Ikhwanul Muslimin Masih Isolasi Komunitas Muslim Kawasan Maghrebi

Paris Meski telah dilarang di banyak negara Ikhwanul Muslimin IM ternyata masih melakukan upaya upaya untuk membuktikan eksistensi mereka Salah satunya dengan melakukan isolasi komunitas Muslim Salah satunya isolasi IM terhadap komunitas Muslim dari kawasan Maghrebi Algeria Libya Maroko Tunisia dan Mauritania yang saat ini bermukim di Prancis Perempuan dijadikan target utama lantaran sangat signifikan dalam regenerasi umat Muslim Hamid Zanas seorang penulis Aljazair di laman The Arab Weekly dikutip dari laman republika co id Sabtu 26 10 2019 Ia menyebut bahwa IM berupaya menamkan cara pikir patriarki pada lelaki Muslim dari Kawasan Maghrebi Yakni suatu pandangan yang menilai bahwa perempuan itu lemah sehingga harus dituntun dipelihara dan dikontrol agar tak mencoreng kehormatan keluarga Padahal tulis Zanas penilaian semacam itu sudah lama ditinggalkan peradaban Islam Namun IM tetap berupaya menamkam hal itu dengan cara menjadikannya sebagai salah satu bagian dari hukum Islam secara tak langsung dan tak kasat mata Baca Juga 11 Pimpinan Ikhwanul Muslimin Dijatuhi Hukuman Penjara Seumur Hidup di MesirSecara tak kasat mata itu tampak dari upaya IM yang selalu mendukung kebebasan dan hak perempuan untuk menggunakan jilbab Tapi yang mereka lakukan itu semata mata untuk memastikan para perempuan Muslim patuh dan tunduk pada nilai nilai patriarki IM memberikan dukungan kebebasan palsu itu dengan dalih mempertahankan identitas agama dan kultural Kepada kaum perempuan itu sendiri IM berupaya melakukan pendekatan tak langsung untuk meyakinkan bahwa diri mereka inferior Sehingga perempuan akan secara sukarela menyerahkan kemerdekaannya pada laki laki Karena bentuk pengekangan itu tak kasat mata IM tetap mengaku bahwa perjuangan mereka adalah perjuangan mendukung kebebasan perempuan muslim Padahal yang IM maksud dengan kebebasan adalah kondisi di mana perempuan memilih apa yang diinginkan laki laki Di lain sisi upaya integrasi perempuan Muslim dengan budaya Barat juga terus berlangsung Namun IM melabeli mereka yang ingin membebaskan diri dari budaya patriarki sebagai perempuan yang nakal dan melanggar Di saat itulah peran laki laki ayah suami saudara harus dimunculkan untuk membawa para perempuan yang ingin melepaskan diri itu kembali ke tatanan budaya patriarki Meski demikian dalam faktanya memang tak banyak Muslimah dari Afrika Utara yang kini berada di Prancis itu berupaya melawan pengekangan dan membebaskan diri mereka Sebab jika mereka memaksakan diri melakukan itu maka reputasi mereka akan buruk di mata komunitas Muslim Akibatnya Muslimah di Prancis akhirnya tetap berada dalam kungkungan budaya patriarki yang ditanamkan oleh IM Terkadang meski penampilan mereka sudah bisa disesuaikan dengan kebudayaan Barat tapi jauh dalam hatinya nilai nilai patriarki itu masih tertanam Menurut Zanas nilai partiarki yang tertanam pada perempuan Muslim di Prancis bahkan lebih dalam dibandingkan Muslimah di daerah asalnya Afrika Utara Zanaz menduga hal itu lantaran perempuan Muslimah di Prancis terlalu takut untuk kehilangan identitasnya di tengah masyarakat dan budaya Prancis Ketakutan itu juga salah salah satu senjata utama IM untuk menamkan nilai patriarki Mereka mengeksploitasi rasa taku itu sedemikian rupa dengan menyelinap ke dalam keluarga keluarga muslim di Prancis Perempuan pun dijadikan objek utama lantaran pentingnya peran mereka dalam pembentukan keluarga dan pelestarian nilai patriarki Baca Juga Gerebek 19 Kantor Bisnis Pemerintah Mesir Tahan 8 Terduga Ikhwanul MusliminDengan demikian Muslimah pun akhirnya menemukan diri mereka dalam kondisi keterpaksaan untuk menggunakan jilbab atau niqab ataupun burqa Padahal hal semacam itu sangat problematik dalam kehidupan mereka di Prancis Sebagai contoh adalah pada lingkungan sekolah anak anak mereka Semisal ada kelas luar ruang yang mengharuskan pendampingan orang tua maka seorang Muslimah tidak akan bisa menemani anak anak mereka Sebab sekolah di Prancis melarang orang tua yang menggunakan hijab untuk ikut serta Hal ini membuat komunitas Muslim semakin terasing dari kehidupan masyarakat Prancis dan kebudayaan modern yang ada di negeri yang terkenal dengan menara Eiffel nya itu Pada akhirnya tulis Zanas upaya IM untuk melestarikan nilai patriarki yang dibalut agama itu hanyalah sebuah taktik transisi Semua itu hanyalah fase awal yang disebut dengan tamkeen pemberdayaan dan bermuara di fase kedua yakni menjadikan mereka radikal Satu satunya harapan bagi Muslimah di Barat untuk membebaskan diri dari cengkeraman Ikhwanul Muslimin jelas Zanas adalah dengan menyadari pencapaian gerakan gerakan feminis dan gerakan pembebasan perempuan lainnya Di mana gerakan semacam itu berhasil menentang obskurantisme agama dan sosial di negara asal mereka seperti di Tunisia Aljazair dan Maroko

Bagikan Artikel ini:
Baca Juga:  Cegah Corona, Mesir Larang Pertemuan Keagamaan Selama Ramadhan

About Islam Kaffah

Check Also

duduk di kuburan

Saat Ziarah, Bolehkah Duduk di Kuburan?

Meskipun arus puritanisasi  mengklaim ziarah kubur adalah ritual bid’ah, tapi tidak banyak muslim nusantara yang …

shalat ghaib korban bencana

Shalat Ghaib untuk Korban Bencana

Pada tanggal 4 Desember 2021 telah terjadi peningkatan aktifitas vulkanik di gunung semeru. Hal itu …