Jakarta — Peringatan Isra Mi’raj Kenegaraan yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (15/1/2026) malam, menjadi momentum penguatan pesan keagamaan yang berpadu dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya pendekatan ekoteologi sebagai respons atas krisis ekologis dan bencana yang tengah melanda berbagai daerah di Tanah Air.
Menurut Nasaruddin, tema ekoteologi dipilih karena memiliki makna spiritual sekaligus sosial. Ia menilai, berbagai musibah yang terjadi harus dimaknai bukan semata sebagai penderitaan, melainkan ujian yang mengandung harapan dan peluang perbaikan kualitas hidup masyarakat.
“Setiap ujian selalu diikuti kenaikan kelas. Jangan salah memahami cobaan, karena di baliknya ada sesuatu yang menggembirakan dan mendewasakan,” ujarnya usai acara.
Peringatan Isra Mi’raj Kenegaraan tersebut dihadiri sejumlah pejabat negara, di antaranya Ketua DPD RI dan para menteri. Nasaruddin berharap, pesan yang disampaikan tidak hanya dirasakan jamaah di Masjid Istiqlal, tetapi juga menjangkau masyarakat luas melalui siaran televisi dan platform digital.
Dalam konteks kebangsaan, ia menegaskan bahwa nilai-nilai Isra Mi’raj relevan untuk memperkuat persatuan dan toleransi antarumat beragama. Menurutnya, ajaran agama memiliki bahasa universal, terutama dalam hal menjaga kelestarian lingkungan.
“Semua agama sepakat, lingkungan yang sehat akan melahirkan umat yang sehat,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari perilaku mubazir, seperti boros air dan listrik. Nasaruddin menegaskan bahwa Alquran secara tegas mengecam pemborosan karena bertentangan dengan nilai keseimbangan alam.
Soal toleransi, Nasaruddin menekankan bahwa perbedaan tidak perlu diseragamkan, apalagi dipertentangkan. “Biarlah yang berbeda tetap berbeda, dan yang sama tetap sama. Yang penting, perbedaan tidak membuat kita saling menjauh,” ucapnya.
Ia menggambarkan Indonesia sebagai “lukisan Tuhan” yang indah, dengan keberagaman sebagai kekuatan yang harus dijaga, bukan dirusak.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Hanif Faisol Nurofiq, dalam tausiyahnya menyoroti makna ekologis peristiwa Isra Mi’raj. Ia menyampaikan duka cita atas bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang berdampak pada ribuan warga dan merusak fasilitas publik.
Hanif menegaskan bahwa meningkatnya bencana hidrometeorologi merupakan dampak nyata perubahan iklim yang kini menjadi pola baru, sehingga menuntut kesiapsiagaan, adaptasi, serta penataan ruang yang berkelanjutan.
“Isra dan Miraj adalah perjalanan lintas ruang dan dimensi ciptaan Allah. Dari sana kita belajar betapa tertib, seimbang, dan teraturnya alam semesta,” ujarnya.
Ia menafsirkan Surah Al-Isra ayat 1 tentang “wilayah yang diberkahi” sebagai keberkahan ekologis, bukan hanya spiritual. Menurutnya, kesucian spiritual tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Senada, Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, menyebut Isra Mi’raj sebagai momentum penting untuk memperkuat syiar agama yang membawa pesan kedamaian.
“Peringatan Isra Mi’raj diharapkan mampu menumbuhkan sikap toleran sekaligus memperdalam pemahaman keagamaan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, peristiwa Isra Mi’raj mengajarkan manusia agar tidak semata bergantung pada aspek material, melainkan terus meningkatkan kualitas spiritual dan penghayatan dalam beragama.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah