalagi mudharat (bahaya) Islam memberikan alternatif kemudahan.

Islam bukan agama yang menuntut hambanya kepada ketaatan buta tanpa melihat kondisi. Islam agama yang dibangun dengan wahyu dan kecerdasan akal. Sungguh orang bodoh yang hanya beribadah tetapi tidak mampu melihat kondisi. Berakallah dengan agama dan beragamalah dengan akal.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

anak jalanan

Anak Jalanan; Tanggung Jawab Siapa?

Anak adalah titipan Tuhan. Ia menjadi asset sangat berharga baik di dunia maupun di akhirat. …

hidup masih susah

Sudah Rajin Ibadah Hidup Masih Susah, Tuhan Tidak Adil?

Banyak umat muslim yang merasa kehidupan yang dijalani terasa sangat sulit, padahal ia sudah bekerja …