sunat perempuan
sunat perempuan

Hukum Fikih tentang Sunat bagi Perempuan

Sunat atau khitan pada perempuan merupakan fenomena sosial yang bisa ditemukan diberbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Female Genital Mutilation, begitulah orang sering menyebutnya. Suatu istilah yang digunakan untuk operasi kelamin pada anak-anak perempuan.

Secara umum ada tiga model Female Genital Mutilation (FGM). Pertama, sirkumsisi. Suatu model penyunatan yang paling ringan, hanya memotong penutup klitoris. Tipe inilah yang dikenal di beberapa negara muslim sebagai sunat/khitan.

Kedua, eksisi adalah model penyunatan yang menghilangkan klitoris dan seluruh labia minora atau sebagian labia minora.

Ketiga, infibulasi adalah penyunatan dengan menghilangkan seluruh klitoris, labia minora dan bagian-bagian dari labia minora. Ini model penyunatan pada anak-anak perempuan yang paling berat. Dua sisi vulva dijahit jadi satu dengan hanya menyisakan satu lubang kecil untuk keluarnya darah menstruasi dan kencing.

Apakah dalam Islam ada perintah untuk mengkhitan atau menyunat perempuan?

Keterangan tentang hukum menyunat perempuan salah satunya bisa ditemukan dalam kitab Musnad Ibnu Hanbal, Fathul Bari dan Fiqhul Islam wa Adillatuhu.

Menurut sebagian ulama Syafi’iyah, khitan hukumnya wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi perempuan. Imam Ahmad juga mengatakan demikian. Akan tetapi, menurut kelompok Malikiyah dan Hanafiyah, menurut mereka hukumnya sunnah muakkadah bagi laki-laki dan kehormatan (keutamaan) bagi perempuan.

Mayoritas ulama kemudian sepakat pada pendapat yang kedua, berdasar pada sabda Nabi:

“Khitan merupakan sunnah bagi laki-laki dan kehormatan bagi perempuan”.

Maksud sunnah dalam hadits di atas bukan berarti hukum sunnah yang menjadi bandingan hukum wajib. Hanya pemilahan yang menunjukkan adanya perbedaan hukum khitan pada laki-laki dan perempuan. Maka, jumhur ulama menetapkan hukum khitan adalah sunnah muakkadah bagi laki-laki dan mubah bagi perempuan.

Kesimpulannya, pada dasarnya khitan bagi perempuan tidak diwajibkan, hanya dianjurkan. Maka, kalau secara medis khitan berbahaya atau menimbulkan dampak negatif terhadap perempuan, sudah barang tentu tidak boleh dipraktikkan.

Kalaupun khitan atau sunat pada perempuan tetap dilakukan, maka hanya khitan model pertama yang dianjurkan, yakni sirkumsisi dengan hanya memotong penutup klitoris.

Kata Nabi: “Jangan terlalu ke dalam (ketika memotong klitoris) karena khitan adalah lebih pantas bagi perempuan dan lebih dicintai oleh suami”. (HR. Abu Daud)

Namun demikian, hadits ini tidak menunjukkan perempuan wajib dikhitan. Hanya anjuran belaka seperti dikatakan oleh jumhur ulama. Sekali lagi, kalau khitan berdampak buruk secara medis maka menjadi keharusan untuk ditinggalkan.

 

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

al harrah

Al Harrah; Tragedi Pemerkosaan dan Pembunuhan Massal Masa Khalifah Yazid bin Mu’awiyah

Peristiwa tragis tragedi kemanusiaan pernah terjadi pada masa Khalifah Yazid bin Mu’awiyah. Penduduk Madinah tidak …

mendidik anak

Supaya Sukses Mendidik Anak, Kenali Empat Model Anak dalam al Qur’an

Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya bergembira, bukan murung atau menanggung sedih tak berujung. Mereka ingin …