perempuan
perempuan

Fikih Politik Perempuan (4): Benarkah Perempuan Kurang Akal dan Agama Sehingga Tidak Layak Berpolitik

Sampai saat ini ruang politik di Indonesia masih didominasi dan sangat identik dengan dunia laki-laki. Jabatan politis sebagian besar selalu terdiri dari laki-laki. Hal ini merupakan dampak budaya patriarki yang terbangun di masyarakat. Karakter perempuan diremehkan, dianggap lemah dan tidak akan bisa bekerja laiknya laki-laki.

Adanya kesulitan-kesulitan yang dialami oleh perempuan untuk berkiprah langsung dalam dunia politik, salah satunya disebabkan oleh asumsi tersebut. Perempuan tidak bisa memainkan peran besar dalam dunia politik karena dominasi laki-laki dan membentuk realitas perempuan yang terpinggirkan. Politik kemudian identik dengan kejantanan.

Diantara yang menjadi alasan melemahkan perempuan sehingga perannya sedikit terlihat dalam ranah politik adalah penilaian elit agama yang menganggap perempuan lemah, tidak sesempurna laki-laki. Teks agama yang mengatakan, “Perempuan lemah akal dan agamanya”, dibuat justifikasi untuk memperkuat asumsi melemahkan identitas perempuan.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah bersabda: “Wahai perempuan! Bersedekahlah kamu dan perbanyak istighfar. Karena, aku melihat banyak diantara kalian yang menjadi penghuni neraka”. Seorang perempuan yang cerdas diantara mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apa sebabnya perempuan banyak masuk neraka”? Beliau menjawab: “Kalian banyak mengutuk dan mengingkari (pemberian nikmat dari) suami. Aku tidak melihat kaum yang kurang akal dan agamanya itu lebih banyak dari yang lebih memiliki akal, kecuali dari golongan kalian”.

Perempuan tadi bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah maksud kurang akal dan agama itu”? Rasulullah menjawab: “Maksudnya, persaksian dua orang perempuan sama dengan satu laki-laki. Dan, perempuan tidak beribadah di malam-malam hari, serta tidak berpuasa di bulan Ramadhan (karena haid). Inilah yang dikatakan kekurangan agama”. (HR. Bukhari)

Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Turmudzi, dan beberapa kitab hadits. Imam Bukhari menilai hadits ini shahih.

Ibnu Hajar al ‘Atsqalani dalam Fathul Bari Syarah Syarah Shahih al Bukhari mengatakan, hadits di atas merupakan penjelas ayat al Qur’an (al Baqarah: 282) yang menyatakan “satu saksi laki-laki dan dua saksi perempuan jika tidak ada dua saksi pria”.

Perempuan dipandang kurang dalam hal persaksian dak keagamaan karena sebab biologis maupun psikologis. Para ulama menilai, secara biologis perempuan menjadi tidak stabil karena situasi dan kondisi fisik, seperti haid, nifas dan problem lain saat sedang hamil.

Selain itu, para ulama menilai, kodrat perempuan adalah melahirkan, menyusui dan mengasuh anak di rumah. Sehingga mereka kurang memahami kondisi di luar rumah. Hal inilah yang mempengaruhi persaksian mereka khususnya dalam muamalah.

Dari aspek psikologis, perempuan dinilai lebih emosional. Faktor tersebut, menurut para ulama, sehingga perempuan kurang jernih dalam mengambil keputusan yang lebih strategis dalam urusan publik, lebih-lebih dalam urusan politik dan ekonomi. Alasan ini pula yang mendorong para ulama merumuskan hukum perempuan tidak boleh menjadi pemimpin.

Faktor biologis dan psikologis di atas, dalam term ushul fikih disebut illat (alasan hukum). Konteks kekinian justru membantah kesahihan illat tersebut. Banyak fakta perempuan bisa menjadi pemimpin dan jabatan strategis politik yang lain, dan harus diakui kinerja mereka sepadan, bahkan melebihi prestasi laki-laki.

Perlu diketahui,  teks hadits “Perempuan kurang akal dan agamanya” berada dalam ranah ijtihadi, bisa didiskusikan ulang sesuai konteks mutakhir. Karakter-karakter perempuan yang tadinya dianggap emosional, lemah dan lembut, justru dibutuhkan dalam membuat kebijakan. Karena karakter itu lebih mendorong pada upaya damai dan keharmonisan karena mereka bisa berempati.

 

 

 

 

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

yazir hasan

Meluruskan Kebohongan Yazir Hasan yang Mengatakan KH. Hasyim Asy’ari Mengingkari Perayaan Maulid Nabi

Viral di media sosial masyarakat menggeruduk Masjid Utsman bin Affan, masjid yang berlokasi di Nyalabuh …

rasmus paludan

Rasmus Paludan Bakar Al Quran ; Teroris dan Seharusnya Sikap Umat Islam

Kasus intoleransi terulang lagi. Rasmus Paludan, pemimpin partai sayap kanan Stram Kurs (Garis Keras), membakar …

escortescort