Menag Yaqut Cholil Qoumas
Menag Yaqut Cholil Qoumas

Ini Klarifikasi dan Transkrip Pernyataan Menag Terkait Suara Adzan dan Gonggongan Anjing

Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) mengklarifikasi wawancara Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait  Surat Edaran Menteri Agama Nomor 05/2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara video wawancara di Balai Serindit, Komplek Gubernuran, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, yang memicu polemik. Dari wawancara itu kemudian viral pernyataan Menag yang membandingkan suara adzan melalui toa di masjid dengan gonggongan anjing.

Staf khusus Menteri Agama Bidang Hubungan Antar Kementerian/Lembaga, TNI-POLRI, Kerukunan dan Toleransi Mohammad Nuruzzaman menegaskan bahwa pernyataan Menag bukan dalam rangka membandingkan antara suara adzan dan gonggongan anjing, melainkan menyatakan pentingnya pengaturan suara kebisingan apapun.

“Menteri Agama sama sekali tidak membandingkan suara adzan dengan suara anjing tapi Menag sedang mencontohkan tentang pentingnya pengaturan kebisingan pengeras suara,,” kata Nuruzzaman.

Berikut transkrip lengkap pernyataan Menag dalam wawancara tersebutdikutip dari keterangan resmi Kementerian Agama via laman Republika.co.id, Minggu (27/2/2022):

“Soal aturan adzan, kita sudah terbitkan surat edaran pengaturan. Kita tidak melarang masjid-mushala menggunakan Toa, tidak. Silakan. Karena kita tahu itu bagian dari syiar agama Islam.

Tetapi ini harus diatur, tentu saja. Diatur bagaimana volume speaker, toanya tidak boleh kencang-kencang, 100 dB maksimal. Diatur kapan mereka bisa mulai menggunakan speaker itu, sebelum adzan dan setelah adzan, bagaimana menggunakan speaker di dalam dan seterusnya. Tidak ada pelarangan. 

Aturan ini dibuat semata-mata hanya untuk membuat masyarakat kita semakin harmonis. Meningkatkan manfaat dan mengurangi mafsadat. Jadi menambah manfaat dan mengurangi ketidakmanfaatan.

Karena kita tahu, misalnya ya di daerah yang mayoritas muslim. Hampir setiap 100 meter, 200 meter itu ada mushala-masjid. Bayangkan kalau kemudian dalam waktu bersamaan mereka semua menyalakan Toa nya di atas, kayak apa. Itu bukan lagi syiar, tapi menjadi gangguan buat sekitarnya.

Kita bayangkan lagi, saya Muslim, saya hidup di lingkungan non-Muslim. Kemudian rumah ibadah saudara-saudara kita non-Muslim itu membunyikan Toa sehari lima kali dengan kenceng-kenceng secara bersamaan, itu rasanya bagaimana?

Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya, menggonggong dalam waktu yang bersamaan, kita ini terganggu nggak? Artinya apa? Bahwa suara-suara ini, apa pun suara itu, harus kita atur supaya tidak menjadi gangguan. Speaker di mushala-masjid silakan dipakai, tetapi tolong diatur agar tidak ada yang merasa terganggu.

Agar niat menggunakan Toa menggunakan speaker sebagai sarana, wasilah untuk melakukan syiar tetap bisa dilaksanakan, tanpa harus mengganggu mereka yang mungkin tidak sama dengan keyakinan kita. Berbeda keyakinan kita harus tetap hargai. “

Bagikan Artikel ini:
Baca Juga:  MUI: SE Aturan Toa di Masjid Sesuai Ijtima Ulama

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Syeikh Yusuf Al Qaradhawi

Innalillahi… Cendekiawan Islam Syeikh Yusuf Al Qaradhawi Wafat

Jakarta – Dunia Islam kembali kehilangan salah satu cendekiawan terbaiknya. Cendekiawan Islam dan Presiden Pendiri …

Masjid di Nigeria diserang teroris bersenjata saat digelar Salat Jumat

Salat Jumat Diserang Teroris Bersenjata di Nigeria, 15 Jamaah Tewas

Abuja- Aksi biadab terjadi di di negara bagian Zamfara, Nigeria barat laut, Jumat (23/9/2022). Sebuah …